Bukittinggi & Agam

Bukiktinggi Koto Rang Agam

Bukik Tinggi Koto Rang Agam, begitulah bunyi sepenggal sair lagu Elly Kasim, penyanyi kebanggan Rang Minang. Makna lagunya sungguh menggambarkan realitas yang ada di daerah ini. Secara administratif Bukittinggi dan Agam merupakan wilayah Tingkat Dua yang berbeda dan sejajar namun secara sosial-budaya kedua daerah ini sebenarnya satu. Wilayah Kabupaten Agam sekarang, sebagian besar merupakan wilayah dari Luhak Agam, kecuali Tiku[1] dan beberapa daerah lainnya yang terletak arah ke Lubuk Basung serta Nagari Pandai Sikek yang pada saat sekarang ini berada dalam wilayah Kabupaten Tanah Data. Sedangkan Bukit Tinggi yang dulunya bernama Nagari Kurai Limo Jorong[2] merupakan bagian dari Luhak Agam. Makanya orang Bukittinggi juga disebut orang Agam karena secara kultural Bukittinggi merupakan bagian dari Luhak Agam, salah satu dari tiga Luhak yang diyakini sebagai daerah asal orang Minangkabau. Bung Hatta menulis diawal Memoirnya, kira-kira begini bunyi kutipannya:

Ketika semasa kecil dulu aku bermain-main di Pasa Ateh, aku mendengar para pedagang disana berujar, “disana”, sambil menunjuk ke kantor Residen Agam, “Tuan Kompeni itu yang berkuasa, akan tetapi di sini” sambil menunjuk ke Pasa Ateh, “kami orang Agam yang berkuasa”.

Begitulah, hingga kini di Kota Bukittinggi, orang Agamlah yang meramaikan. Banyak diantara mereka ialah pedagang, pegawai, atau orang-orang dari berbagai profesi lainnya yang beraktifitas di Bukittinggi berasal dari nagari (desa) sekitar Agam Timur. Kami orang Minang menyebut orang-orang semacam ini dengan Marantau Pipik. Yakni orang-orang yang mencari hidup di daerah lain namun tinggalnya tidak di tempat mereka mencari hidup. Kira-kira persis seperti orang-orang yang bekerja di Jakarta namun tinggalnya di Depok, Bekasi, atau Tanggerang. Namun bedanya ialah mereka masih satu asal-usul yakni sama-sama orang Agam.

Jadi janganlah heran, pabila ditanya, orang Agam akan mengatakan kalau mereka orang Bukittinggi. Karena mereka memang dibesarkan di kota ini. Mereka cukup mengetahui seluk-beluk kota ini. Ikatan batin diantara mereka memang sudah cukup besar, Bukik Tinggi Koto Rang Agam. Kami yakin banyak dari orang Kurai yang keberatan, tapi apa hendak dikata, karena Orang Agam yakin dari dahulu Bukik Tinggi merupakan milik orang Agam. Bukik Tinggi merupakan ibu negeri Kabupaten Agam sebelum dipindahkan ke Lubukbasung.[3] Kantor Bupatinya berada tepat di depan Jam Gadang yang sekarang lahan tersebut sudah berubah fungsi menjadi “Bukittinggi Plaza”. Kontroluer Agam Tua dimasa Belanda serta Tuan Asisten Residen berkantor di kota itu.

Berkembangnya ekonomi di Bukittinggi juga tak terlepas dari peran orang Agam, berbagai produk industri kecil seperti souvenir yang dijual di depan Jam Gadang, dibuat oleh penduduk Agam. Produk Konveksi seperti mukena, baju, celana, bordiran, tenunan juga berasal dari Agam.[4] Nasi Kapau yang terkenal, berasal dari Agam, Kerupuk Jangek, Kerupuk Kamang, dan berbagai macam panganan lainnya juga berasal dari Agam. Masih banyak lagi produk home industrie yang dipasarkan di Bukittinggi berasal dari Agam. Begitu juga dengan sekolah-sekolah yang terdapat di Bukittinggi, cukup banyak siswanya yang berasal dari Agam. Bukan hendak menggadang-gadangkan Agam, namun untuk membuka mata hati kita orang Agam, hendaknya bersatulah. Jangan karena berbeda wilayah administratif kita terpecah-belah dan saling mengedepankan ke kami-an kita.

