Menyambut Ramadhan

Mandu’a

Tuan dan engku sekalian, tak terasa rupanya Bulan Ramadhan akhirnya datang juga, tinggal menghitung hari saja tuan. Bulan Ramadhan atau lazim disebut oleh orang kampung kami dengan sebuatan Bulan Puaso, disambut dengan bermacam cara. Yang lazim ialah mengundang sekalian sanak keluarga serta karib-kerabat untuk datang bertandang ke rumah. Acara semacam ini biasa disebut dengan mandu’a oleh orang-orang kampung.

Suasana dalam salah satu acara Mandu’a menyambut bulan puasa. Terlihat dua orang juaro sedang menating “jamba”.

Mandu’a kalau kita terjemahkan secara harfiah berarti berdo’a. Sedangkan dalm hal ini yang dimaksudkan dengan mandu’a ialah suatu acara adat yang dilaksanakan ba’da (sesudah) Shalat Ashar. Rangkaian acara ini biasanya ialah menyantap hidangan yang disediakan oleh tuan rumah, kemudian berdo’a yang dipinpin oleh salah seorang  Orang Alim, dan terakhir saling berjabat tangan bermaafan. Terdapat dua macam hidangan yaitu nasi beserta lauknya dan terakhir ialah makanan kecil seperti aneka kue, galamai, sipuluik, lamang, dan lain sebagainya.

Setiap memulai makan atau menyantap hidangan penutup maka akan dimulai dengan pasambahan dari pihak tuan rumah kepada tetamu. Pasambahan merupakan rangkaian petatah-petitih adat yang terkadang berupa pantun, ungkapan, ataupun perandaian yang dilantunkan dengan suatu nada tertentu. Pasambahan dilakukan sahut-menyahut antara dua pihak, terkadang pada pasambahan inilah diuji kepandaian seseorang dalam bersilat lidah.

Acara ini diakhiri dengan pembacaan do’a oleh Angku Katik[1]. Sebelum Katik membaca do’a maka terlebih dahulu pihak tuan rumah akan ditanyai dahulu perihal maksud undangannya. Maka diampaikanlah oleh tuan rumah “Maksud hati kami mengundang angku-angku, inyiak, tuan, kakak, serta undangan semuanya ialah untuk memperpanjang tali silaturahim. Beberapa hari lagi bulan puasa sudah hendak masuk, maka dari itu kami sekeluarga memintakan maaf kepada kaum muslimin sekalian. Beserta dosa dan kesalahan orang tua kami nan telah dahulu.[2] Mohon do’anya semoga dosa mereka diampuni serta kubur mereka dilapangkan oleh Allah Ta’ala

Pada tiap-tiap nagari berbeda-beda tata cara pelaksanaannya. Walau seperti apapun namun yang namanya do’a pada akhir acara tetap tidak pernah dilewatkan. Namanya juga mandu’a, tentu saja do’a yang dipimpin oleh seorang ahli agama sangat penting pada acara ini.

Salah seorang “Juaro” sedang manating “jamba”. karena acara ini tidak terlalu beradat, maka “juaro” dibolehkan untuk tidak memakai kain sarung yang seharusnya dililitkan dipinggangnya.

Besar atau kecilnya acara berbeda-beda, sangat bergantung pada kemampuan si tuan rumah. Ada yang hanya mengundang keluarga dekat seperti; bako (keluarga ayah), anak pusako (anak mamak),[3] saudara sesuku yang dekat, menantu beserta keluarganya (kalau punya), serta satu orang Orang Siak. Rangkaian acaranya masih tetap sama, hanya saja jumlah undangan dan lamanya saja yang berbeda. Jika jumlah undangan banyak, maka acara akan diperlambat oleh para juaro[4] yang mengakat jamba.[5]

Ada juga beberapa keluarga yang merasa tidak sanggup mengundang orang kampung ataupun keluarga besar maka dia hanya akan mengundang keluarga dekatnya saja. Jadwal acara masih tetap sesudah Ashar. Ada kalanya bagi yang menjamu keluarga dekat semacam ini tidak memakai do’a di akhir acara. Hanya makan-makan saja dan terakhir saling memaafkan karena Puasa sudah menjelang.

Acara mandu’a ini dimulai semenjak tiga minggu sebelum puasa sampai akhirnya ialah disaat orang balimau (satu hari menjelang puasa). Begitulah ritual adat yang tampaknya sudah mulai hilang atau ditinggalkan oleh sebagian orang Minangkabau. Larut dalam perkembangan zaman akhirnya meanggap rendah budaya sendiri.

 

Tuan dan engku yang kami muliakan…

Oleh karena orang hendak puasa, maka pabila ada talantuang ka naiak, talendo ka turun kami mohonkan maaf. Tak ada maksud di hati, melainkan khilaf saja yang menanti. Maaf dipinta pabila ada tulisan kami yang tak sesuia dan tak sefaham dengan tuan, engku, puan, dan encik sekalian. Kami hanya menyampaikan yang terasa, menuliskan nan takana. Kami niatkan Lillahi Ta’ala..


[1] Katik berasal dari kata Khatib. Yang dalam keseharian masyarakat Minangkabau kata ini disematkan kepada seorang alim ulama. Selain itu juga dikenakan panggilan “Orang Siak” kepada orang alim ini.

[2] Nan alah dahulu, yang telah dahulu, maknanya ialah meninggal.

[3] Orang Kamang menyebut “anak pusako” sedangkan pada kebanyakan nagari di Minangkabau digunakan sebutan “Anak Pisang”. Yang dimaksudkan dengan Anak Pisang disini ialah tidak hanya anak dari mamak akan tetapi juga isteri, mertua, adik dan kakak ipar.

[4] Juaro merupakan sebutan untuk anak-anak muda yang suka bermain di gelanggang. Sosok para juaro ini pada masa sekarang dapat disamakan dengan berandal atau begundal, bahasa Jakartanya. Hanya saja para juaro walau mereka jarang shalat namun mereka tetap menjaga etika kesopanan. Kepada orang tua mereka tetap santun. Dalam acara helat atau kenduri, anak-anak muda inilah yang disuruh meangkat jamba. Walau tidak semua anak muda ini merupakan berandal di kampung namun tetap saja sebutan juaro dilekatkan kepada mereka ketika meangkat jamba.

[5] Jamba merupakan kelompok hidangan yang terdiri atas satu talam nasi beserta beberapa piring samba (lauk) seperti rendang, gulai, goreng, sayur, dan lain sebagainya. Jumlah samba biasanya hanya empat-lima macam, paling sedikit ialah tiga macam. Kemudian pada masing-masing jamba ditempatkan satu buah cabuak (kobokan:jkt, teko air, enam buah gelas, serta satu buah patambuahan(nasi untuk menammbah pabila nasi habis).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s