Puaso nan Lintuah

Duduak surang basampik-sampik

Duduak basamo balapang-lapang

Ini merupakan pengalaman kami dan pengalaman beberapa orang kawan dalam menjalani puasa. Pengalaman yang mengibakan yang akan menjadi kenang-kenangan hidup. Kami baru merasakan pahitnya pengalaman ini sebanyak dua kali puasa, entah kenapa pengalaman semacam ini mendatangi kami. Apakah sebagai pengingat bahwa badan telah beranjak tua atau sebagai teguran supaya diri semakin insyaf akan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim yang belum jua terpenuhi.

Salah satu makna dari bulan puasa ini ialah kebersamaan, sangatlah berharga waktu yang kita habiskan bersama-sama dengan keluarga ataupun orang-orang yang kita cintai. Hal tersebut akan terus terkenang, bangun bersama di pagi hari untuk melaksanakan makan sahur, kemudian pada senja hari kembali berkumpul bersama untuk menikmati santapan berbuka puasa. Terlepas itu apakah makanan yang dimakan merupakan makanan yang enak-enak atau sekedarnya. Hal tersebut tidaklah penting. Sebab yang terpenting ialah waktu yang dihabiskan bersama seluruh anggota keluarga ataupun orang yang dikasihi. Memandangi mereka, canda dan tawa, dan lain sebagainya. Pada hal di hari-hari biasa sering kita tidak dapat menyempatkan diri untuk sekedar makan bersama dengan mereka.

Seperti kisah seorang kawan yang sangat gemar sekali dalam melakukan kegiatan pada suatu organisasi. Menurutnya, kesenangan yang berarti itu ialah tatkala kita dan kawan-kawan sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dalam suatu acara. Suka, duka, canda, dan tawa mengiringi segenap kegiatan kita. Adapun puncak dari suatu kegiatan bukanlah merupakan suatu kesenangan. Melainkan suatu penanda bahwa kebersamaan kita telah berakhir. Kenangan kebersamaan dalam menyiapkan suatu kegiatan, itulah yang akan selalu diingat. Memang susah ketika kita melaluinya, namun manis tatkala kita mengenangnya.

Begitulah tuan,entah kok di kami saja. Sebab beberapa orang kawan-kawan menceritakan kisah yang hampir serupa. Sengsara rasanya tatkala bulan puasa ini harus mereka jalani, seperti jauh dari keluarga, jauh dari orang yang dikasihi. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Seenak apapun makananan yang disantap ketika sahur dan berbuka, menjadi tak terasa di lidah yang tak berasa. Lidah tak berasa karena hati yang merana. Hati merana karena tak dapat merasa kehangatan dari keluarga, dari orang-orang yang dikasihi.

Memang ada jua beberapa orang kawan-kawan yang beranggapan lain. Bagi mereka, tetap saja dapat menikmati sahur dan berbuka walau jauh dari keluarga dan orang yang dikasihi. Tentunya hal semacam itu dapat kita kembalikan kepada diri masing-masing. Bagi yang berasal dari lingkungan ataupun keluarga yang saling mengasihi, saling mempedulikan, dan memiliki ikatan bathin yang cukup kuat. Maka jarak yang memisahkan ibaratkan musuh yang mengepung dari segala arah, terputus segala hubungan dengan yang terkasih, sehingga menyebabkan hati merasa kesepian. Namun bagi yang tidak memiliki ikatan bathin yang cukup kuat dengan keluarga atau orang yang dikasihi, maka bagi mereka tak ada bedanya antara puasa dengan hari-hari lain yang dijalani.

Begitulah tuan pengalaman kami, bagaimana dengan tuan, samakah atau berbeda? Adakah tuan memiliki kisah selama menjalani puasa ini? Apapun itu kisahnya, yang pasti kitakan merindukan kembali datangnya bulan suci ini. Kami sangat merasa kehilangan dengan kepergian bulan ini. Bagaimana kiranya dengan tuan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s