Feel Stupid

 Pernahkah engku merasa “bodoh”, suatu rasa yang muncul pabila kita mengenang suatu kejadian dalam hidup kita. Apakah itu suatu keputusan yang kita ambil ataupun peristiwa yang tanpa sengaja datang menghampiri kita.

Beberapa saat yang lalu kami dan seorang kawan kami di tempat kerja bercakap-cakap. Kawan kami ini seorang ibu muda, selisih usia kami hanya setahun. Entah karena penat ataupun bosan dengan pekerjaan, kamipun bercakap-cakap.

Dia berkisah perihal pengalaman hidupnya tatkala lepas dari bangku kuliah. Pengalaman hidup dalam mencari pekerjaan. Sebelum bekerja di kantor kami sekarang, dia pernah melamar ke beberapa instansi pemerintah namun selalu tidak beruntung. Nasib akhirnya mengantarkan dirinya ke kota kecil di pedalaman Minangkabau, kota dimana pada saat sekarang ini kami mencari hidup.

Kenapa dia melamar di instansi pemerintah bukan swasta?  Maklumlah engku, jurusan kami yakni Jurusan Ilmu Sejarah sama sekali tidak menarik dan tidak mendapat tempat pada perusahaan-perusahaan swasta. Apa yang dapat dilakukan sejarawan? Menghitung laba-rugi? Mengelola perusahaan? Memperhitungkan dampak hukum?

Diapun berkisah, bahwa dia pernah melamar pada salah satu instansi pemerintah. Dimana ketika melamar dia harus melepaskan jilbabnya. Dia memang seorang perempuan berjilbab, bagi kami setiap perempuan kelihatan manis pabila mengenakan jilbab. Terlepas apakah tua ataupun muda.

Dia berhasil melalui beberapa tes, namun nasibnya tidak mujur, gagal di tes terakhir. Sambil tersenyum dia berujar “Ketika itu melepaskan jilbab merupakan keputusan terbodoh dalam hidup uni, sesudah itu tidak pula diterima bekerja..” Continue reading

view in early morning


Nature in the morning

Have you seen the view of the nature in the morning. I has, not often but a few time. Very amazing, its beautiful. Remembering us how great the creator of Allah, The Great Creator.

The land, tree, ricefield, dew, water, air, cloud, light, atc. Like touching by an angel..

Yes, in the morning the angels come to earth, give their blessing to human, the human who has praying in the fajar.

______________________________

this picture I take on Nagari Tabek Patah in Luhak Tanah Datar. near from Batusangkar & Pagaruyuang.

this located in West Sumatera, Indonesia.

Graduation Day

 Hari Kelulusan

Hari Sabtu tanggal 26 bulan Mei tahun 2012 merupakan hari bersejarah bagi anak-anak kelas tiga SMU, SMK, ataupun sekolah yang setingkat. Pada hari tersebut diumumkan hasil Ujian Akhir Nasional serentak di seluruh Indonesia. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana pengumuman kelulusan diumumkan pada pagi hari oleh pihak sekolah. Maka untuk kali ini pengumuman kelulusan diumumkan pada petang hari. Hal ini bertujuan guna menghindari para siswa melakukan coret-mencoret baju. Suatu kebiasaan yang telah berlangsung semenjak berpuluh tahun yang lalu.

Rupanya hal ini cukup mempan bagi beberapa daerah. Sebab hal ini menyebabkan para siswa menjadi malas untuk mencoret baju disebabkan hari telah beranjak petang menuju senja. Namun yang namanya anak remaja, tetap saja ada yang tangka. Beberap orang anak lelaki terlihat telah mencoret-coret baju mereka.

Kejadiaan semacam itu tentunya berbeda-beda keadaannya pada masing-masing daerah (Propinsi, Kota, Kabupaten, Kecamatan, Nagari-desa, ataupun kampung). Pada daerah atau kota lain beberapa orang anak-anak rupanya keras hati mereka untuk mencoret-coret baju sebagai tanda merayakan kelulusan. Mulai dari yang sekedar mencoret baju hingga melakukan arak-arakan di labuh besar dengan menggunakan sepeda motor. Berlagak bak raja jalanan, begitulah kira-kira..

