Minangkabau Dar Es Salam

Adat & Syari’at

 

Awal abad ke-20

Masih terngiang di kepala saya semasa kuliah dulu menemukan serangkaian kata yang berbunyi: di Jawa, Islam di Jawakan sedangkan di Minangkabau, Minangkabau di Islamkan. Hal tersebut membuat saya merasa bangga dengan identitas keminangkabauan yang melekat dalam diri saya. Sekaligus memandang dengan iba orang Jawa yang tanpa mereka sadari telah mencampurkan yang haq dengan yang bathil,: mengaku beragama Islam, tapi Ratu Pantai Selatan di sembah juga.. begitulah bunyi penyesalan yang keluar dari mulut beberapa orang Minang yang berhasil saya rekam dalam ingatan yang lemah ini.

Namun seiriing dengan berjalannya waktu, sayapun menyumpai beberapa gugatan (sebagian besar bercampur dengan kekurang ajaran) dari anak Minangkabau sendiri terhadap adatnya, adat nan ndak lakang dek paneh, lapuakk dek ujan.. menjadi bahan cemoohan bagi mereka. Ada yang menganggap tidak cocok dengan perkembagan zaman sehingga menjadi tempat pelampiasan bagi manusia berjiwa kerdil yang kalah dalam menghadapi kerasnya tantangan hidup. Atau menjadi sasaran kepongahan bagi mereka yang merasa sukses dalam kehidupan, bak kato kacang lupo jo kuliknyo. Ada juga yang idealis, menganggap adat bertentangan dengan perkembangan zaman yang menunjukkan arah yang semakin patrilineal. Serta pertentangan dengan agama, dimana yang selalu diulang ialah sistem Matrilineal yang dianggap bertentangan dengan Islam. Hal ini sebenarya menandakan bahwa mereka hanyalah orang-orang yang baru belajar dan selalu bergairah dengan pelajarannya sehingga mendorong mereka untuk bersempit hati dalam memandang segala sesuatu. Seperti kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya.. dimana orang-orang yang pengetahuan dan pemahaman mereka masih sangat minim dalam perkara yang mereka perdebatkan, mereka inilah yang paring keras suaranya. Sedangkan orang-orang yang baiisi memutuskan untuk diam karena tidak ada guna berbicara (sekedar menjelaskan atau menetralisir) kepada orang-orang berjiwa sempit seperti ini karena nanti bisa mambaliaknyo beko ka awak.

Sebelum dan semasa Paderi, sangatlah tajam pertentangan antara Agama dan Adat, puncaknya tentu saja Gerakan Paderi yang dipimpin oleh Harimau Nan Salapan. Kemudian setelah Perang Paderi yang amat menyengsarakan kedua belah pihak maka Islam dan Adat telah diertemukan di Bukit Marapalam, pertemuan ini mencapai kata sepakat yang termaktub dalam semboyan adat: Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah. Namun rupanya hal ini belumlah memuaskan bagi sebagian pihak, bahkan hingga kini adat dan agama masih dipertentangkan. Sejauh yang saya amati, orang-orang yang selalu mempermasalahkan antara adat dan agama dapat dibagi ke dalam beberapa ciri-ciri, diantaranya:

1. Orang-orang yang baru berkenalan dengan ide-ide baru seperti humanis, feminis, liberalis, dan sejenisnya. Mereka menggugat peranan ninik mamak yang menurut mereka sama seperti rezim diktator, atau mengenai nasib perempuan ditengah adat matrilineal yang katanya memihak kepada Kaum Hawa. Mereka biasanya ialah para idealis yang hidup dalam dunianya sendiri, manutup diri terhadap dunia luar, dan menafikan bahwa kehidupan tidak hanya sebatas lapangan bola. Kebanyakan dari mereka ialah kaum muda, para intelektual dan akademisi.

2. Berikutnya ialah orang yang baru belajar ilmu agama, baru kenal kulitnya telah membuat mereka bergejolak. Sebenarnya hal ini wajar karena kelompok pertama sama dengan mereka. Kelompok kedua ini masih idealis, memandang curiga sistim matrilineal karena tidak mengikut kepada nabi, mencemooh hukum waris yang bertentangan dengan syari’at, dan memandang rendah berbagai ritual adat yang masih bertentangan dengan hukum agama.

