Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?

Mengajar atau Mendidik?

Ini merupakan sebuah kisah yang terjadi di kota tempat kami bekerja, kami dapatkan dari seorang kawan. Kawan satu kantor kami, seorang perempuan berusia tiga puluhan dengan dua orang anak yang bersekolah di Sekiolah Dasar. Kisah ini perihal keadaan pendidikan di negeri ini, kisah mengenai guru dan murid. Semoga saja kisah ini dapat memberikan gambaran kepada kita semua, bagaimana keadaan pendidikan di negeri. Semoga dapat menginsyafi kita, mengapa banyak dari anak-anak zaman sekarang yang tak bataratik, beretika.

Alkisah pada suatu ketika, dikelas yang diikuti oleh salah seorang anak dari kawan kami ini, terjadi suatu kejadian. Ketika itu sedang mata pelajaran agama, sang guru rupanya kesal kepada salah seorang anak muridnya yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Karena sangat kesalnya, sang guru marah “Anjiang ang, wa ang ka wa ang juo lai! Den suruah mangarajoa pe-er ndak ang karajoan. Kanciang ang..!” begitulah maki sang guru.

Tahukah tuan apa gerangan arti dari kata-kata tersebut? Beginilah kira-kira artinya “Anjing kamu, masih kamu juga lagi! Aku suruh mengerjakan pe-er tidak kami kerjakan. Kencing kamu..!” begitulah tuan.

Kata-kata semacam itu pada masyarakat Minangkabau hanya digunakan oleh orang-orang tidak berpendidikan atau oleh orang-orang dari keluarga yang rendah statusnya dalam pandangan masyarakat. Keluarga yang tidak beres, begitulah kalau menurut istilah orang zaman sekarang. Selain itu, orang-orang di balai atau pasar juga sering menggunakan ini. Oleh karena itu pada masyarakat Minangkabau lazim juga disebut sebagai Bahasa Balai. Bahasa Balai tersebut merupakan bahasa yang rendah, bahasa yang dihindari pemakaiannya dalam keluarga atau lingkungan pergaulan bermasyarakat. Apalagi digunakan oleh seorang guru dalam mengajar anak didiknya.

Kata aden merupakan kata ganti untuk orang pertama yang hanya boleh diucapkan dalam percakapan dengan orang yang sama besar. Biasa juga digunakan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda namun hanya dalam lingkungan informal bukan formal serupa di sekolah. Kata aden ini sudah jarang dipakai oleh masyarakat Minangkabau, kecuali oleh orang-orang lama (orang tua) atau orang-orang tradisional. Anak-anak muda Minangkabau sekarang, juga ada yang masih menggunakan kata-kata ini dalam pergaulan mereka. Namun jumlah penggunanya semakin berkurang. Kata yang lebih sopan sebagai pengganti aden ialah ambo dan awak[1].

Sedangkan kata wa ang merupakan kata ganti untuk orang kedua. Kata ini juga sudah semakin berkurang penggunanya, walau tidak sedrastis kata aden. Kata Wa ang sebenarnya merupakan kata ganti untuk orang kedua laki-laki, namun pada kenyataannya pada masa sekarang kaum perempuan pun menggunakannyan sebagai kata ganti orang kedua pengganti kata kau. Menurut mereka, menggunakan kata ganti kau sangat kasar dalam pergaulan mereka. Sedangkan kata ang atau wa ang halus maknanya bagi mereka. Kata ini mulai digunakan oleh kaum perempuan semenjak sekitar akhir tahun 1990-an. Pada awalnya penggunaan kata ang untuk perempuan sempat mendapat tantangan. Beberapa kawan perempuan kami semasa di sekolah dahulu pernah dihukum oleh para guru. Namun ekspansi kata ini tak terbendung, kian hari kian banyak kaum perempuan yang menggunakannya. Karena menurut mereka penggunaan kata ini merupakan kata gaul bagi mereka. Pada saat sekarang banyak ibu-ibu yang menggunakan kata ini. Sungguh sangat memprihatinkan tuan..

Sedangkan anjiang dan kanciang tidak perlu kiranya kami jelaskan artinya kepada tuan. Tanpa kami jelaskanpun tuan sudah faham dengan makna dan artinya. Kata ini merupakan kata umpatan dan merupakan salah satu dari sekian banyak dari kata-kata terlarang dan terendah dalam masyarakat Minangkabau. Orang yang berani mengucapkan kata-kata ini berada dalam keadaan emosi yang tak terkendali. Dan biasanya status sosialnya atau penghargaan dari lingkungan kepada orang-orang ini menjadi berkurang.

Begitulah tuan, ketika rapat komite kawan kami ini menyampaikan hal semacam ini kepada Kepala Sekolah. Rupanya tidak hanya dia seorang yang mengeluhkan hal semacam ini, banyak rupanya orang tua murid yang merasa resah melihat kepribadian guru yang satu ini. Apalagi guru itu ialah guru agama.

Majelis gurupun segera melakukan rapat, rupanya para guru memiliki pendapat yang berlainan dengan orang tua murid. Mereka memihak kepada kawan mereka. Apakah alasan para guru ini tuan?

