Bagaimana baiknya shalat berjama’ah?

Shalat Berjama’ah

Sudah beberapa lama ini kami menyimpan pertanyaan di dalam hati kami perihal salah satu kejadian janggal yang kami temui tatkala shalat berjama’ah di salah satu surau di kota tempat kami mencari hidup. Kami akui kalau kami ini termasuk orang yang masih kurang pengetahuan agamanya. Hingga kini masih terus berusaha menambah kekurangan dalam pengetahuan agama tersebut.

Adapun kejadian yang membuat kami bertanya-tanya ialah perihal menyusun shaf ketika shalat berjama’ah. Hampir disetiap melaksanakan shalat secara berjama’ah, di surau manapun, selalu kami dapati bahwa para jama’ah tidak menyadari atau tidak mengetahui mengenai aturan dasar shalat berjama’ah. Yakni shaf haruslah rapat, kaki haruslah rapat (minimal kedua ujung jari kelingking harus bertemu), tidak boleh ada jarak. Namun hingga kini, pada sebagian besar jama’ah shalat merasa enggan merapatkan shafnya. Kalau bertemu kedua ujung jari, maka selalu direnggangkan kembali. Bahkan ada yang berjarak sampai lima centimeter bahkan lebih.

Adapun tata cara dalam merapatkan shaf, sejauh pengetahuan kami ialah ketika imam sudah berdiri di muka, maka jama’ah segera menyusun barisan di belakang. Pertama sekali haruslah diisi shaf di belakang imam, kemudian melebar ke kanan dan kemudian ke kiri. Bagi shaf yang di kanan merapat ke kiri sedangkan yang di kiri merapat ke kanan. Arti kata jama’ah yang berdiri di tengah tetap diam tak bergerak sebab dia menjadi patokan dalam merapatkan shaf (barisan). Begitu juga untuk shaf yang berikutnya, juga berlaku hal yang demikian.

Namun perkara janggal kami temui di salah satu surau, dimana patokan untuk merapatkan shaf ialah ke sebelah kanan. Artinya para jama’ah merapat ke kanan termasuk yang di tengah atau di belakang imam. Kami heran, benarkah demikian. kalau benar maka ilmu agama kami yang harus kami perbaiki. Namun hal ini terus dan sangat mengusik. Hingga kini hati ini terus tak tenang.

Beberapa kali orang yang berdiri di tengah “di paksa” merapat ke kanan oleh para jama’ah yang rata-rata sudah tua bangka. Sebagai orang muda kami hanya diam saja “ikuti saja arus air, jangan melawan” seperti kata pepatah. Tapi sudah lama rasanya arus air ini kami ikuti, dan rasanya semakin tak tenang hati ini pabila terus menggikuti.

Bagaimana kiranya pandangan tuan perihal perkara ini?

sumber gambar: http://mudha.web.id/gambar-panduan-shaf-dalam-shalat-berjamaah.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s