Hari St.Valentine bag.1

Kebutuhan akan “MOMEN”

Pernah suatu ketika seorang kawan bertanya kepada ku perihal suatu pekerjaan yang seharusnya aku konsultasikan dengan atasan, begini dia bertanya “Kenapa tidak kamu tanyakan hal tersebut kepada ibuk..?”

Lalu ku jawab “Belum saatnya, tunggulah nanti lihat keadaan dulu..”

Sebenarnya maksud dari jawaban ku tersebut ialah, agar menunggu waktu atau momen yang tepat. Karena salah-salah jika timingnya tidak bagus, aku juga yang akan menanggung akibatnya. Dalam urusan pekerjaan kan biasa hanya karena perkara yang sepele kita kena marah oleh atasan disebabkan momen yang kurang tepat.

Momen, merupakan saat-saat tertentu yang patut kita jadikan pertimbangan untuk melakukan sesuatu. Pernah juga ada suatu ungkapan “right man in the wrong time” hal tersebut pernah ku dengar ketika Prof.B.J.Habiebie menjadi presiden di negara kita. Momen, merupakan timing waktu yang diperlukan semua orang, apakah untuk berbicara, mengemukakan isi hati atau suatu persoalan, untuk menunaikan suatu perkara, dan lain sebagainya.

Hal tersebutlah yang teringat tatkala searching di internet, tak sengaja aku menemukan beberapa artikel mengenai hari valentine yang dirayakan pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Kebanyakan anak muda muslim di negara ini yang telah tersentuh kehidupan moderen ikut pula merayakan perayaan yang berawal dari umat nasrani di Eropa. Banyak ulama dan orang tua merasa khawatir menyikapi hal ini, rasa khawatir ini semakin menjadi karena para remaja kelihatan acuh atas peringatan yang telah diberikan oleh orangtua ataupun ulama.

Sejarah perayaan valentine ini berawal dari masyarakat non muslim di benua Eropa. Kisahnya sendiri berhubungan dengan salah seorang pendeta agama nasrani. Lalu kenapa banyak remaja muslim yang merayakannya? Tidak merasa bersalah ketika mengucapkan selamat atas perayaan ini?

Semakin lama ku berfikir, semakin tampaklah semuanya, semakin jelaslah perkaranya. Bagi para remaja muslim yang merayakan perayaan ini, sesungguhnya di hati mereka tidak ada niat sama sekali untuk mengikuti kelakuan orang kafir. Ada beberapa alasan, diantaranya ialah karena mengikuti tren. Bagi orang Jakarta, barat merupakan kiblat kehidupan (gaya hidup) mereka, sedangkan bagi daerah Jakartalah kiblat mereka. Semua yang berasal dari Jakarta diadopsi, salah satunya yang terparah ialah gaya bahasa yang lazim disebut dengan bahasa gaul. Mereka berpendapat dengan mengikuti gaya Jakarta menjadikan mereka keren, gaul, dan tidak kuno atau ketinggalan zaman.

Adapun alasan yang kedua ialah karena mereka membutuhkan momen. Darah muda, usia belia, gelora yang memuncak membutuhkan pelampiasan. Apalagi di tengah kehidupan moderen yang sarat dengan nuansa hedonisme seperti adanya saat ini. Mereka  membutuhkan momen untuk merayakan “cinta” dengan kekasih mereka. Mereka membutuhkan momen yang akan mereka jadikan sejarah dan tak akan terlupakan sepanjang usia mereka. Anak muda merupakan anak yang penuh akan rasa cinta, dan mereka belum begitu paham bagaimana cara baik untuk menyalurkan hasrat belia mereka tersebut.

Sekali lagi momen, hanya itulah yang mereka butuhkan. Dan peradaban barat memenuhi keinginan hati mereka. Lalu kenapa orang-orang dahulu di negeri kita ini tidak merasakan hal yang sama? Cobalah tanya kepada orangtua kita, pernahkah mereka merayakan hari valentine?

Kebutuhan akan perayaan semacam ini merupakan kebutuhan manusia kota, hampir ada di setiap peradaban. Setiap peradaban memiliki saat-saat tertentu untuk dirayakan, apakah itu perayaan musim semi, musim panen, kelahiran, hingga kematian. Cobalah tanya kepada datuk-datuk[1] kita, tahukah mereka tanggal berapa mereka dilahirkan?

Tentunya sebagian besar akan menjawab tidak, mungkin berlainan bagi orang kota. Tapi bagi orang kampung, mereka tidak begitu memedulikan akan hari kelahiran karena mereka tidak pernah merayakannya. Mereka juga tidak pernah merayakan hari pernikahan, ataupun hari-hari lainnya. Semuanya hilang beserta ingatan yang menumpuk di kepala.

Bagi masyarakat sederhana, cukuplah hari kelahiran nabi mereka saja yang mereka rayakan. Cukuplah dua kali dalam setahun mereka bersuka ria merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Makanya pada masa dahulu, bagi orangtua sangatlah wajib hukumnya pada hari raya menggenakan pakaian yang indah-indah. Apakah pakaian yang baru dibeli atau pakaian yang telah dibeli bertahun-tahun yang lalu namun hanya dipakai disaat-saat tertentu saja.

Momen, itulah sumbernya, itulah pangka bala kenapa banyak remaja muslim sekarang yang keras kepala, tangka, merayakan hari valentine. Inilah sisi lain dari peradaban moderen, kesibukan mereka akan dunia telah menyebabkan hati mereka hampa dan membutuhkan pengalihan dan St.Valentine memenuhinya. Beda dengan masyarakat kampung yang hidup sederhana dimana kasih sayang menjadi menu harian yang selalu mereka nikmati. Tidak butuh waktu-waktu tertentu untuk menyatakan rasa sayang kepada sang kekasih karena rasa sayang telah disajikan setiap hari dengan manis. Bagi mereka rasa sayang bukan sebatas pada lisan, melainkan pada perbuatan. Buat apa menyatakan sayang kepada kekasih sedangkan dalam tindakan amat berlainan.

Demikianlah pandangan ku mengenai perayaan valentine, semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya. Kalau boleh aku meberikan saran; percayalah pada diri, yakinlah pada kehidupan, cukuplah kepada Al Qur’an dan Sunnah kita meniru. Tirulah orang lain selama tidak bertentangan dengan yang dua (Al Qur’an & Hadist), dan tinggalkanlah perkara tersebut jika telah bertentangan dengan yang dua. Jangan terlalu terlena pada kehidupan dunia, karena suatu masa kelak dunia akan mengecewakan mu. Kau akan dicampakkan layaknya benda tua yang tak berguna. Tak ada guna tangis, yang tersisa hanya penyesalan pada sang waktu, dia tak bisa dibalik. Hanya Allahlah yang kuasa, kita manusia hanya hamba…

sumber gambar: internet


[1] Kakek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s