Catatan Seorang Kawan dari Malaysia

Gambaran Awal Tentang Malaysia

 

Seorang kawan kami baru saja pulang bertandang dari Malaysia. Beliau ini ke Malaysia bersama beberapa orang kawan dan atasannya di kantor tempat beliau bekerja. Ini merupakan pengalaman pertamanya ke Malaysia, cobalah tuan, puan, engku, dan encik simak kisahnya. Bagi sebagian dari engku mungkin bukan cerita baru, tapi cobalah engku simak jua. Sebab tak ada salahnya kita mendengar kisah yang sama dari orang lain. Setidaknya kita dapat memahami sudut pandang dirinya.

Malaysia, sebagian kaum nasionalis sekuler sangat benci mendengar nama negara yang satu ini. Maklumlah, di negara ini (Indonesia) segala hasutan, fitnah dan persengkongkolan sangat mudah sekali ditemui. “Negara ini negara bebas” kata mereka. Sudah menjadi kelaziman di negara ini, sudut pandang orang “Jakarta” menjadi sudut pandang nasional. Seolah-olah Indonesia ialah Jakarta.

Namun tidak demikian bagi kami masyarakat di daerah, kami hidup berbeda dengan cara orang Jakarta hidup. Kehidupan yang kami jalani tidaklah sama, engku. Berbeda dengan kalian yang berada di pusat dari Republik ini. Bagi kebanyakan dari kami yang memahami adat istiadat dan sejarah negeri kami, tidak semudah itu bagi kami mengamini ucapan kalian. Kecuali bagi kebanyakan anak muda Minangkabau sekarang yang telah terserabut dari akar budaya leluhurnya. Mereka akan terpengaruh dengan kalian. Kebanyakan generasi muda Minangkabau sekarang dibesarkan sebagai orang Jakarta, bukan sebagai orang Minangkabau. Hidup sebagai orang Minangkabau telah menjadi minoritas dan sangatlah susah di Alam Minangkabau yang katanya bertuah ini.

Malaysia adalah sebuah negara Melayu yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negaranya. Berlainan dengan Indonesia tentunya. Wilayahnya terbagi dua, Malaysia Timur terletak di bagian utara Pulau Borneo (Kalimantan) sedangkan Malaysia Barat terletak di ujung Tanah Semenanjung atau yang lebih dikenal dengan Semenanjung Malaya. Penduduknya beraneka ragam, tidak semuanya Melayu melainkan terdapat juga beberapa orang Cina dan India. Perbandingan jumlah penduduk Melayu dengan Non Melayu ialah sekitar 60% untuk Melayu, selebihnya ialah etnis lain.

Keadaan semacam ini pernah menimbulkan ketegangan dalam Negara Malaysia. Kebanyakan orang Cina disini menunjukkan identitas Kecinaan mereka, berbeda keadaannya dengan Indonesia. Hampir semua orang Cina fasih berbahasa negeri mereka. Dalam keseharian mereka dengan keluarga, mereka bercakap berbahasa Cina, kemudian dilanjutkan dengan Inggris dan baru kemudian Melayu.

Begitulah keadaan di negara ini, identitas diri mereka sangat penting sehingga masing-masing mereka mengedepankan identitas mereka. Tidak semuanya memang, namun setidaknya hal tersebut memberikan gambaran kepada kita yang ada di Indonesia, kenapa pemerintah mereka begitu ketat mengendalikan segala aspek kehidupan rakyatnya. Tidak seperti di Indonesia yang bebas, saking bebasnya orang boleh menghujat ataupun mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dengan dalih kebebasan. Bahkan agama dan para tokoh terkemuka dari masa silam dalam agama yang dianut oleh masyarakat di Indonesia boleh dihujat. Terutama sekali melalui internet, sungguh hebat republik ini..

Mobil Keluaran Proton

Bagi kami yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Tanah Semenanjung, banyak merasakan keanehah, karena beberapa hal yang tidak kami temui di Indonesia. Salah satunya ialah di negara ini orang lebih banyak menggunakan mobil, sangat jarang ditemui motor di Malaysia. Kemudian, mobil-mobil yang digunakan kebanyakan ialah mobil nasional buatan anak negeri yakni Proton dan Produa. Selebihnya jenis mobil yang digunakan beragam, berlainan dengan Indonesia yang didominasi oleh mobil bermerek Toyota. Seorang kawan berceloteh “Di Indonesia, mobil nasionalnya ialah TOYOTA..”