Memang begitulah dunia anak muda engku, kitapun dahulu pernah mengalaminya. Pada masa dahulu apa yang kita perbuat terasa benar semuanya, namun pabila sekarang kita kembali memandang ke masa lalu. Tentunya berbeda penilaian kita, maklumlah engku, pengalaman hidup makin luas, dan isi kepalapun telah bertambah. Continue reading

What is Indonesia

Indonesia tidak Hanya Jakarta

Sudah menjadi kelaziman di Indonesia pada saat sekarang ini menjadikan Jakarta sebagai acuan. Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya populer di Indonesia. Segala peristiwa ataupun kejadian yang menimpa Jakarta menjadi masalah nasional di Indonesia. Mulai dari banjir, macet, kerusuhan, penggusuran, ataupun kriminalitas seperti keganasan gank motor beberapa waktu yang silam.

Tidak hanya itu, karena pusat penyiaran berada di Jakarta. Dimana seluruh televisi nasional milik swasta mengudara dari Jakarta maka pola fikir, sudut pandang (persepsi), ataupun standar nilai yang dipakai ialah standar nilai Jakarta. Perlu juga diingat bahwa segala macam drama televisi atau di Indonesia lazim disebut dengan sineteron mengambil tempat kejadian (setting) di daerah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Begitu Super Powernya Daerah Kota Istimewa Jakarta di Indonesia sehingga kebanyakan masyarakat di daerah kehilangan kepercayaan diri jika berhadapan dengan orang-orang dari Jakarta.

Televisi memanglah efektif untuk perkara propaganda. Karena dengan perantaraan media ini, secara perlahan-lahan rakyat di daerah akan menjadikan gaya hidup Jakarta sebagai acuan. Contohnya ialah pemakaian “bahasa”. Bahasa gaul yang dipakai oleh kebanyakan anak-anak muda Kota Jabodetabek dan menyebar ke beberapa kota besar lainnya di Pulau Jawa telah menjadi standar dari pergaulan anak muda zaman sekarang. Stigma yang melekat pada bahasa ini ialah bahwa pemakainya merupakan anak-anak muda yang tidak ketinggalan zaman. Menggunakan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar merupakan perkara yang memalukan. Sehingga akan sangat jaranglah ditemukan anak-anak muda yang mau memakai Bahasa Indonesia dengan baik di Jakarta. Bahasa ini telah masuk ke rumah-rumah, dipakai tidak hanya pergaulan antara anak muda melainkan juga dengan orang tua ataupun kerabat dekat.

Hal inilah yang menyebar ke daerah-daerah. Dengan logat yang patah-patah dan masih kental nuansa kedaerahannya, orang-orang kampung di daerah-daerah mencoba dengan sekuat tenaga untuk meniru gaya bahasa anak-anak gaul di Jakarta. Subhanallah.. hasilnya ialah serupa anak kecil yang mencoba untuk bercakap dengan orang tuanya. Sakarek ula, sakarek baluik.. masih dapat diterima namun sayangnya bahasa yang diucapkan tidak jelas di telinga.

Begitu juga gaya berpakaian dan gaya hidup. Anak-anak di daerah akan merasa bangga jika berhasil meniru cara berpakaian anak-anak gaul di Jakarta. Anak-anak kampung yang masih dungu, ditambah kurangnya didikan dari orang tua, telah menjadikan mereka budak dari hedonisme yang dikembangkan Jakarta. Continue reading

Bahasa Indonesia

Bahasa Persatuan

Cobalah engku renungkan, betapa hebatnya dampak dari perkembangan Bahasa Melayu di Indonesia. Bahasa yang kemudian secara resmi bernama “Bahasa Indonesia” telah mempersatukan anak-anak negeri dari sudut paling timur hingga sudut paling barat dari negara ini, Indonesia. Bahasa Melayu atau sekarang kita sebut sebagai Bahasa Indonesia telah menjembatani beragam perbedaan terutama sekali dalam bercakap-cakap antar pemeluk kebudayaan yang jamak di Indonesia. Tanpa adanya bahasa ini, niscaya Indonesia akan terpecah-pecah dan kacau-balau.

Hal yang sama tampaknya berlainan di negara jiran kita yang juga menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di Negara mereka. Hal ini karena minat dari generasi muda mereka sangat rendah kepada Bahasa Melayu. Mereka lebih suka berbahasa Inggris ataupun bahasa lain yang menurut mereka lebih dibutuhkan dalam pergaulan.

