Tarawih

Shalat Tarawih

Tarawih, suatu ibadah yang hanya ada pada bulan Ramadhan. Suatu ibadah yang sangat nikmat sekali apabila kita bersungguh-sungguh dalam menunaikannya. Suatu ibadah yang akan selalu kita rindukan untuk melaksanakannya. Suatu ibadah yang tidak dapat kita tunaikan pada bulan-bulan yang lain, walaupun kita melaksanakan puasa sunat.

Di surau di kampung kami shalat tarawih dilaksanakan selepas ceramah Ramadhan. Yakni selepas Isya ustadz mulai berceramah dan kemudian dilanjutkan dengan menunaikan ibadah shalat Tarawih dan Witir. Bermacam jumlah raka’at ditunaikan oleh orang. Ada yang hanya empat, delapan, dan delapan belas. Kebanyakan di surau-surau kami dapati jumlah raka’at shalat Tarawih ialah delapan ditambah witir tiga raka’at menjadi sebelas.

Ada yang melaksanakannya dua-dua raka’at dan ada yang empat-empat raka’at. Pada dasarnya sama, tidak ada perdebatan dalam hal ini. Yang penting ialah kita menikmati pelaksanaan ibadahnya. Ada yang lebih menyukai dua-dua raka’at, menurut mereka lebih santai, pendapat ini terutama sekali diamini oleh orang tua-tua. Ada juga yang lebih menyukai empat-empat raka’at, dengan alasan lebih cepat terasanya dan tidak terasa penatnya dalam melaksanakan. Sebab bagi mereka yang berpendapat demikian, melaksanakan dengan dua-dua raka’at terasa lama dan penat.

Pernah kami dengar pada salah satu surau di kampung, shalat Tarawih dilaksanakan selepas shalat Isya dan baru selepas itu ceramah Ramadhan. Kami yang belum pernah menunaikan dengan cara demikian jadi penasaran. Pernah ditanya kepada orang tua-tua di kampung “kenapa ceramahnya tidak kita tunaikan selepas Tarawih saja engku?”

Dijawab oleh engku tersebut “Penat orang-orang, sebab mereka baru saja berbuka. Akan terasa berat oleh mereka nantinya..”

Bagi kami, begitu tiba saatnya untuk menunaikan shalat Tarawih maka penat dan malas segera menyerang. Terkadang hanya karena segan dan malu saja yang membuat kita enggan untuk beranjak pulang. Maklumlah sudah dewasa, sebab yang malas menunaikan ibadah malam pada bulan Ramadhan hanya anak kecil.

Di kampung kami serta di beberapa surau yang pernah kami datangi. Begitu hendak menunaikan shalat Tarawih maka akan dikumandangkanlah semacam seruan yang berbunyi “Ashala tu tarawih jama’ahi hakumullah..” begitulah kira-kira bunyinya. Kami tak tahu pasti apakah memang begitu tulisannya.

Kemudian akan dijawab oleh jama’ah bersama-sama “La illahaillah muhammadarrasulullah, lahulmulku walahul hamdu yuahyi wayumitu wahua ‘ala kulli syaiin qadir..” selepas itu imam baru takbir.

Selepas empat raka’at kemudian dikumandangkan lagi sebuah seruan. Sayangnya kami tak begitu ingat apakah sama atau tidak. Selepas shalat tarawih imampun berdo’a, baru setelah itu shalat Witir. Dan ketika hendak menunaikan shalt Witir kembali diserukan panggilan serupa dengan panggilan ketika hendak menunaikan shalat tarawih. Hanya saja kata “tarawih” ditukar dengan “witir”.

Namun di surau tempat kami menunaikan Tarawih saat ini tidak demikian. Imam langsung berdiri atau memberi isyarat dengan menyuruh makmum merapat dan meluruskan shaf. Tidak ada seruan dan tidak ada do’a. Mungkin hal ini biasa dan tidak termasuk kepada rukun, namun kami merasa kehilangan, kehilangan akan sesuatu yang selama ini menghiasi malam bulan Ramadhan kami.

Satu hal lagi yang sangat kami sayangkan dalam hal ini ialah begitu shalat Tarawih selesai maka sebagian besar jama’ah langsung meninggalkan surau. Hanya sebagian kecil yang terdiri dari orang tua-tua yang tetap tinggal. Meraka rupanya tidak ikut dalam mendengarkan ceramah Ramadhan, sungguh sesuatu yang sangat disayangkan.

Namun ada pula keunikan pada surau ini, yakni ketika ustadz berceramah maka pengurus akan membagikan minuman mineral gelas. Baru kali ini kami dapati hal yang demikian, biasanya tidak ada. Kamipun maklum, kalau seandainya seluruh jama’ah tadi tidak pulang tentunya jumlah air mineral gelas yang dibagikan akan tidak mencukupi. Sebab untuk kami para jama’ah yang tinggal saja, satu dus air mineral gelas sudah kurang.

Begitulah pengalaman kami dalam melaksanakan Tarawih pada Ramadhan kali ini tahun 2012..

Bagaimana dengan  tuan dan engku…?

 

 

sumber gambar: internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s