Di jalan kami sempat menemukan beberapa jembatan, yang menarik minat kami ialah rancangan (design) jembatan mereka tidak asal-asalan. Mereka juga mengutamakan segi keindahan dari bangunan yang mereka buat. Berbagai jembatan yang kami temui didisain dengan artistik.

Perilaku para pengguna jalan juga tertib, mereka sangat santun dijalan raya. Sangat jarang sekali kami temui orang yang membunyikan klason apalagi klason yang nyaring. “Disini dilarang menggunakan klason kalau tidak perlu, dikhawatirkan dapat menambah tingkat stress di jalan” jelas salah seorang kawan kami di Malaysia. Mereka juga sabar di jalan, tidak ada orang yang berhenti mendadak ataupun berbelok sembarangan. Mereka selalu menunggu lawan di hadapan tidak ada untuk berbelok. Jika lawan di depan berhenti untuk berbelok maka mereka tidak akan membunyikan klason sebagai pertanda ketidak sabaran atau berusaha menyalip kendaraan di depan. Melainkan mereka akan menunggu dengan sabar sampai mobil di depan berbelok. Sungguh perilaku yang sangat langka di Indonesia.

Jalanan mereka lapang dan aspalnya mulus, berbeda sekali dengan di Indonesia yang aspalnya terkesan asal-asalan. Terkadang di jalan beraspal kita masih terlonjak-lonjak di dalam kendaraan kita. Segala peraturan di jalan raya mereka patuhi, walau ada juga beberapa yang nakal namun kebanyakan dari mereka ialah orang yang sadar dan ta’at hukum.

Mobil Keluaran Produa

Kami juga jarang menemukan orang yang parkir sembarangan di tepi jalan. Jika ada plang tanda dilarang parkir maka tidak akan ada satupun kendaraan yang parkir di sana. Kami sempat singgah di sebuah rumah makan di tepi jalan raya, dibawa oleh tuan rumah kami. Banyak kendaraan yang parkir di tepi jalan di depan rumah makan. Tepat di sebalah rumah makan terdapat sebuah rumah yang memiliki pagar di sekelilingnya. Di depan pagar terletak tulisan dilarang parkir, tepat di jalan masuk menuju rumah tersebut. Rupanya larangan tersebut dipatuhi, tidak ada satupun kendaraan yang parkir di sana, walaupun jumlah kendaraan pengunjung banyak, namun mereka mencoba mencari tempat parkir lain. “Kalau di Indonesia, disini orang sudah parkir..” ujar seorang kawan sambil menunjuk areal di depan pagar.

Kami hanya tersenyum mendapati keadaan semacam ini, dalam hati kami merasa sedih “Kapan Indonesia akan semacam ini..”

Selama kami disana, perlakuan yang kami dapat sangat baik. Maklumlah sejawat yang mengundang kami juga orang Melayu jadi mereka merasa senang sekali jika ada orang Melayu yang datang ke Malaysia. Memang benarlah engku, seorang kawan kami di Indonesia pernah berujar “Jangan terlalu percaya dengan berbagai pemberitaan di televisi. Media yang sebagian besar dikendalikan oleh kaum Sepilis[1] di Jakarta. Cobalah teliti dahulu, siapakah majikan yang menyiksa TKI kita di Malaysia. Dari namakan sudah ketahuan orang Melayukah atau bukan. Keadaan di Malaysia berbeda dengan kita di Indonesia. Orang-orang Non Melayu merasa cemas dengan banyaknya orang Indonesia yang datang ke sana. Takut mereka jika jumlah orang Melayu bertambah drastis. Ingat, yang disebut Melayu di Malaysia tidak hanya orang Melayu yang ada di negara kita akan tetapi juga orang Jawa.[2] Jadi hati-hati kawan dalam memaknai berita. Jangan mudah terpengaruh, kita sengaja diadu domba sebab orang-orang Melayu ini jika bersatu akan sangat membahayakan. Jangan terlalu percaya kata Jakarta, sebab sebagian besar dari mereka ialah orang yang alergi dengan Islam.


[1] Sekularis Pluralis & Liberalis

[2] Di Indonesia yang disebut Melayu kebanyakan ialah orang Riau. Namun semenjak Novel karya Andrea Hirata populer di Indonesia maka orang Indonesiapun mulai sadar kalau orang Belitung juga Melayu. Namun kebanyakan orang Indonesia tidak tahu kalau Melayu itu luas terdiri atas beberapa puak. Seluruh orang Sumatera kecuali orang Batak, Nias, dan Mentawai ialah Melayu.  Kemudian beberapa di Kalimantan seleperti orang Banjar dan Bugis di Sulawesi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s