Bahasa Indonesia pernah menjadi sangat digemari dengan banyaknya negara yang membuka pelajaran Bahasa Indonesia. Yang paling mengejutkan ialah pada bulan Desember tahun 2007, Vietnam menyatakan secara resmi bahwa Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi di negara mereka.

Namun saat ini bahasa ini sedang turun pamor, banyak penyebabnya. Diantaranya ialah: Continue reading

Manusia Welas Asih..?!?!?!?!?

 Si Besar Kepala

 

Setelah dengan HAM (Hak Asasi Manusia), sekarang Islam dihadapkan dengan militerisme. Bagaimana kisahnya engku?

Berawal pada petang hari Ahad tanggal 20 Mei 2012 kami membuka akun facebook. Kebiasaan kami ialah bukan meratap-ratap menulis status melainkan sekedar memeriksa apakah ada pesan masuk, kemudian pemberitahuan, selanjutnya pernyataan permintaan perkawanan (yang ini termasuk jarang kami dapati) dan terakhir memeriksa kabar kawan-kawan melalui status mereka di facebook.

Ketika sedang khusyuk-khusyuknya memeriksa status kawan-kawan, kami tertarik terhadap salah satu postingan yang kawan kami ikut ditag. Sebenarnya kami telah dapat memperkirakan apa gerangan isi postingan tersebut. Namun untuk menuntaskan rasa ingin tahu kami baca juga akhirnya. Isinya ialah FPI vs Lady Gaga. Dapatkah engku menerka, pambahasan seperti apakah yang kami baca pada postingan ini?

Hm.. bagaimana baiknya kami menyampaikannya..

Status yang lebih menyerupai postingan ini dibuat oleh seorang yang berpendidikan. Dia merupakan seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi agama di Kota Padang. Cerdas orangnya sebab dia juga memiliki sebuah blog yang selalu diupdatenya tiap hari. Lagipula kalau tak cerdas, mana dapat dia menjadi seorang dosen, bukankah begitu engku? Continue reading

Catatan Seorang Kawan dari Malaysia

Gambaran Awal Tentang Malaysia

 

Seorang kawan kami baru saja pulang bertandang dari Malaysia. Beliau ini ke Malaysia bersama beberapa orang kawan dan atasannya di kantor tempat beliau bekerja. Ini merupakan pengalaman pertamanya ke Malaysia, cobalah tuan, puan, engku, dan encik simak kisahnya. Bagi sebagian dari engku mungkin bukan cerita baru, tapi cobalah engku simak jua. Sebab tak ada salahnya kita mendengar kisah yang sama dari orang lain. Setidaknya kita dapat memahami sudut pandang dirinya.

Malaysia, sebagian kaum nasionalis sekuler sangat benci mendengar nama negara yang satu ini. Maklumlah, di negara ini (Indonesia) segala hasutan, fitnah dan persengkongkolan sangat mudah sekali ditemui. “Negara ini negara bebas” kata meraka. Sudah menjadi kelaziman di negara ini, sudut pandang orang “Jakarta” menjadi sudut pandang nasional. Seolah-olah Indonesia ialah Jakarta.

Namun tidak demikian bagi kami masyarakat di daerah, kami hidup berbeda dengan cara orang Jakarta hidup. Kehidupan yang kami jalani tidaklah sama, engku. Berbeda dengan kalian yang berada di pusat dari Republik ini. Bagi kebanyakan dari kami yang memahami adat istiadat dan sejarah negeri kami, tidak semudah itu bagi kami mengamini ucapan kalian. Kecuali bagi kebanyakan anak muda Minangkabau sekarang yang telah terserabut dari akar budaya leluhurnya. Mereka akan terpengaruh dengan kalian. Kebanyakan generasi muda Minangkabau sekarang dibesarkan sebagai orang Jakarta, bukan sebagai orang Minangkabau. Hidup sebagai orang Minangkabau telah menjadi minoritas di Alam Minangkabau yang katanya bertuah ini.