Dimasa Belanda Residensi Agam berpusat di Fort de Kock, sama sekali tidak ada dikhotomi antara yang di de Kock dengan daerah lainnya di Agam. Hanya saja kita, generasi sekarang sangat kurang memahami dan mengenali sejarah tanah leluhur kita. Sehingga banyak diantara kita sekarang ini bersikap kagadang-gadangan. Banyak dari anak Agam yang mencintai Bukittinggi layaknya mereka mencintai kampung mereka sendiri. Jadi usahlah difikirkan, kita ini Rang Agam. Harap dipisahkan antara Luhak Agam dengan Kabupaten Agam. Karena keduanya berbeda. Kabupaten Agam, tidak termasuk Bukittinggi & Pandai Sikek.[5] Namun jika berbicara Luhak Agam maka Bukittinggi dan Pandai Sikek merupakan bagian darinya.

Pelajari dan dalami sejarah tanah kelahiran kita, karena sekarang banyak anak-anak muda berani bercakap perkara adat & agama. Namun pada dasarnya mereka tidak memiliki pengetahuan pada keduanya, tapi sayangnya suara mereka pula yang paling keras.…

Sumber Foto: Internet


[1] Dari sudut pandang adat/budaya, Tiku merupakan bagian dari Rantau Pariaman. Hingga kini masih terdengar orang-orang menyebut “Tiku Pariaman”.

[2] Penduduk Luhak Agam lebih mengenal Bukittinggi dengan sebutan Pasa Kurai,tentunya di masa Belanda. Orang tua-tua di Agam masih sering menyebut Bukittinggi dengan sebutan Pasa Kurai. Beda dengan Belanda yang lebih mengenal Bukittinggi dengan nama Fort de Kock. Salah seorang Jendral Belanda masa Paderi. Bukittinggi mulai ditaruko oleh Belanda masa Paderi, dimana mereka mendirikan benteng untuk menghadapi Pejuang Paderi.

[3] Ibukota Kabupaten Agam dipindahkan pada tahun 1991 ke Lubukbasung.

[4] Nagari Pandai Sikek yang terkenal dengan kerjaninan songketnya sebenarnya berasal dari Luhak Agam, hanya saja dalam administrasi modern pada masa sekarang ini Pandai Sikek dimasukkan ke dalam Kabupaten Tanah Datar. Entah apa penyebabnya di masa lalu…

[5] Salah seorang tokoh Gerakan Paderi yakni Haji Miskin berasal dari Pandai Sikek Luhak Agam. Dalam berbagai literartur selalu dikedepankan “Tiga Orang Haji pulang dari Mekah, Haji Sumaniak dari Luhak Tanah Data, Haji Miskin dari Luhak Agam, dan Haji Piobang dari Luhak Limopuluah Koto”

4 thoughts on “Bukittinggi & Agam

    1. Tampaknyo ndak bisa do sanak, soalnyo sabalum tahun 1990 ibu kota Kabupaten Agam ado di BUkittinggi, kantuanyo tu di lokasi Bukittinggi Plaza kini. Kini untuak mamparmudah urusan administrasi jo daerah Agam Timur (nan dimukasuik an Agam Timur iolah daerah di Sakitar Bukittinggi) ado kantua penghubung nan talatak di Jirek. Jirek talatak antaro Simpang Tembok jo Bukik Ambacang.
      Danga-danga kini ado niek untuk marealisasikan Perpu tentang perluas Kota Bukittinggi tapi nan ka dimasuak-an ka daerah Kota Bukittinggi hanyo beberapa nagari c nyo. jadi indak sadonyo doh. ntah ba aa kini kabanyo tu sanak.

    1. Betul tuan, memang belum terealisasikan. Banyak kendala, terutama dalam diri masyarakat di nagari-nagari yang hendak di masukkan ke Bukittinggi. Sedangkan di lain sisi, para petinggi sibuk dengan kepentingan mereka.
      Kalau menurut pendapat kami yang daif ini, sebaiknya seluruh wilayah Agam Timur atau dulu disebut dengan Agam Tuo dimasukkan ke dalam wilayah kota. Hal ini karena mengingat sisi budaya dan sejarah.
      Namun bagi kebanyakan orang sekarang yang dangkal pemahaman adat dan sejarah perihal negerinya mengabaikan aspek tersebut. Orang Minang sekarang telah menjadi asing di negerinya sendiri tuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s