The Chief & His father


Kisah Sang Ketua & Ayahnya

Kawan kami yang sedang mengikuti LPJ kembali mengirimkan kisahnya kepada kami. Rupanya dia turut senang dengan dimuatnya kisahnya pada blog kami nan sederhana ini. berikut kisahnya:

Kami yang berjumlah 42 orang yang mengikuti Diklat ditempatkan di satu kelas. Untuk mengelola orang-orang yang sebanyak ini maka dibentuklah kepengurusan kelas yang disebut dengan “Senat”. Ketika pertama kali mendengar nama “senat” aku berfikir pasti wah sekali. Namun rupanya jabatan ini sama kiranya dengan jabatan Ketua Kelas ketika aku sekolah dan Komandan Tingkat (Komting) ketika aku kuliah.

Kepengurusan senat terdiri atas Ketua, Sekretaris, dan Bendahara yang merupakan pengurus inti. Selain dari ketiga jabatan ini masih ada jabatan keamanan dan ketertiban yang dijabat oleh dua orang. Satu orang dijabat oleh laki-laki dan satu orang lagi dijabat oleh perempuan. Namun kami menambah satu jabatan lagi yakni Ketua Kamar.

Kami menempati enam kamar yakni mulai dari kamar 11-16. Kamar 11-14 ditempati ole ibu-ibu, sedangkan kamar 15 dan 16 ditempati oleh bapak-bapak. Masing-masing kamar diangkat satu orang sebagai ketua kamar. Gunanya ialah untuk mengawasi dan memperhatikan setiap anggota kamar. Terutama ketika disuruh berkumpul, sering anggota kurang tanpa diketahui dari kamar mana dan siapa namanya.

Kecanggungan Ayah & Anak

Pada hari ini kami kedatangan WI yang sama sekali tak kami kira. Orangnya biasa-biasa saja, berusia sekitar 60 tahunan. Yang membuatnya luar biasa ialah ternyata beliau ini merupakan ayahnda dari Ketua Senat kami. Semenjak awal pelajaran dimulai kami sudah tersenyum-senyum kecil. Kedua orang ini yakni ayah dan anak terlihat canggung. Sang ketua semenjak awal masuk kelas telah langsung mencari posisi aman yakni di sudut paling belakang.

Wajah kedua orang ini memang mirip, begitu juga suara dan gaya bicara, maklumlah ayah dan anak. Hanya saja tinggi dan kulit saja yang berbeda, ketua kami memiliki tinggi sekitar 170 cm dan berkulit kuning. Sedangkan sang ayah memiliki tinggi sekitar 160 cm dan berkulit sawo matang.

Sepanjang hari aku perhatikan sang ketua terlihat frustasi dan salah tingkah. Kulitnya yang kuning, terkadang bersemu merah tatkala namanya kena panggil. Maklumlah, WI jika menemukan masalah atau ingin menginstruksikan sesuatu selalu memanggil ketua. Dan sang ayah sebelumnya tak tahu kalau anaknyalah yang menjadi Ketua Senat. Malangnya lagi karena kebiasaan WI ialah memanggil Ketua Senat pabila ada sesuatu yang diperlukan maka anaknya dengan pasrah selalu tampil ke depan. Ketika hal ini terjadi maka kawan-kawan sudah tertawa cekikikan di belakang meja.

Aku kasihan sekali melihat ketua kami, aku teringat kembali kalau gejala frustasi sudah tampak semenjak kemarin malam. Tatkala kami selesai dinner, beberapa orang kawan-kawan dan ketua duduk-duduk di beranda di muka kamar kami. Ketika itu hari hujan, ketua kami ini entah kenapa bernyanyi-nyanyi sendiri. Suatu kebiasaan yang tak pernah sebelumnya kami dapati. Kawan-kawan cemas jangan-jangan Sang Ketua tengah kerasukan. Langsung saja Katua dikagetkan oleh salah seorang kawan. Setelah itu kami tertawa bersama-sama, diapun ikut tertawa. Sungguh konyol, mungkin itu katanya dalam hati.

Dan hari ini Sang Ketua terlihat pendiam, tak banyak bicara dan bersikap agak kikuk dan gugup. Aku yakin dia sendiri sudah tak sabar waktu berlalu dengan cepat. Hadir di kelas ini sudah merupakan siksaan yang berat baginya.

Kemalangannya pada hari ini rupanya belumlah usai. Seperti biasa, kami kembali dibagi kepada kelompok-kelompok untuk mengerjakan tugas. Dan kebetulan sekali aku sekelompok dengan dirinya. Untuk presentasi dia menawarkan diri sebagai moderator dan salah seorang kawan kami yang selama ini terkenal sebagai pencair suasana karena kelucuannya sebagai “penyaji”. Tujuannya ialah untuk mencairkan suasana sebab di ajar oleh ayahanda ketua sendiri.

Rupanya penampilan kelompok kami merupakan penampilan yang terburuk. Penyebabnya ialah salah menafsirkan instruksi dari WI yang merupakan ayahanda dari Sang Ketua. Ketua kami hanya terdiam ketika ayahnya mengatakan hal tersebut. Maksud hati hendak mencairkan suasana tapi malah berujung pada malapetaka. Namun tak patut pula jika disebut sebagai malapetaka. Sebab kesalahan tersebut merupakan sesuatu yang wajar.

Kemalangan Sang Ketua tampaknya belum juga berakhir. Malapetaka terakhir menimpa dirinya tatkala kelompok kami disuruh tampil menyanyi. Judul lagu kami ialah “Gelang Sepatu Gelang..” yang memiliki lirik akhir ialah “Mari pulang..marilah pulang..” yang ditambahi oleh Ketua Kami menjadi “Marilah pulang..marilah pulang..sekarang juga..” yang mengundang gelak tawa dari kawan-kawan.

Sang ayah hanya mengomentari ringan “jadi kelompok satu (I) ini merupakan kelompok yang memiliki etos kerja rendah, asal melepas tanggung jawab, dan pemalas…” dan komentar ini kembali mengundang gelak tawa dari seluruh kelas. Sang ketua hanya tersenyum-senyum simpul mendengar komentar dari sang ayah.

Begitulah kisah kami pada hari ini, semoga dihari-hari berikutnya semakin banyak saja kisah lucu dan menyenangkan yang akan kami lalui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s