Berbuka Bersama

 Lain dahulu, Lain Pula Sekarang

Berbuka bersama merupakan suatu aktivitas wajib yang ada pada bulan puasa. Sangat kurang rasanya apabila tidak mengadakan ataupun ikut dalam acara buka puasa bersama. Entah itu kawan-kawan satu kelas, alumni, satu lingkungan pergaulan, sepasang atau beberapa pasang kekasih, kawan-kawan satu tempat kerja, dan lain sebagainya. Berbuka bersama merupakan sesuatu yang harus, tak dapat tidak, pada setiap bulan puasa. Itulah gaya hidup orang zaman sekarang.

Memang benar nabi kita menyuruh kita untuk menyelenggarakan acara berbuka bersama, tentunya bagi yang mampu. Gunanya iala untuk membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan dalam al rezki. Bukankah itu gunanya bulan Ramadhan, melatih kehalusan hati akan penderitaan saudara-saudara kita yang berkekurangan. Bagi yang mampu tuan, untuk membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu.

Tidak hanya itu, berbuka bersama juga merupakan ajang untuk mempererat tali silaturahmi. Di kampung kami jika satu keluarga mengadakan acara berbuka bersama maka mereka akan mengundang segala karib kerabat. Apakah itu bako, anak pusako (anak pisang)[1], mamak, jiran-tetangga, kenalan dekat, anak yatim, dan ustadz yang akan mengaji di surau. Biasanya 15 hari terakhi merupakan hari yang paling sibuk sebab banyak keluarga menyelenggarakan berbuka bersama.

Tetapi berbagai acara berbuka puasa bersama yang dilakukan pada masa sekarang berlainan maksudnya tuan. Tidak lain dan tidak bukan hanya sebatas formalitas, gengsi kata orang sekarang, ataupun hanya untuk have fun. Yang diundang bukanlah orang-orang yang tak mampu melainkan orang-orang tertentu seperti selingkungan pergaulan, satu sekolah ataupun kuliah, tempat kerja, atau relasi bisnis. Acara diadakan di tempat-tempat bergengsi seperti kafe, retaurant mewah, dan lain sebagainya. Dan biasanya biaya yang tak dikeluarkanpun tidak dapat dikatakan sedikit.

Untuk biaya ada yang memungut bayaran kepada sesama anggota, ataupun ada yang berani menanggung sendiri dikarenakan kelas sosialnya di atas rata-rata. Begitulah acara berbuka bersama yang kebanyakan kami dapati pada masa sekarang. Have fun, hura-hura, ataupun sebatas mendekatkan diri dengan lawan jenis. Kebanyakan dalam acara berbuka bersama ini ibadah shalat Isya, tarawih, dan Witir ikut melayang sebab tidak dilaksanakan.

Tahukah tuan apa yang mencemaskan bagi kami pada masa sekarang? Ialah suatu perkara yang tidak biasa dianggap menjadi biasa, “ah biasa itu..” atau “zaman sekarang biasa itu..” ataupun beragam pendapat lainnya. Kenapa tuan? Jika kita coba nasehati maka kita yang ditertawakan ataupun dihujat “jangan terlalu sok lah..” atau “jangan terlalu kaku begitulah..” ada juga yang menanggapi dengan keras “jangan terlalu fanatik, tidak ada tempat bagi orang fanatik pada masa sekarang..

Pada masa sekarang jika kita coba menasehati orang menuju ke arah kebaikan maka dengan mudah cap sebagai fanatik dikeluarkan. Sungguh sangat berbahaya fitnah dunia pada masa sekarang. Bahkan tak berkata-katapun kita sudah kena juga, hanya karena melihat penampilan kita yang berbeda dengan orang kebanyakan. Pada hal orang lain yang juga berbeda dalam segi penampilan[2] tidak mendapat gugatan yang serupa. Paling keras mereka hanya dipergunjingkan, lalu kemudian dibiarkan.

Nah tuan, dimanakah letaknya sebab musababnya? Hal ini karena pelajaran agama, pemahaman agama, serta teladan yang kurang. Pendidikan agama sangat minim diberikan kepada anak-anak masa sekarang. Beban pelajaran mereka sudah sangat berat, jauh lebih berat dari beban pelajaran kita pada masa dahulu. Apalah lagi sudah sangat jarang didengar orang mengaji disurau pada malam hari. Mengaji perihal fiqih. Kebanyakan orang yang mengaku ustadz pada masa sekarang hanya membahas perkara-perkara ringan yang mereka tiru dari ustadz-ustadz artis di televisi. Sungguh sangat menyedihkan tuan..

Bagaimana pula dengan pemahaman beragama orang zaman sekarang? Pendidikan saja sudah kurang, bagaimana pula dengan pemahamannya tuah? Tentunya kurang pula. Apalagi pada masa sekarang arus liberalisasi sangat gencar-gencarnya menyerang agama kita. Perkara yang haram menjadi halal dan perkara yang halal menjadi haram. Televisi begitu dipercayai, orang yang telah diset sedemikian rupa untuk menjadi ulama dengan mudahnya diterima oleh masyarakat. Karena kurangnya pengetahuan agama mereka tidak dapat mencerna apakah yang disamapiakan kepada mereka itu benar atau salah.

Nah tuan, perkara teladan memanglah sangat susah kita dapati pada masa sekarang. Kalaupun ada maka karakternya akan segera dihancurkan. Takut nanti ditiru oleh kebanyakan orang Islam. Bukankah salah seorang pemuka orang kafir pada masa dahulu pernah berujar “umat Islam tidak akan dapat kita taklukkan selama masih ada Al Qur’an di dada mereka..

Kita sudah tahu menenai ucapan semacam ini, namun sayangnya kita tetap berada dalam kebodohan, sengaja bersikap masa bodoh terhadap agama kita.

gambar: internet


[1] Sebutan untuk anak dari saudara lelaki. Dalam hal ini mengacu tidak hanya kepada anak dari saudara lelaki akan tetapi juga isteri, mertua, dan saudara dekat dari isteri saudara kita.

[2] Suka memperlihatkan aurat, berpakaian sempit, kurang panjang, dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s