Kedua golongan tersebut diatas ialah kaum terdidik, sayangnya mereka hanya faham dunia mereka saja. Pengetahuan mereka akan adat masih kurang, tahu sedikit telah membuat mereka sombong, menganggap tahu segalanya. Padahal dalam ranah intelektual sangat diharamkan menjudge terhadap suatu persoalan yang belum dipahami betul, seperti kata Ranke (seorang sejarawan abad-19) jangan melihat dari atas geladak kapal, turunlah dari kapal dan pelajari masyarakatnya. Mereka juga terbuai dengan pujian sebagai tokoh intelektual, tokoh muda, cendikiawan, dan beragam sanjungan sejenis lainnya.

3. Selanjutnya ialah orang yang dangkal fikirannya
Orang pandai ini sangat suka sekali mengeluarkan pernyataan yang tak patut (tanpa tandeng aling-aling: kata orang moderen) serta tidak memiliki prinsip lamak di awak katuju di urang, ndak ado raso jo pareso. Biasanya ialah generasi muda yang masih dikuasai jiwa muda yang tidak mendapat pengajaran dari mamaknya serta tidak pernah mangaji ka surau. Inilah yang kurang disebagian besar generasi muda sekarang (terutama generasi muda Minangkabau). Pantas mereka berdiri menentang adat, mencemooh berbagai ritual adat karena menurut mereka menyusahkan dan tidak praktis. Saya tidak mendapat mebayangkan bagaimana nasib Minangkabau dimasa datang kalau generasi mudanya seperti ini. Saya tidak bermaksud menyalahkan mereka, akan tetapi ketiadaannya pewarisan nilai-nilai budaya, keluhuran sikap dan perilaku, kearifan dalam bertutur, atau tenggang ma nenggang sama sekali tidak ada. Jaman telah berubah bukanlah alasan, melainkan pelarian dari orang yang gagal dalam pengkaderan budaya.

Saya bukanlah seorang penghulu yang ahli adat atau seorang Ulama Fakih yang faham Hukum Syari’at. Tapi sejauh yang saya amati, memang ada beberapa kebiasaan masyarakat kita yang masih mempertahankan kebiasaan lama yang merupakan pewarisan dari masyarakat pra Islam. Akan tetapi, hampir sebagian besar aturan ataupun ritual adat sejalan dengan hukum syari’at. Hanya orang-orang nan mancari pakaro sajalah yang berkoar-koar mengenai Adat Minangkabau yang masih jahiliah. Kalau Tuan-tuan berniat suci ingin menyelesaikan nan kusut maka saya sarankan tuan-tua:

Pelajarilah dulu hukum Adat Minangkabau, pahami sejarah, telaah semuanya. Ini tentunya bukanlah perkara mudah karena mengingat budaya Minangkabau yang tiap daerahnya memiliki karakteristik tersendiri.

Setelah itu pelajari dengan benar hukum Syari’at, ingat masing-masing mazhab memiliki pendirian yang berbeda, sejarah yang berbeda, kitab hukum-hukum yang berbeda. Karena mereka memiliki perbedaan dalam menafsirkan Al Qur’an dan Hadist Nabi. Kitab-kitab hukum fikih telah beratus yang dikarang ulama semenjak zaman pertengahan. Silahkan pilih kemana tuan yang condong. Tapi satuhal yang saya ingatkan kepada tuan, anjiang jo kuciang ndak akan pernah bisa ba baua, jika Tuan seorang Liberalis, lupakan saja semuanya karena hukum adat yang konservatif tidak akan pernah bertemu dengan Islam Liberal. Yang ada ialah Islam Liberal memanfaatkan kearifan lokal demi menyebarkan kepercayaan dan ideologi mereka. Menurut saya hal tersebut merupakan cara-cara orang kalah (pecundang), pengecut yang suka berbicara dibelakang punggung.

Setelah tuan dalami kedua pokok ajaran tersebut (agama & adat) baru tuan boleh bercakap perihal adat dan agama di Minangkabau. Janganlah tuan,.. tuan baru belajar agama adat kemarin petang, baru belajar agama pagi perak siang tadi, sekarang seluruh ahli adat dan agama di Alam Minangkabau pula yang tuan kuliahi perkara hubungan agama dan adat di Minangkabau. Tirulah ilmu padi, samakiin barisi samakin marunduak.