Malaysia adalah sebuah negara Melayu yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negaranya. Berlainan dengan Indonesia tentunya. Wilayahnya terbagi dua, Malaysia Timur terletak di bagian utara Pulau Borneo (Kalimantan) sedangkan Malaysia Barat terletak di ujung Tanah Semenanjung atau yang lebih dikenal dengan Semenanjung Malaya. Penduduknya beraneka ragam, tidak semuanya Melayu melainkan terdapat juga beberapa orang Cina dan India. Perbandingan jumlah penduduk Melayu dengan Non Melayu ialah sekitar 60% untuk Melayu, selebihnya ialah etnis lain.

Keadaan semacam ini perna menimbulkan ketegangan dalam Negara Malaysia. Kebanyakan orang Cina disini menunjukkan identitas Kecinaan mereka, berbeda keadaannya dengan Indonesia. Hampir semua orang Cina fasih berbahasa negeri mereka. Dalam keseharian mereka dengan keluarga, mereka bercakap berbahasa Cina, kemudian dilanjutkan dengan Inggris dan baru kemudian Melayu. Continue reading

Perjalanan Ke Bonjol

Melancong Ke Nagari Bonjo[1]

(Negeri Bonjol)

Museum Tuanku Imam Bonjol

Apa yang terbayang dibenak tuan dan engku pabila kami menyebut nama Bonjo atau Bonjol? Tentunya Tuanku Imam Bonjol sang pahlawan Perang Paderi. Tidak banyak yang tahu, terutama orang-orang yang berasal dari luar Minangkabau bahwa nama Bonjol sesungguhnya ialah nama salah satu negeri di pedalaman Minangkabau. Nama negeri ini dinisbatkan pada Peto Syarif yang menjadi Imam atau pemuka agama yang pada saat itu merupakan pucuk tertinggi pimpinan politik di negeri tersebut. Peto Syarif ialah nama aslinya sedangkan Imam Bonjol merupakan nama gelar yang disematkan kepada dirinya.

Negeri ini dilalui oleh Jalan Lintas Sumatera, yakni jalan yang dilalui pabila tuan hendak menuju Sumatera Utara. Terletak 50 km sebelah utara Kota Bukittinggi. Dari Bukittinggi tuan akan melalui jalan berliku membelah Pegunungan Bukit Barisan. Hati-hati tuan, akan jarang tuan temui jalan yang lurus dan datar, namanya juga pegunungan. Namun pemandangan yang disajikan sepadan dengan kesulitan yang tuan hadapi. Berhentilah agak sejenak pada beberapa titik untuk menikmati keindahan pemandangan Alam Minangkabau. Tuan takkan menyesal,..

Di Nagari Bonjo atau Bonjol ini terdapat sebuah museum yang dibuat untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam (begitu biasa beliau dipanggil) dalam menegakkan Hukum Syari’at di Tanah Minangkabau. terletak pada lapangan yang cukup luas. Pada kawasan ini juga terdapat sebuah tugu berbentuk bola dunia sebagai penanda batas garis khatulistiwa. Negeri Bonjol dilalui oleh garis khayal khatulistiwa atau equator bahasa Inggrisnya.

Di depan bangunan museum akan tuan temui patung Tuanku Imam sedang menunggang kuda. Pada tugu tersebut tertulis “MONUMEN TUANKU IMAM BONJOL (PETO SYARIF) 1772-1864. PEMIMPIN PERANG PADERI 1821-1837”

Tugu Tuanku Imam Bonjol

Cukup mengherankan juga bahwa di negeri ini terdapat patung Tuanku Imam sebab mengingat dalam ajaran Islam sama sekali tidak diperbolehkan membuat patung. Apakah ini suatu pertanda bahwa tingkat pemahaman Agama Islam pada orang Minangkabau semakin menipis pada masa sekarang? Mungkin juga tidak, sebab tujuan dibuat patung ini tentunya berbeda pula. Apakah benar untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam semata? Atau ada alasan lain oleh Pemerintah Daerah? Wallahu’alam..

Keadaan taman dan museum Tuanku Imam boleh dikatakan tidak terawat disaat kami mengunjungi tempat ini. Tuan tengok sendiri pada tugu (monumen) Tuanku Imam, tak patut pula kami terangkan bukan? Museum sedang keadaan tertutup ketika kami sampai di sana, padahal saat itu hari Ahad, hari libur. Keadaan kebersihan juga kurang terjaga, terdapat beberapa kerusakan pada bangunan gedung museum.

