Merayakan ‘Idul Fitri

Berhari Raya di Kampung Kami

Bagaimana kiranya perayaan Idul Fitri di kampung tuan? Seperti kata pepatah, lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya maka begitu pulalah kiranya dengan adat di kampung kami tuan, lain pula dengan adat di kampung kami. Beragam tentunya cara orang merayakan hari besar ini, selain terdapat  juga sebagian orang-orang yang mengaku beragama Islam namun hanya sekedar pengisi kolom di KTP yang ikut-ikutan merayakan hari besar ini dengan hampa. Bagi orang semacam ini, Idul Fitri tak lebih dan tak kurang hanya sekedar ritual belaka.

Tuan, marilah kami coba terangkan perihal perayaan hari besar ini di kampung kami. Setidaknya adat di kampung kami akan menambah pengetahuan kita mengenai tata cara penyambutan Hari Raya di salah satu daerah yang masih terus mencoba bertahan ditengah kejamnya perubahan yang melanda nagari kami. Suatu adat atau kebiasaan yang kemungkinan akan menghilang di tengah-tengah masyarakat kita. Hal ini disebabkan dengan derasnya arus perubahan (infiltirasi) dari budaya asing (alien culture) yang mendera negeri kita. Yang menyebabkan banyak dari orang-orang zaman sekarang  merasa enggan mengikuti segala aturan adat yang berlaku. “Sudah tak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, tidak efektif, dan efisien..” demikian menurut mereka.

Pada sebagian keluarga yang masih bertahan dengan adat lama di kampung kami, maka selesai menunaikan Shalat ‘Ied, sangatlah dianjurkan untuk menziarahi rumah bako[1] terlebih dahulu. Dalam mendatangi rumah bako ini biasanya anak pusako atau anak pisang[2] membawa bungkusan yang berisi kue. Hal tersebut yang berlaku pada masa sekarang tuan. Namun pada masa dahulu, anak pusako akan membawa: Limpiang atau lapek Bugis 12 buah, kalamai sepiring kecil, godok 12 buah,[3] pinyaram 12 buah, kue sapik 12 buah, kue loyang 12 buah sebagai bungkusan. [4] Formasi yang sama masih tetap berlaku untuk membawa bungkusan ke rumah keluarga lainnya namun dengan mengurangi beberapa menu. Begitulah adat yang berlaku di negeri kami duhai tuan.

Walau sekarang telah diperingan dengan dibenarkan hanya membawa kue atau bahkan sekedar pisang satu sikek, namun masih banyak yang tak tahu dengan adat. Mereka tanpa rasa malu melenggang ke rumah bako atau kerabat lainnya hanya dengan membawa badan. Janggal dilihat orang tuan, namun apalah daya, mereka ini tak faham, sangkaan mereka tak apa-apa. Maklumlah, dari orang tua mereka sendiri tidak ada pengajaran perihal ini sebab orang tua mereka tak pula faham perkara remeh temeh semacam ini.

Ketika akan berangkat (pulang) dari rumah bako atau dunsanak, maka bungkusan kita tadi akan diganti dengan 3 (tiga) cupak[5] beras, kalau yang dibawa sebagai buah tangan ialah kue. Namun pada masa dahulu, ketika orang kampung masih membawa lapek, godok, kalamai, dll sebagi buah tangan maka akan diganti dengan 4 (empat) cupak beras. Begitulah adat kami tuan, adat yang telah mulai ditinggalkan orang.

Dalam pandangan masyarakat kampung kami, akan sangat memalukan bagi tuan rumah apabila tetamu dilepas tanpa dijamu dengan aneka macam hidangan yang telah disiapkan untuk Hari Raya ini. Berbeda dengan orang kota yang diberi keleluasaan apakah hendak makan nasi, ketupat, atau sekedar ngemil. Bagi kami di kampung-kampung di Alam Minangkabau, wajib hukumnya untuk makan di rumah dunsanak yang diziarahi ketika Hari Raya. Jika tidak maka kedua belah fihak akan mendapat malu. Jadi tuan maklum sajalah apabila dalam sehari, kami hanya dapat menziarahi tidak lebih dari lima buah rumah.

surau bagonjong

Bagi kebanyakan orang, terutama orang-orang yang mengaku telah lebih maju dan moderen kehidupannya, maka segala macam tata cara (ritual) yang kami terangkan di atas sangat menyusahkan. Kamipun faham, mereka telah lama jauh dari kampung, ataupun yang tinggal di kampung tidak hendak mengetahui perihal tata cara adat di kampung. Bagi mereka segala macam bentuk ritual adat ialah menyusahkan dan membuang-buang waktu. “Penyebab orang Minang masih tetap hidup terbelakang..!!” begitu kata mereka tuan.

Namun tuan, sesungguhnya dengan mengikuti segala macam bentuk tatacara dalam adat tersebut, sebanarnya kita telah melatih diri kita tuan, melatih hati. Memperhalus jiwa, memperlunak hati, memaniskan sikap dan perilaku.  Begitulah tuan, pada diri orang-orang yang mengaku hidup moderen dan terdidik pada masa sekarang, sudah tak ada kami temui kehalusan budi pekerti. Apa sebab? Sebab mereka hanya mementingkan yang perlu-perlu saja, yang tak perlu disingkirkan sebab membuang waktu. Mereka lebih nengutamakan logika, sedangkan hati ataupun perasaan, tak mereka hiraukan bahkan mereka matikan..

Akan tetapi benarkah tidak perlu? perlu tuan. Menurut pemahaman mereka yang tertutup hatinya tentunya tidak. Sebab mereka hanya memandang dari sudut pandang kepraktisannya saja. Sedangkan bagi kita orang kampung yang lebih mendahulukan raso jo pareso, akan terasa mengganjallah kiranya di hati ini.

Begitulah tuan, mudah-mudahan saja adat di kampung kami masih dapat terus bertahan mengawal kehidupan kami, Insya Allah…

gambar: internet


[1] Rumah keluarga ayah

[2] Sebutan untuk anak dari saudara lelaki oleh fihak bako

[3] Hanya bagi yang keluarga dekat saja

[4] Bingkisan, buah tangan

[5] 1 Cupak = ½ liter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s