Yang takkan terlupakan

Kenangan Ramadhan

Apa yang akan terkenang oleh tuan apabila Bulan Puasa telah lewat? Kalau bagi kami tuan, yang akan terkenang ialah suasananya. Mungkin saat ini kita merasakan biasa, atau terkadang bagi sebagian kita sudah merasakan ada yang berbeda. Tentunya bagi yang menjalani bulan ini dengan ikhlas hati. Penat-penat melawan kantuk tatkala bangun perak siang untuk sahur. Suasana perak siang ketika kita bangun sungguh berbeda dengan suasana pada hari biasa. Terasa lebih hidup dan ramai, walau sebenarnya yang kita rasakan sepi. Apa sebab? Sebab diri kita dapat merasakan bahwa sesungguhnya bukan hanya kita yang bangun pagi untuk sahur.

Kemudian selepas shalat Subuh, sebagian dari kita ada yang tidur dan sebagian lagi ada yang tetap terjaga. Bagi yang terjaga kita dapat merasakan keanehan suasana, keanehanan macam apa pula? Suasana sepi, dan sepinya pagi tersebut berlainan dengan sepinya pagi-pagi biasa. Terlihat lebih hidup dan cerah, apabila kita bangun dipagi biasa maka suasana yang dirasakan akan berlainan.

Siangnyapun berbeda, apakah itu karena berpuasa atau tidak namun terasa lain. Sepertinya setiap hari yang kita jalani penuh makna. Sungguh takkan terlupakan. Manis sangat..

Mendekati petang hari maka akan ramai orang terlihat, terutama bagi yang mencari pabukoan. Ramai orang berjualan, di tepi jalan, di muka rumah mereka, ataupun di pasar yang biasanya hanya ramai ketika hari pekan saja. Beragam macam orang keluar untuk mencari makanan guna menemani mereka berbuka puasa. Pada petang hari tersebut sangat banyak uang beredar, hiduplah perekonomian masyarakat.

Namun ada juga keanehannya tuan, bulan yang seharusnya kita dapat berhemat tetapi keadaannya justeru sebaliknya bagi beberapa orang. Mereka menjadi boros, justeru pengeluaran mereka di bulan ini jauh lebih banya pada hari-hari biasa. Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah karena mereka tidak mendapat hikmah dari bulan suci ini. Bulan puasa ini merupakan bulan pelatihan bagi kita umat Muslim, tentunya tuan sudah tahu apa yang kita kendalikan pada bulan ini. Kendali tersebutlah yang kebanyakan gagal pada petang hari di bulan ini.

Ketika berbuka suasana sangat sepi, padahal di hari biasa ketika magrib orang masih ramai di jalan ataupun di kedai. Orang adzan di surau diabaikan oleh kebanyakan muslim, kata orang disaat waktu shalat itu setannya paling banyak, paling hebat, dan paling gigih menggoda umat manusia. Contohnya ialah bagi para pedagang, mereka tentu telah berpengalaman, cobalah tuan tanyakan “apakah disaat waktu shalat itu banyak orang datang untuk berbelanja ke kedai tuan?”

Kami yang pernah mendapati hal semacam ini akan menjawab “Ya tuan, disaat kita hendak shalat itulah orang paling banyak berbelanja, sungguh ther..lha..lhu..!

Suasana akan kembali ramai terasa disaat kita hendak menunaikan ibadah shalat Isya, Tarawih, dan Witir di surau. Banyak orang berlalu-lalang di jalan hendak berangkat ke surau. Untuk yang satu ini beragam kegemaran orang-orang, ada yang sudah suka shalat di surau yang jauh dari rumahnya padahal ada surau yang dekat. Begitulah manusia, beragam isi benak mereka, beragam kesukaan mereka, dan bergam pula pendapat mereka. Yang penting ialah mereka tenang dan merasa nikmat dalam menjalankan ibadah malam mereka.

Shalat Tarawih merupakan suatu ibadah yang hanya ada pada bulan puasa. Tidak terdapat pada bulan lain walaupun kita menunaikan puasa sunat. Itulah yang membuat bulan puasa ini menjadi khas, lain dari yang lain. Ramai orang datang ke surau untuk menunaikan ibadah shalat ini, tua dan muda, bahkan anak-anak yang biasanya membuat ributpun meramaikan Rumah Allah. Tentunya dengan ciri khas mereka masing-masing.

Ceramah ramadhan selalu mengiringi amalan ini, walau terkadang ada juga yang tidak ada sebab ustadz berhalangan hadir dikarenakan sakit atau karena terlalu banyak orderan pada bulan puasa ini.`Namun hampir dapat dipastikan, ceramah ramadhan akan selalu ada menemani ibadah shalat malam kaum muslimin. Ceramah yang terkadang dalam sebulan tidak akan ditemui pada hari-hari biasa. Ceramah ini telah menyemarakkan bulan suci ini.

Adalah suatu kelebihan pada bulan suci ini, surau-surau ramai dikunjungi oleh orang-orang dalam mengerjakan shalat lima waktu. Kecuali pada saat magrib, hanya sebagian saja yang mengunjungi surau, hal ini dapat kita maklumi tentunya. Keadaan berlainan kita dapati pada hari-hari biasa dimana surau lengang. Bahkan di kampung kami, Angku Bila (mu’adzin) hanya adzan di kala waktu Subuh, Magrib, dan Isya saja.

Walau telah sering ustadz berwasiat agar hendaknya surau tidak hanya ramai di bulan suci ini akan tetapi juga pada hari-hari biasa. Namun tetap saja hal yang sama selalu berlaku tiap tahunnya. Dan tentunya kita akan merasa lebih nikmat jika melakukan ibadah shalat di suatu surau apabila jama’ahnya ramai.

Itulah yang kami rasakan tuan, bulan suci ini akan selalu kami kenang. Lintuah hati ini apabila terkenang bulan puasa yang telah lewat. Biasa terasa ketika itu, namun luar biasa apabila terkenang kemudian. Semoga nikmat bulan puasa akan selalu terkenang, terasa, dan menjadi dorongan untuk menjadi muslim yang lebih baik.

Kisah ini merupakan pengalaman kami, dari sudut pandang kami. Tuan dan engku mungkin saja berpendapat lain. Sebab masing-masing kita berbeda dalam memaknai bulan suci ini dan berbeda pula dalam menjalaninya. Semoga di awal Syawal kelak kita menjadi pribadi muslim yang jauh lebih baik. Dan tentunya bagi yang masih bujang & gadis akan menjalani bulan puasa depan berdua dengan yang terkasih, amiiin..

 

 

gambar: internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s