Ranah 3 Warna

Antara Cinta & Harapan

  Ranah Tiga Warna, merupakan roman kedua dari tiga seri (trilogy) Roman Lima Menara. Roman ini ditulis oleh seorang penulis dari Minangkabau, tepatnya seorang anak kampung yang berasal dari Nagari Bayua (Bayur) Maninjau Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat. Engku Ahmad Fuadi begitulah nama dari lelaki kelahiran 1972 ini, dalam roman yang juga merupakan gambaran kisah hidupnya sendiri ini (autobiografi) beliau menyandangkan nama Alif Fikri untuk nama sang tokoh utama. Sama saja tuan, inisial mereka kan sama.

Selepas membaca Roman Negeri Lima Menara, semakin tergerak hati kami untuk membaca kelanjutan dari roman tersebut. Padahal sebelumnya kami merasa enggan membaca roman pertama tersebut. Sekarang, kami menjadi tidak sabar untuk membaca roman ketiga yang merupakan roman terakhir.

Kalau roman pertama berkisah perihal kehidupan menghabiskan masa belia di Pondok Pesantren Gontor. Maka roman kedua ini berkisah perihal pengalaman hidup dari Engku Ahmad Fuadi berjuang untuk dapat memasuki Universitas Negeri ternama di Pulau Jawa, pahit getirnya kehidupan anak rantau, perjuangan mencapai Kanada, hingga akhirnya menamatkan pelajaran di sana.Namun yang terpenting dari itu semua ialah perjuangan bathin dalam menghadapi perasaan cinta yang tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Suatu perasaan yang seharusnya mendatangkan berkah kesenangan namun kenyataannya justeru pahit dan siksa yang dirasa dalam menghadapi itu semua.

Sang Penulis, Engku Ahmad Fuadi

Terus terang tuan, tatkala kami membaca roman pertama kami sangat merasa asing. Sebab kisah hidupnya sangat berlainan dengan yang kami miliki. Ada sedikit rasa iri, sebab entah karena kepandaian dari Si Engku ini maotai pembacanya ataukah memang kisahnya yang menarik hati. Namun yang pasti kami sedikit merasa iri dengan pahit-manisnya kehidupan yang dijalani oleh penulis ini di dalam pondok. Kemudian roman kedua ini, sangat memukau sekali semangat yang dimiliki oleh Engku Ahmad Fuadi dalam menjalani kerasnya kenyataan hidup. Kematian seorang ayah sangatlah menghancurkan perasaan seorang anak lelaki, apalagi dia merupakan anak lelaki satu-satunya, anak sulung pula. Kami paham tuan, sebab kamipun anak sulung dalam keluarga. Sangat berat tanggung jawab yang harus dipikul oleh anak sulung dalam keluarga Minangkabau Tradisional.

Quebec, inikah pendangan kota dikala musim dingin yang disaksikan oleh Engku Ahmad dahulunya?

Namun dari sekian banyak kisah hidup yang dijalani oleh Engku Ahmad Fuadi, kisah percintaan yang paling menarik hati kami. Kami tahu bahwa tuanpun demikian. Namun yang membuat kami tertarik bukan karena kisah itu sendiri, melainkan persamaan perasaian cintayang dialami penulis dengan kami. Sungguh melegakan bahwa ternyata ada kawan senasib dalam hal percintaan. Selama ini kami mengira, bahwa kami inilah merupakan satu-satunya orang termalang dalam perkara cinta di negeri ini. Sangatlah mengesalkan tuan, apabila kami menonton sebuah filem ataupun membaca sebuah roman yang berkisah perihal cinta masa kecil yang abadi, kisah percintaan semasa sekolah, ataupun nikmatnya cinta semasa kuliah. Kenapa tuan? Sebab kami tidaklah mengalami itu semua, setiap kami menaruh hati kepada seorang gadis, maka selalu berujung petaka, sang gadis tak memiliki rasa yang sama kepada kami. Sungguh malang sekali nasib anak bujang yang satu ini, terlalu tinggi menggantung harapan.

Musim Semi di Quebec

Dalam roman yang dikisahkan oleh Engku Ahmad Fuadi ini, beliau berkisah perihal gadis yang telah ditaksirnya semenjak lama, semenjak awal kuliah. Bermacam parasaian yang dialaminya dalam memendam rasa cinta dan kasihnya kepada gadis tersebut. Namun apalah daya kalau ternyata sang gadis memiliki syarat yang cukup berat untuk dipenuhi. Berusahalah dia memenuhi persayaratan tersebut, namun apalah daya, dia telah terlambat, tinggal sejengkal lagi tuan. Namun Si gadis rupanya sudah ditaksir orang lain, dan orang lain itupun bergerak cepat untuk mendapatkan si gadis. Akhirnya dia hanya dapat malapeh hao, namun yang paling menyakitkan ialah si gadis rupanya diambil oleh sahabat semenjak kecilnya dahulu. Kawan yang selama ini telah menjadi lawan.

Satu hal yang tak disadari oleh Engku Ahmad Fuadi ialah bahwa selama ini, semenjak kecil, beliau telah berada di bawah bayang-bayang Si Randai, kawannya sendiri. Seluruh hidupnya tercurahkan untuk berlomba dalam persaingan dengan randai. Beliau tak mau kalah, ingin pada suatu ketika berada di atas randai, mengalahkannya. Dan itulah yang didapatnya, akhirnya beliau dapat mengalahkan kawan semasa kanak-kanaknya. Namun benerkah demikian tuan? Tidak, sebab Randai selalu membayangi dirinya. Dalam pandangan kami, Randai masihlah tetap sebagai pemenang dan Engku Ahmad Fuadi masih dalam keadaan orang kalah, itulah tampak di akhir kisah ini. Kita tengok saja tuan, apakah di roman yang  ketiga Engku Ahmad Fuadi berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang Randai. Bagaimana gerangan pendapat tuan?

Memanglah kuncinya ialah mengikhlaskan, itu saja tuan, kalau sudah diikhlaskan maka sakitnya takkan terasa lagi. Tapi sayang tuan, perkara mengikhlaskan merupakan perkara tersulit untuk dijalani. Ini perkara hati tuan, dan terkadang sebagai Sang Pemilik, sangatlah susah bagi kita mengendalikan perasaan yang tumbuh dalam hati ini.

Demikianlah tuan, terimakasih kami ucapkan kepada Ahmad Fuadi yang telah berbagi kisah cintanya. Sebab agak berkurang jualah rasanya beban yang menghimpit di dada ini. Semoga saja mantra man shabara zhafira manjur terhadap diri kami tuan, semoga saja, Amiiin…

sumber gambar: internet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s