Permata yang jarang disepuh

 Pencak Silat Khas Minangkabau

Sungguh senang hati kami tuan, tatkala kampung halaman kami, Negeri Bertuah Minangkabau Dar Essalam disorot oleh salah satu media televisi di Republik ini. Pada salah satu Program Acara yang kalau kami tidak salah berjudul “Lestari” yang disiarkan pada pukl 3 petang. Program acara ini menyoroti Silat Minangkabau yang menurut Sang Pembawa Acara disebabkan karena kekagumannya terhadap Filem Merantau dan The Raid.

Kedua filem ini dibintangi oleh bintang yang sama, disutradarai oleh sutradara yang sama pula, dan diproduksi oleh Rumah Produksi yang juga sama. Seluruh adegan laga di filem ini diilhami oleh seni bela diri (Silat) khas dari Minangkabau. Oleh karena itu pembawa acara beserta kru dari program acara ini sengaja mendatangi Minangkabau untuk mencari tahu perihal salah satu tradisi silat yang khas berasal dari Minangkabau.

Sungguh senang hati kami tuan, apalagi tatkala mengetahui kalau seluruh adegan laga pada dua filem laga tersebut yakni Merantau yang kisahnya mengenai anak Minang yang merantau dan The Raid yang mendapat pujian di kancah Internasional mendapat ilham dari gerakan Silat Minangakabu. Dan tampaknya sang penata laga di filem ini yang juga menjadi aktor antagonis dikedua filem tersebut merupakan orang yang paham betul ilmu beladiri khas Minangkabau.

Sungguh tak menyangka kami tuan, kami akui kalau kami termasuk sekian banyak orang Indonesia yang telah tercuci otaknya. Bagaimana tidak, kebudayaan ataupun segala yang berasal dari  bangsa lain dianggap yang terbaik dan kebudayaan ataupun segala yang berasal dari negeri sendiri rendah mutunya. Cobalah tuan tengok, produk buatan dalam negeri kalah bersaing di negaranya sendiri. Begitulah tuan, menurut sangkaan kami ilmu beladiri yang hebat itu ialah Kungfu, Karate, Judo, Tinju, ataupun berbagai jenis ilmu beladiri lainnya.

Filem Merantau

Begitulah tuan, tatkala kami melihat sendiri bagaimana hebatnya gerakan laga pada kedua filem tersebut di atas maka berubahlah segala pandangan kami. Sudah salah sangka kami rupanya, selama ini rumput di pekarangan tetangga jauh lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Rasa bangga yang dahulu pernah ada sekarang kembali menjelma. Ya tuan, dahulu sekali tatkala kami masih kanak-kanak kami pernah berlatih randai, sangat bangga dan senang hati kami.

Pada program acara ini Sang Pembawa acara sampai di Bukittinggi, disini dia bertemu dengan seorang guru silat yang menguasai aliran Silat Tuo. Suatu aliran silat yang sangat terkenal sekali keampuhannya. Ahmad Fuadi dalam novelnya Negeri Lima Menara juga menyebut-nyebut perihal aliran silat ini.

Ditunjukkan pula oleh Sang Guru Silat apa-apa saja syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak belajar silat. Syarat yang bukanlah sembarang syarat sebab memiliki makna. Untuk belajar silat, seorang anak akan diantar oleh ibunya sambil membawa persyaratan yang berupa pitih menggo yang merupakan sekeping uang logam lama. Maknanya ialah bahwa murah tak dapat diminta, mahal tak dapat dibeli. Maksudnya ialah bahwa ilmu silat tak dapat dihargai dengan uang, hanya persaudaraanlah yang terjalin antara guru dan murid.

Kemudian ialah pisau kuku, pisau ini melambangkan bahwa ilmu silat itu harus sering-sering dilatih sebab kalau tidak maka akan tumpul layaknya pisau yang jarang diasah. Terakhir ialah beras, yang memiliki makna bahwa hendaknya sianak meniru ilmu padi hendaknya apabila nanti telah pandai bermain silat. Tatkala masih belum berisi padi itu tegak, namun ketika telah berisi, padi tersebut menunduk.

Begitulah tuan sungguh dalam makna filosofi dalam belajar ilmu silat di Minangkabau. Semuanya penuh makna, hanya orang-orang pandir saja yang memandang sebelah mata Kebudayaan Minangakabau. Contohnya ialah filosofi dalam ilmu silat di Minangkabau, akan sangat panjang apabila kami bahas disini tuan (tapi bagaimana pula kami hendak membahasnya, kami sama pandirnya dengan tuan mengenai perkara ini). Cukuplah kami terangkan bahwa dalam bersilat di Minangkabau yang bermain tidak hanya badan (fisik) akan tetapi juga otak (akal). Maka dikenal jugalah para pesilat Minang dengan sebutan Pandekayang artinya Pandai Aka atau Panjang Akal, Pintar, Cerdik, dan Lihai. Sangat berbeda dengan para ahli ilmu beladiri dari daerah lain yang disebut dengan Jagoan yang berasal dari kata Jago yang artinya ayam besar (ayam aduan).

Filem The Raid

Begitulah tuan, yang membuat kami sedih ialah bahwa silat akan halnya dengan kebudayaan Minangkabau lainnya telah tak lagi menarik hati bagi kaum muda saat ini. Banyak sebabnya tuan, namun yang pasti ialah Globalisasi selalu menjadi kambing hitam. Penyebabnya tidak hanya itu, banyak tuan, beberapa diantaranya ialah karena masuknya berbagai jenis ilmu beladiri lainnya ke Minangkabau, semakin sibuknya anak-anak pada zaman sekarang dengan berbagai kegiatan ektrakurikuler. Namun yang pasti ialah penyebab utamanya menurut kami ialah karena ketiadaan pewarisan dari generasi tua ke generasi muda. Para guru kewalahan menghadapi sikap acuh tak acuh dari generasi muda sehingga muncul rasa jenuh untuk mengajar.

Maklumlah tuan, zaman telah berganti dan tak lagi sama seperti dahulu kala. Kata orang pemasaran sekarang, kemasannya kurang menarik. Begitulah kira-kira kenapa ilmu silat khas Minangkabau kurang mendapat tempat di hati anak muda.

Mudah-mudahan dengan tangah terkenalnya adegan laga dalam Filem The Raid ini dapat menarik hati para generasi muda Minangkabau untuk kembali mendalami salah satu ilmu beladiri khas negerinya. Insya Allah..

sumber gambar: internet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s