Namun yang sangat memprihatinkan ialah kawasan ini juga dijadikan sebagai tempat memadu kasih bagi sebagian anak muda. Walaupun sejauh pemandangan kami tidak melihat adanya hukum syari’at (kalau boleh dikatakan berpacaran tidak bertentangan dengan Hukum Syari’at) yang dilanggar oleh pasangan kekasih yang sedang memadu cinta di kawasan ini. Namun hal tersebut tak urung membuat kami mencela dalam hati. Bukankah ini Negerinya Tuanku Imam Sang Pahlawan Syari’at Islam, terlebih kali ini kawasan museum beliau pula..! Continue reading

Harta di Ujung Pelangi

Ujung Pelangi

 

 

Pernahkah engku melihat pelangi, tentunya pernah bukan. Melihat pelangi merupakan perkara yang langka, sebab taK muncul tiap harinya. Munculnya pabila hujan turun di kala cuaca cerah atau kata orang kampung bilang ujan paneh. Tidak selalu ada ujan panas, kadang-kadang.

Tahukah engku dalam masyarakat Asia Timur dikenal sebuah legenda yang bernama Siluman Rubah Berekor Sembilan. Konon menurut yang ampunya cerita, pabila hujan dikala hari cerah merupakan suatu pertanda Siluman Rubah sedang menangis. Sungguh cerita rakyat yang menarik.

Namun bukan perkara cerita rakyat dari Asia Timur yang hendak kami bahas pada tulisan kita kali ini. Kami akan mencoba membagi salah satu pengalaman hidup yang jarang kami jumpai. Yakni melihat ujung pelangi, pernahkah engku melihat ujung pelangi?

Pernah ketika kanak-kanak dahulu kami mendapat sebuah cerita dari sebuah majalah kanak-kanak, kalau tak salah nama majalah tersebut ialah “BoBo..”. Ceritanya tentang seorang pemuda dari Negeri Cina yang terkenal akan kepandirannya. Kami tidak begitu dapat mengingat dengan baik kisah tersebut, namun kira-kira begini kisahnya:

Pada suatu masa di Negeri Cina, hiduplah seorang pemuda yang amat sederhana. Selain sederhana dia juga pandir. Pada suatu ketika dia melihat kawannya yang pulang dari merantau, rupanya hidupnya telah makmur dengan harta. Seketika bertanyalah Si Pandir ini kepada kawannya, perihal harta kekayaan yang didapatnya. Sang kawan yang telah maklum akan keadaan Si Pandir, seketika muncul niat usil dalam fikirannya, diapun berkata “Segala harta yang ada pada ku ini, ku dapat dengan mencari emas yang terdapat di ujung pelangi.” Continue reading

Resensi Novel

Judul buku                          : Negeri van Oranje

Pengarang                          : Wahyudiningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, & Rizki Pandu Permana.

Penerbit                              : Bentang Pustaka Populer

Tmpat Terbit                      : Jakarta

Tahun Terbit                      : 2009

Tebal                                     : 478 + x

Keseluruhan cerita mengambil tempat di Negeri Belanda sebagai tempat berjalannya cerita, negeri dimana kelima mahasiswa ini menuntut ilmu. Mengisahkan perjalanan hidup lima orang mahasiswa Indonesia di negeri orang. Novel ini memperlihatkan sisi humanis dari setiap mahasiswa, ternyata tingkat intelektual tidak selalu berbanding lurus dengan akhlak atau moral seseorang…hehehe..:)

Mengisahkan mengenai persahabatan yang terjalin diantara ke lima mahasiswa rantau yang ada di Belanda. Kisah persahabatan mereka terjalin secara tidak sengaja ketika mereka berlima terdampar di Stasiun Amersfort  dikala musim dingin melanda Belanda. Banjar, Wicak, Daus, Lintang, dan Geri kelima makhluk ajaib ini dipertemukan oleh candu mereka kepada rokok. Kecuali Lintang tentunya, seorang perempuan bertipe gadis lugu, ceria, dan kekanakan yang sangat jarang kita temui di kehidupan nyata. Hanya keberuntungan lah yang dapat mempertemukan kita dengan gadis seperti Lintang. Continue reading