the era of money

Daulu rabab nan batangkai

Kini kucapi nan babungo

Daulu adat nan bapakai

Kini pangkat nan paguno

Daulu samak nan manyeso

Kini tali nan tajelo

Daulu mamak nan kuaso

Kini pitih dan bajaso

Pernahkah tuan bersua dengan sales? Biasanya mereka ini ialah anak bujang atau gadis, masih muda dan menarik. Bagi yang bujang pakaiannya sangat rapi, beju kemeja dengan celana dasar ditambah sepatu yang mengkilat. Pada beberapa sales kami dapati ada yang memakai dasi. Sedangkan bagi yang perempuan ada yang memakai pakaian yang sopan dengan jilbab ala kadarnya. Namun ada juga yang berpakaian ekstra menarik, tuan tentunya paham dengan apa yang kami maksudkan..

Kisah yang akan kami ceritakan ini merupakan gabungan dari beberapa pengalaman yang kami dapat dari mendengarkan percakapan orang tua-tua di kampung. Telah acap kali para sales mendatangi kampung kami. Kebanyakan dari mereka ialah bujang dan gadis yang rupawan, berpakaian rapi dan bersih serta membawa tas. Terkadang mereka juga membawa bungkusan, apabila barang dagangan mereka kecil dan dapat dibawa-bawa maka akan mereka bawa serta. Namun apabila tidak, mereka hanya membawa selebarannya saja.

Beragam tanggapan perihal para sales ini, serta beragam pula cerita tentang mereka. Kebanyakan tanggapan perihal mereka tidak begitu baik. Maklumlah, perihal para sales telah cukup banyak pengalaman orang kampung kami. Mulai yang suka menelpon ke rumah penduduk dengan dalih penawaran hadiah, hingga yang suka bertandang langsung ke rumah penduduk.

Kebanyakan para sales ialah bermulut manis, sebab inilah modal dasar mereka dalam bekerja. Tuntutan kerja mereka sangat tinggi, uang honor didapat apabila barang terjual, belum lagi target yang harus mereka capai dalam bekerja. Orang kampung telah bertambah cerdik, telah dapat membedakan mana yang manis mulut, pendusta, dan mana yang jujur.

Barang-barang yang dijual kebanyakan ialah alat kesehatan dan kebutuhan rumah tangga, sasaran mereka ialah ibu-ibu. Mereka datang begitu pagi mulai bernjak tengah hari, kemudian disaat tengah hari mereka telah beranjak pergi dari kampung kami. Sungguh cerdik sekali strategi mereka, mulai dari pemilihan barang yang diperdagangakan, sasaran, dan metode penjualan. Kaum ibu memang terkenal sangat gemar sekali mempercantik dan menambah koleksi dapur mereka. Juga terkenal tak fikir-fikir dahulu ketika mendapat barang bagus untuk dibeli.

Banyak yang kemudiannya menyesal namun apalah daya, barang telah terbeli. Yang paling tidak disukai dan dinilai rendah oleh kebanyakan orang kampung kami ialah membeli barang dengan cara kredit. Memanglah pada saat sekarang ini telah terjadi perubahan dalam cara pandang orang kampung kami. Misalnya pada masa dahulu sangat terpantang bagi seseorang untuk membeli motor dengan cara kredit. Namun pada saat sekarang sudah banyak yang membeli motor dengan cara kredit. Namun tidak dengan yang lain, membeli televisi, kulkas, kompor, majikkom, dan lain sebagainya dengan cara kredit, dikampung kami merupakan pertanda kepandiran..

Telah banyak bapak-bapak atau para suami yang kesal dengan kepandiran isterinya. Namun apa hendak dikata, selalu saja terjadi hal yang semacam itu.

Namun disisi lainnya ada beberapa faktor yang membuat para ibu bersimpati atau bahkan kami yang masih muda ini juga ikut bersimpati kepada para sales. Tuan tahukan kalau pada masa sekarang sangatlah susah mencari pekerjaan untuk penghidupan kita. Masyarakat kita secara perlahan namun pasti tengah beralih menjadi masyarakat matrealis. Uang menjadi nilai utama untuk menilai seseorang, untuk mendapatkan uang tentunya orang haruslah punya pekerjaan. Dan pekerjaan yang sangat dihargai oleh jenis masyarakat ini ialah PNS. Kenapa begitu tuan?

“Sebab kehidupannya telah terjamin” begitulah pandangan sebagian besar orang-orang.

Salah seorang kawan kami pernah pada suatu ketika secara tidak langsung mengajukan penawaran kepada seorang gadis untuk menikah, lalu ditolak oleh sang hadis dengan jawaban “Tuan carilah kerja dahulu”

“Kenapa begitu dinda?” balas kawan kami.

“Sebab kalau tak ada kerja, bagaimana kita hendak hidup nanti..” jawabnya.

