Cuti Hari Raya

 Produktivitas & Efektivitas

 

Bilangan Ramadhan hampir usai, satu Syawal telah pula menanti. Apa gerangan yang ada dalam benak sekalian umat Muhammad di negeri ini duhai tuan? Hmm.. salah satunya ialah cuti bersama. “berapa lamakah kira-kira? Bila kita dapat berangkat pulang? Bagaimana dengan tiket? Keadaan jalan bagaimana pula? Dan lain sebagainya…” begitulah kira-kira isi hati kebanyakan para perantau.

Namun apa hendak di kata, cuti bersama untuk hari raya kali ini sangatlah singkat. Satu Syawal jatuh pada hari Ahad tanggal 19 Agustus 2012. Memang libur telah dimulai semenjak dari hari Sabtu tanggal 18 Agustus, namun akhir dari cuti ini ialah hari Rabu tanggal 22, pada hari Kamis tanggal 23 sudah harus masuk pula. Sungguh sangat disayangkan, dua hari sayuik dan tetap harus bekerja, masuk kantor. Kata orang-orang nan hebat-hebat di Jakarta ini ialah demi produktivitas.

Hari Raya merupakan kesempatan bagi setiap muslim untuk bersama-sama dengan keluarga dan seluruh sanak famili. Namun waktu yang diberikan sungguh sangat singkat sekali, coba tuan fikirkan betapa payahnya orang-orang yang harus bolak-balik ke kampung halamannya dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan lama sedangkan masa cutinya singkat. Bagi orang-orang yang jarak tempat bekerja dengan kampung halamannya tidaklah jauh mungkin bukan merupakan suatu masalah.

Memanglah sudah adat di orang zaman sekarang kalau kepentingan dunia haruslah didahulukan, efektifitas kerja, produktivitas, efesiensi, dan lain sebagainya. Tidak hanya bagi orang bekerja saja, bagi anak kuliahpun hingga haris kamis tanggal 16 Agustus mereka masih harus masuk kelas. Sehingga kesempatan bersama keluarga di bulan puasa ini menjadi berkurang.

Hal ini akan terasa berat bagi kaum perempuan, sebab menjelang Hari Raya sangatlah sibuk mereka ini. Kegiatan di dapur dapat kita katakan tak berhenti. Sangat mudah bagi orang lain “kita harus berdedikasi kepada tugas, rela berkorban, dan lain sebagainya..” sangat mudah untuk diucapkan. Namun apabila kepada diri orang yang mengucapkan al tersebut berlaku, maka dia akan kalimpasiangan dibuatnya.

Bagi tuan-tuan yang memahami, hari yang dilewati selama bulan puasa bersama keluarga sangatlah penting dan penuh akan kenangan. Bagi kami sendiri tak apa jika jadwal libur selepas Hari Raya dipersingkat asalkan masa libur sebelum Hari Raya yakni di bulan puasa di perlama. Karena pada saat itulah kenangan manis tercipta bersama keluarga. Bagi kaum perempuan mereka akan sangat sibuk sekali membuat kue untuk dipersembahkan di Hari Raya. Bagi kaum lelaki mereka akan sibuk memperbaiki, memperindah, dan mempercantik rumah.

Tidak demikian pada zaman sekarang, kue untuk Hari Raya telah banyak orang yang menjualnya, sehingga bagi yang tak sempat membuat kue maka cukup dibeli saja. Begitu pula dengan rumah, sudah banyak tukang yang dapat diupah untuk memperbaiki rumah. Walaupun itu hanya sekedar mencatnya saja. Sehingga kebersamaan dengan keluarga menjadi berkurang, ikatan emosional menjadi renggang, sehingga antara sesama saudara tanpa terasa telah muncul jarak. Saling mempedulikan menjadi berkurang. Banyak anak-anak zaman sekarang yang mengabaikan orang tuanya, banyak pula di zaman sekarang antara sesama saudara saling merasa asing. Bahkan mereka merasa lebih dekat dengan kawan sepergaulan sebab dengan kawan-kawan inilah waktu dalam hidup mereka paling banyak dihabiskan.

Hati manusia zaman sekarang semakin cenderung ke dunia. Sekalian keputusan dalam hidup yang diambil lebih menggunakan akal atau bahasa orang sekarang logika dalam mengambilnya. Lalu dimanakah peranan hati? Hampir tidak ada, lamak di awak katuju di urang sudah tak berlaku lagi. Ditertawakan orang awak jika masih berprinsip serupa itu. “Jangan fikirkan orang lain, fikirkan saja diri sendiri..” begitu kata mereka.

Apa sebab sehingga mereka sampai berkata demikian tuan? Tak lain dan tak bukan ialah karena manusia zaman sekarang sudah tidak mempergunakan hati lagi dalam bersikap. Dalam berbicara, bertingkah laku ataupun berbuat, pertimbangan dari hati sudah tidak dipergunakan lagi. Inilah yang dikatakan orang dengan sikap individualis.

Parah tuan, kemana Minangkabau akan dibawa. Kemana pula umat Muhammad ini akan melangkah. Dalam keseharian, orang-orang sudah semakin kasar dalam bersikap dan berbicara. Sopan-santun sudah tak ada, kato nan ampek[1] tinggal barang purba saja lagi.

Wahai tuan, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita orang Minangkabau, orang Islam dalam hal-hal yang demikian. Pada saat ini, sangat susah hidup sebagai Orang Minangkabau dan Sebagai orang Islam di negeri ini.

 

sumber gambar: internet


[1]Kato nan ampek, merupakan suatu aturan dalam bersikap, bertingkah laku, dan berbicara dalam masyarakat Minangkabau. Terdapat empat jenis, pertama kato mandaki ialah cara atau aturan yang dipakai apabila berbicara ataupun menghadapi orang yang lebih tua usianya ataupun lebih tinggi kedudukannya dari kita. Kedua kato manurun, yakni cara atau aturan yang dipakai oleh orang yang lebih tua atau tinggi kedudukannya kepada yang lebih muda. Ketiga kato malereng, yakni cara atau aturan yang dipakai dalam berbicara dan menghadapi orang yang seumur atau setara kedudukannya. Keempat ialah kato mandata, yakni cara atau aturan yang dipakai dalam berbicara dan menghadapi orang yang seumuran atau sebaya. Jenis yang terakhir dipakai oleh anak muda dalam pergaulan sama besar. Sedangkan jenis kata yang ketiga dipakai oleh orang yang seusia namun tidak sebebas jenis yang keempat, sebab mereka masih memperhatikan aturan sopan santun. Berbeda dengan jenis yang keempat.

3 thoughts on “Cuti Hari Raya

    1. Iya kang, sering sedih kami dibuatnya. Kalau difikir-fikir, jika sesuatu yang menyangkut kita umat Islam sering dikecil-kecilkan.
      Mungkin kita harus melatih agar diri lebih sabar ya kang..
      O.. ya kang, Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa siyamakum, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan bathin untuk akang sekeluarga. Terimakasih atas semuanya kang..^_^

      1. Sama-sama🙂
        sampaikan salam dan cinta untuk keluarga di sana
        inilah sebenarnya aplikasi buah dari pelatihan sabar di ramadhan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s