Dunia Pariwisata di Bukittinggi

De Mooi Fort de Kock

foto: Erison J.Kambari

Beberapa hari yang lalu terdengar kabar dari kampung oleh kami duhai tuan. Rupanya rumah kami nan buruk di kampung dikunjungi oleh saudara kami dari jauh, Tanah Semenanjung. Alangkah senangnya hati keluarga kami, sebab sudah lama tak bersua. Memanglah senang hati kedua orang tua kami, sebab mereka tak dapat berkunjung menziarahi dunsanak kami di sana. Maka sebagai gantinya, merekalah yang datang ke kampung kami membawa serta anak-anaknya.

Ibu kami sangat senang sekali, jauh-jauh hari telah dikabarkan kepada kami. Tatkala pulang kampung kampipun sibuk membantu beliau mempersiapkan bilik yang akan ditempati oleh tamu kami tersebut. Layaknya akan kedatangan tamu penting, bilik-bilik inipun dibersihkan dan dipercantik. Supaya tamu kami merasa nyaman menempatinya selama berkunjung.

Beberapa hari mereka tiba di kampung, mamak kami membawa mereka ke tempat-tempat pelancongan yang ada di negeri kita, Minangkabau. Negeri kita yang selama ini terkenal karena keelokan alamnya memang telah lama menjadi buah bibir kemana-mana. Banyak memang para pelancong yang datang untuk mengunjunginya. Sebab negeri mereka taklah sindah negeri kita. Alhamdulillah..

Namun ada satu hal yang menimbulkan kekhawatiran pada diri kami duhai tuan. Yaitu orang kita yang terkenal asal-asalan dan tidan profesional dalam mengelola tempat-tempat pelancongan tersebut. Tempat atau fasilitas yang disediakan ialah apa adanya, namun cukai yang diambil dari tempat tersebut sangatlah besar. Sebut saja cukai parkir dan cukai jamban, hanya di negeri kita saja duhai tuan, kalau orang ke jamban kena cukai pula.

Kamipun mendapat kabar, kalau beberapa hari yang lalu ibu kami beserta sanak keluarga lain di kampung membawa mereka berjalan-jalan ke Jam Gadang yang sangat terkenal itu. Kata orang, pada masa sekarang di bawah Jam Gadang sudah dipercantik orang. Tempat untuk berjalan-jalan sudah diperluas sehingga banyak orang dapat di tampung. Namun sayangnya, selain diramaikan oleh orang-orang yang berkunjung, tempat itu juga diramaikan oleh pedagang kaki lima yang berdagang. Mereka berdagang mengalahi tempat orang berjalan-jalan. Dan perkara semacam itu diabaikan oleh pemerintah di sana.

Selain itu, untuk menambah minat para pelancong, pada kawasan itu juga disediakan badut-badut seperti yang biasa kita tengok di televisi. Supaya hati orang bertambah senang dan nikmat baleha-leha Bukittinggi, serta semakin ramai jugalah hendaknya. Para badut ini terkadang menjadi bahan lawakan ataupun diajak serta untuk mengambil gambar (berfoto) dengan para pelancong.

Berbagai kejanggalan yang telah tampak pada keadaan dunia pelancongan di Bukittinggi rupanya diperparah dengan kelakuan para badut ini duhai tuan. Kata ibu kami, tatkala mereka hendak berfoto bersama, beberapa orang badut turut serta. Entah karena memang diundang atau memang mereka sendiri yang menawarkan diri hendak ikut serta. Tentunya keluarga kami senang bukan main. Namun engku, selepas berfoto dimintanyalah uang kepada salah seorang keluarga kami dari Malaysia.

Alangkah terkejutnya ibu dan keluarga kami yang lain. Uang yang dimintapun bukan main banyaknya, Rp. 100.000. Bukan main kesalnya etek kami “Ka sia ang mintak pitih tu, anak den tu mah, urang siko juo. Mamalak karajo ang di siko..!!”[1] ujar etek kami tersebut.

Badut preman ini rupanya tak mau kalah. Dia kata kalau adik-adik kami tersebut sudah berjanji hendak memberikan uang sebesar Rp. 100. 000 selepas berfoto. Namun setelah ditanya, mereka kata tak ada perjanjian semacam itu. Pertanda akal-akalan untuk mamalak bagi para preman berseragam badut ini. karena tak ingin memperpanjang masalah maka etek kami tersebut hanya memberikan uang Rp. 2.000 kepada badut preman ini.

Duhai tuan yang budiman, bagaimana kiranya pendapat tuan mengenai perkara ini. Mendengar kabar semacam ini kesal bukan main hati kami. Bertambah jua kekecewaan kami kepada kota kita ini. Sudahlah dahulu pernah pula tersiar kabar bahwa bangunan penjara si Midun yang berada di hadapan bangunan gedung Bank BNI hendak dirobohkan. Dalih dari pemerintah setempat ialah hendak dijadikan tempat parkir. Sungguh merupakan alasan yang sangat pekak sekali kalau menurut kami. Bagaimana tidak pekak duhai tuan. Di sebelah Bioskop Ery terdapat tanah kosong, kenapa bukan itu saja yang dijadikan tempat parkir. Lagipula bangunan penjara tersebut merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial yang diabadikan dalam sebuah filem yang berjudul sama dengan novelnya Sengsara Membawa Nikmat.

Sedih hati kami mengenang keadaan Bukittinggi sekarang tuan. Pemerintahnya hanya pandai mengambil untung terhadap keadaan yang ada. Tidak pandai memeperbaiki ataupun mengembangkan. Lihatlah tuan, Pasar Banto dan Pasar Bawah masih juga serupa itu. Segala macam makhluk berjalan di jalannya. Orang, kuda, mobil, sepeda motor, gerobak, sepeda, orang yang berjualan, dan lain sebagainya.

Kalau keadaan semacam ini tetap dibiarkan dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Maka hanya ada beberapa kemungkinan, yaitu: keadaan akan bertambah kacau, premanisme merajalela, yang artinya tidak ada profesionalisme. Kedua ialah Bukittinggi akan menuai kekecewaan dinatara pengunjung dan kemudian ditinggalkan. Atau orang tetap akan datang namun yang datang ialah preman-preman juga. Sebab yang akan dihadapi di Bukittinggi ialah para preman.

Bagaimana kiranya menurut pandangan tuan..?


[1] Kepada siapa kamu minta uang itu, anak saya itu di kamu, orang sini (Bukittinggi) juga. Memalak kerja kamu di sini..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s