Pernahkah engku merasa “bodoh”, suatu rasa yang muncul pabila kita mengenang suatu kejadian dalam hidup kita. Apakah itu suatu keputusan yang kita ambil ataupun peristiwa yang tanpa sengaja datang menghampiri kita.
Beberapa saat yang lalu kami dan seorang kawan kami di tempat kerja bercakap-cakap. Kawan kami ini seorang ibu muda, selisih usia kami hanya setahun. Entah karena penat ataupun bosan dengan pekerjaan, kamipun bercakap-cakap.
Dia berkisah perihal pengalaman hidupnya tatkala lepas dari bangku kuliah. Pengalaman hidup dalam mencari pekerjaan. Sebelum bekerja di kantor kami sekarang, dia pernah melamar ke beberapa instansi pemerintah namun selalu tidak beruntung. Nasib akhirnya mengantarkan dirinya ke kota kecil di pedalaman Minangkabau, kota dimana pada saat sekarang ini kami mencari hidup.
Kenapa dia melamar di instansi pemerintah bukan swasta? Maklumlah engku, jurusan kami yakni Jurusan Ilmu Sejarah sama sekali tidak menarik dan tidak mendapat tempat pada perusahaan-perusahaan swasta. Apa yang dapat dilakukan sejarawan? Menghitung laba-rugi? Mengelola perusahaan? Memperhitungkan dampak hukum?
Diapun berkisah, bahwa dia pernah melamar pada salah satu instansi pemerintah. Dimana ketika melamar dia harus melepaskan jilbabnya. Dia memang seorang perempuan berjilbab, bagi kami setiap perempuan kelihatan manis pabila mengenakan jilbab. Terlepas apakah tua ataupun muda.
Dia berhasil melalui beberapa tes, namun nasibnya tidak mujur, gagal di tes terakhir. Sambil tersenyum dia berujar “Ketika itu melepaskan jilbab merupakan keputusan terbodoh dalam hidup uni, sesudah itu tidak pula diterima bekerja..” Continue reading








