Konsekuensi dari Negara Demokratis

Politik, Demo, & Rusuh

Semenjak hari Selasa tanggal 27 hingga Jum’at tanggal 30 Maret 2012 kemarin di beberapa kota besar di Indonesia terjadi demo penolakan kenaikan harga minyak (BBM). Demonstrasi yang terjadi umumnya dilakukan oleh mahasiswa dan kaum buruh serta beberapa simpatisan ataupun kader salah satu partai politik juga ikut terlibat. Hampir setiap hari dikabarkan terjadinya bentrokan antara aparat keamanan (Polisi) dengan para pendemo. Pengrusakan fasilitas umum, blokade jalan, penyegelan SPBU, penyerangan kantor salah satu partai politik, dan lain sebagainya.

Beragam tanggapan orang, ada yang geleng-geleng kepala sambil berujar “Untuk apalah oleh mahasiswa ini semua, mereka yang kena pukul, mereka yang masuk rumah sakit, mereka pula yang melakukan perusakan. Apakah ini hasil dari pelajaran mereka di perguruan tinggi? Bukan untuk ini mereka disekolahkan oleh orangtua mereka. Mereka fikir bagaimana perasaan ibu-bapaknya melihat anak si buah hati kesayangan jiwa, bukannya kuliah tapi malah berdemo, kena pukul, dan membuat kerusakan?

Ada pula yang berpendapat “Ah..wajar mereka melakukan rusuh dan pengrusakan. Sebab kalau demo berjalan aman, tertib, dan lancar maka alamat pendapat (aspirasi) mereka tidak akan diterima. Cobalah berjalan damai, takkan macam ini dampaknya ke pemerintah..!

Haaa.. itu semua mahasiswa pandir. Mereka yang ikut berdemo itu sebenarnya ialah mahasiswa-mahasiswa pemalas yang kerjaannya ialah mencari gara-gara dengan dosen, membuat kegaduhan di kampus, ataupun jarang membuat tugas kuliah. Bagaimana mereka takkan bersemangat pergi demo, sebab dengan begitu mereka jadi punya alasan untuk mangkir dari kewajiban mengumpulkan tugas kuliah. Adapula yang ingin kelihatan keren dan gagah dihadapan kawan perempuan mereka. Supaya disanjung dan dielu-elukan. Dasar anak muda, fikiran mereka terkadang susah ditebak. Lebih suka memperturutkan darah panas..!” jelas salah seorang yang lainnya.

Namun ada juga yang berpendapat macam ini “Tampaknya ada yang aneh, kenapa mereka dapat bergerak serempak? Tak mungkin kalau tak ada yang mengarahkan, bagaimana pola koordinasi, bagaimana pula cara mereka melengkapi kebutuhan mereka selama demo? Aneh juga, dikalangan politisi tampaknya hal ini dijadikan untuk menaikkan nilai tawar mereka terhadap partai penguasa. Sedangkan bagi partai oposisi hal ini dijadikan sebagai pembentukan citra kalau tak boleh dikatakan menjilat kepada rakyat.

Pada jum’at malam merupakan yang terpanas menurut hemat kami. Sebab pada hari Jum’at ini diadakan Sidang Paripurna oleh anggota DPR. Tentu saja sidang yang membahas kenaikan harga BBM ini menjadi tujuan utama para pendemo untuk menyampaikan aspirasi mereka. Beragam orang dari berbagai perkumpulan (organisasi) datang ke Gedung DPR. Kebanyakan dari mereka ialah mahasiswa, dan beberapa diantara mereka terdapat kaum buruh.

Seorang kawan bertanya pada ku “Sudahkah engkau melihat tv semalam, ada tontonan menarik. Lebih mengasyikkan daripada filem Jackie Chan..

Kamipun balik bertanya “Filem apapula semalam di tv, saya tak melihat ada filem rancak..

Ah, bukan filemlah..demo semalam rusuh di DPR, ayik..ada kembang apinya pula. Belum pernahkan melihat polisi menyambut hangat mahasiswa dengan pesta kembang api?” tanya sambil tersenyum manis, kemudian dia melanjutkan “Ditambah dengan mahasiswa yang berlari-lari, para aparat keamanan yang maju perlahan-lahan sambil membawa tameng dan menembakkan gas airmata. Para perusuh ini dibuat kacau balau, hahaha..dasar orang-orang bodoh. Mau-maunya mereka diperalat, coba sekarang tengok siapa yang paling sengsara. Bukankah mereka juga?” jelas kawan kami yang seorang ini.

Ah, tuan..saya benar-benar tak paham perkara macam ini. Yang tampak bagi saya ialah salah satu dari bentuk unjuk kebodohan oleh anak bangsa. Hampir di setiap daerah yang ada demonya pasti rusuh. Pasti ada saja berbagai bangunan ataupun fasilitas umum lainnya yang dirusak. Galau hati kami memikirkannya, apakah ini demokrasi, apakah ini kemajuan itu, apakah ini kebebasan yang diagung-agungkan, apakah ini modernitas yang dituju oleh para intelektual Jakarta? Apakah macam tu duhai tuan dan engku sekalian?

Sebagian orang terjun kepada kepentingan sesaat, bagaimana meraih, mempertahankan, dan mewariskan kekuasaan yang tengah ditangan?. Sedangkan sebagian lainnya berusaha merebut kekuasaan, menebar kabar-kabar meresahkan, melakukan berbagai tipu muslihat, memfitnah, dan laiin sebagainya. Sama sekali tidak ada yang memikirkan kepentingan rakyat, bohong jika mereka berkata macam tu tuan….

 

 

Sumber gambar:

http://sharelovelifelaugh.blogspot.com/

http://cahayareformasi.com/2012/03/22/marak-tawuran-polda-metro-jaya-akan-tindak-ormas-anarkis/

http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1775962/pelajar-sman-6-bentrok-dengan-wartawan

http://matanews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s