Tatkala pembagian rapor, dihadapan para orang tua murid para guru memaparkan “Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Dari sekian banyak mata pelajaran anak-anak di sekolah kita ini, hanya mata pelajaran Agama yang nilai mereka yang tuntas. Ini merupakan buah dari metode pendidikan yang dijalani oleh Guru Agama kita..”

Kawan kami ini rupanya bijak juga, melihat gelagat semacam itu dari para guru, dia putuskan untuk diam. Tak ada gunanya menyanggah sebab mata hati para guru ini sudah tertutup. Ya tuan, cobalah tuan tengok, betapa banyak guru-guru yang berbuat galia, curang dengan beragam cara berusaha membuat anak-anak murid mereka untuk lulus ujian. Mulai dari membocorkan soal, memberikan jawaban, hingga terang-terangan menunjukkan jawaban untuk anak muridnya di kelas ujian.

Ya tuan, nilai sangatlah perlu bagi para guru sekarang. Sebab jika nilai anak-anak murid mereka bagus, maka atasan mereka akan senang dan memberikan penghargaan. Atasan dari atasan merekapun akan memberikan penghargaan kepada atasan mereka. Dan begitu selanjutnya sampai ke pucuk.

Kami teringat kembali akan salah satu dialog dalam Filem Serdadu Kumbang Produksi Alenia Picture. Begini kira-kira “..saya tidak ingin cucu saya cerdas di otak tetapi tidak cerdas di hati..” rupanya tidak hanya di negeri kami saja tuan.

Kebanyakan guru pada masa sekarang ini hanya mengajar saja tidak mendidik. Mengajar tidaklah susah tuan, melainkan mendidik itu yang susah. Mengajar hanya sebatas di otak saja, sedangkan mendidik harus merasuk ke hati. Hanya orang-orang dengan jiwa yang besar dan hati yang lapang sajalah tuan yang dapat mendidik seseorang.

Begitu juga para guru, pada saat sekarang ini mereka hanya mengejar sertifikasi supaya dapat naik pangkat dan bergaji besar. Mencari dan menambah jam mengajar ke sana-ke mari, tetapi kualitas yang mereka berikan diragukan tuan. Ingat tuan kata kuncinya, mengajar dan mendidik.

Jadi tuan, pantaskah guru-guru sekarang disebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Memang tuan, kamipun faham, tidak semua guru semacam itu. Namun sama dengan polisi tuan, sangatlah susah mencari guru yang sebenar guru pada masa sekarang.

Dimanakah salahnya tuan? Kamipun tak tahu hendak menjawab apa. Namun cobalah tuan tengok. Pada masa sekarang ada perbedaan antara ilmu murni[2]  dan ilmu pendidikan[3]. Ilmu murni lebih mengarah kepada penelitian, pengembangan, pendidikan, dan pengabdian. Sedangkan Ilmu Pendidikan lebih mengarah kepada pengajaran. Para sarjana yang tamatan dari ilmu pendidikan ialah guru, mereka diajar untuk mengajar, “bagaimana dengan cara atau metode untuk mendidik? Apakah diajarkan juga?”

Entahlah tuan..

“Untuk melakukan penelitian?”

Kami tak tahu tuan tuan..

“Untuk mengembangkan Ilmu (disiplin ilmu dan metode pengajaran dan pendidikan)?”

Kami tak pernah dengar perihal itu tuan..

“Untuk pengabdian atau mengabdiakan ilmu ke tengah masyarakat?”

Tak pernah berjumpa oleh kami tuan..

“Untuk pendidikan?”

Kan sudah kami katakan, mereka hanya mengajar tuan..!

“Yaa.. Salam…”

sumber gambar: internet


[1] Kata awak memiliki arti ganda, tergantung penggunaannya. Dapat berarti saya dan dapat pula berarti kami, dan dapat juga berarti kamu.

[2] Illmu Murni ialah Disiplin Ilmu Non Kependidikan. Isitilah ini hanya muncul dikalangan masyarakat dan informal lainnya. Tamatan dari disiplin ilmu ini apabila hendak menjadi guru harus mengambil Akta Empat terlebih dahulu. Di Sumatera Barat, Kampus Unand (Universitas Andalas) dikenal sebagai Kampus Ilmu Murni karena tidak membuka Fakultas Ilmu Kependidikan. Para lulusannya berkarir profesional, ataupun kalau PNS bekerja di Kantor Dinas. Mereka didik untuk melakukan penelitian dan pengembangan atas disiplin ilmu mereka.

[3] Ilmu Pendidikan ialah ilmu-ilmu yang diajarkan di Fakultas Ilmu Pendidikan yang lulusannya bergelar Sarjana Pendidikan. Mereka hanya dapat berkarir sebagai guru di sekolah-sekolah. Di Sumatera Barat kampus UNP (Universitas Negeri Padang) dikenal sebagai penghasil para guru. Dahulu kampus ini bernama Institut Ilmu Keguruan (IKIP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s