Kawan kami hanya terdiam, dia tersenyum. Pada hal si gadis telah bekerja, dan dia tahu kalau kawan kami ini juga sedang mencari kerja. Pertanyaan tadi hanya sebagai tes, rupanya si gadis tidak sepenuh hati menyintai kawan kami. Ada juga yang berpendapat bahwa si gadis adalah seorang yang realistis. Namun kalau begitu kenapa si gadis mesti ragu sebab dia sudah pegawai pula, apa yang hendak dicemaskan? Itu bukan realistis namanya tuan, melainkan matrealis..

Kita kembali ke para sales tuan, atas dasar hal tersebut di ataslah maka ada beberapa orang di kampung kami yang memberikan simpati kepada mereka. Masih muda belia, baru tamat kuliah dan bahkan ada yang hanya tamat sekolah SMA. Kasihan mereka, bertahan dari kejamnya kehidupan. Syukur mereka masih mau mencari hidup dengan kerja yang halal. Sangat banyak anak muda sekarang demi dunia rela melakukan apa saja yang dilarang oleh syari’at.

Mungkin rasa kasihan itulah yang meluluhkan hati para ibu, mereka adalah seorang perempuan, ada juga yang memiliki anak bujang dan gadis, seumuran dengan para sales. Lintuah hati mereka melihat anak-anak muda ini, langsung terbayang dibenak mereka sang anak yang sedang menuntut ilmu di Padang atau kota lainnya di Pulau Sumatera dan Jawa. Bahkan ada pula yang sedang mencari kerja tuan. Perempuan-perempuan tua inipun tersentuh, bagi yang dapat mengendalikan diri maka mereka akan menolak dengan halus penawaran dari para sales. Namun bagi yang tidak maka mereka akan mendapat tanggapan ketidak senangan dari para suami. Kesal karena uang dihabiskan kepada yang tidak perlu.

Akibatnya sikap antipati kepada para sales ini muncul dikalangan para bapak-bapak. Setiap melihat sales mereka langsung tak senang. Hal inilah yang menimpa salah satu pasangan suami isteri di kampung kami. Tatkala seorang sales datang “Bolehkah kiranya saya meminta waktu agak sebentar kepada ibu? Saya mempunyai alat kesehatan yang sangat bagus sekali, kiranya cocok untuk ibu dan bapak..” tanya seorang pemuda berbadan gemuk kepada sang isteri.

Seketika sang isteri terdiam, terkenang anak bujangnya yang kalau dilihat sekilas pandang berumur tak jauh beda dengan si sales. Sang ibupun berujar “Boleh nak, marilah kita masuk ke rumah..”.

Sang suami yang menyaksikan hal tersebut merasa tak senang, kesal dan takut isterinya akan kena tipu. Ketika isterinya sedang mendengar penjelasan dari sang sales, dia memanggil-manggil isterinya, menyuruh membantu pekerjaannya membersihkan halaman di muka rumah mereka. Beberapa kali ditanggapi dengan sabar oleh sang isteri, akhirnya sang suami kesal dan mulai menyuruh dengan nada kasar. Sang salespun  merasa. Kemudian sang ibu berujar sambil tersenyum “Tampaknya ibu belum membutuhkan alat ini nak,..”

“Ya..mungkin lain kali saja ya buk, dan maaf kalau kedatangan saya telah mengganggu..” ujar sang sales.

“tidak nak, sama sekali tidak..” balas sang ibu dengan lembut.

Selepas kepergian sang sales, si isteri menangis. Tak habis fikir dia melihat kelakuan suaminya, pada hal ini bulan puasa. Apalagi mereka juga memiliki anak bujang yang belum bekerja. Sales tadi rupanya masih sangat muda, baru tamat sekolah SMA, sungguh kasian. Disaat kawan-kawannya yang seumur sedang sibuk dan mengikuti acara penyambutan mahasiswa baru di kampus baru mereka, dia malah keliling kampung di bulan puasa menawarkan produk. Kesal, marah, ataupun perasaan tak senang lainnya dari beberapa orang menjadi kawan setia yang selalu menemaninya. Begitulah sales..

Entah apa yang terjadi di dunia ini pada saat sekarang ini, uang begitu berharga dan dari sanalah orang dinilai. Anak sulungnya telah bekerja menjadi pegawai, “ Dahulu sebelum menjadi pegawai sama sekali tak dipandang orang. Namun sekarang setelah menjadi pegawai mulai banyak orang yang menanyakan. Sungguh sangat ganjil orang-orang ini, dahulu ketika tak bekerja tak tampak di orang anak awak, namun sekarang setelah mendapat SK baru tampak oleh orang anak bujang awak ini”. Begitulah jerit hati sang ibu, kalau tak menjadi pegawai tentunya takkan ada orang yang mau melamar anak bujangnya…

Itulah sepetik kisah kehidupan tuan, sebuah kisah perihal betapa bertuahnya “uang”. Masih adakah orang yang memandang tidak dari sisi “uang”, duhai tuan yang budiman..?

gambar: internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s