Bercakap kepada si Pekak

Akhir-akhir ini semakin bertambah rasa kagum ku kepada para juru dakwah yang telah menyebarkan pengetahuan ajaran Islam kepada orang-orang. Betapa tidak? Beragam macamnya jenis manusia yang dihadapi, tentunya ini semua membutuhkan kesabaran yang besar bagi para juru dakwah tersebut. Walau ada juga yang habis kesabaran diri dan kemudian memilih sikap frontal dalam menghadapi orang-orang yang hatinya telah ditawan oleh syetan ini.

Hal ini bermula dengan keanehan ku melihat seorang kawan yang kesal dan marah jika diajak untuk shalat. Awalnya aku kaget karena tidak menyangka akan mendapat reaksi semacam itu, sebab selama ini aku belum pernah berjumpa dengan jenis orang yang marah pabila diajak menuju kebaikan. Dia memang seorang yang berjiwa bebas, tak suka dikekang dengan beragam aturan dan suka sekali memperturutkan keinginan yang terbesit di hatinya. Tak peduli apakah itu baik atau buruk. Mungkin karena tidak pernah mendapatkan pengajaran soal agama sehingga dia tidak tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Pabila diingatkan dia marah. Hal ini wajar pula, karena setelah ku selidiki, rupanya dia anak manja yang selalu diperturutkan kehendak dirinya oleh kedua orang tuanya. Terbiasa hidup bebas dan berkecukupan tanpa adanya aturan yang mengekang. Membuat dia tumbuh menjadi pribadi yang terbawa arus. Kelakuannya bak remaja zaman sekarang, bebas dan terpantang untuk diingatkan.

Dia juga alergi terhadap orang berjenggot dan bergamis serta terhadap wanita yang memakai jilbab dalam. Pabila kita bercakap soal perkara halal dan haram dia mencemooh, lidahnya tajam bak sembilu. Membuat kita harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bersabar jika berada di hapannya.

Dia membenci syari’at Islam, jika ada yang megatakannya kepadanya bahwa minum-minuman keras atau ganja itu haram. Maka dia akan menjawab kalau ini bukan negara Islam, Na’uzubillah..

Entah sampai kapan dia akan begini, namun aku terus berharap bahwa suatu saat kelak dia akan berubah. Semoga saja hidayah Allah akan sampai kepadanya. Sementara aku, sudah frustasi menghadapi dirinya yang kekanak-kanakan. Marah pabila kesenangannya diganggu, lidahnya sudah siap mengeluarkan kata-kata berbisa. Sedangkan dilain pihak, diri ku bukanlah termasuk manusia yang penyabar.

Aku terkenang akan sebuah firman Allah pada Surah Yaasin, begini kira-kira terjemahannya:

  1. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka bertengadah.
  2. Dan Kami adakan dihadapan mereka Dinding, dan di belakang mereka Dinding (pula), dan Kami Tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapa melihat.
  3. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

(QS; Yaasin, ayat: 8,9,&10)

Memang benar bahwa di negara ini Islam merupakan agama mayoritas, namun sesungguhnya umat Islam itu sendiri merupakan minoritas.

sumber foto:http://cello191.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s