Negative Thingking

Buruk Sangka

Pagi ini kami dapati salah seorang kawan kami sedang bermuram durja, roman mukanya seperti memancarkan kesedihan. Kami hanya diam mendapatinya, tak berani menyapa apalagi bertanya kepadanya. Berdasarkan pengalaman kami, orang yang berada dalam keadaan seperti ini sangat perasa, mudah sekali tersinggung.

Namun apalah daya, sebab kami terpaksa jua bercakap kepadanya sebab ada beberapa perkara yang hendak kami tanyakan kepadanya. Kawan kami ini hanya menjawab sekenanya. Tak ada gairah dalam jawaban yang diberikan, sepertinya kawan kami ini sedang berputus asa.

Akhirnya kami putuskan untuk memberanikan diri untuk bertanya namun kami usahakan dengan nada bicara sambil bergurau “Kenapa engku? Sedari tadi awak tengok diam tak bercakap. Apakah sudah disuruh kawin oleh orang tua di kampung?”

Kawan kami ini menengok sekilas kepada kami, sambil menyunggingkan senyum dia bercakap “Ah.. tidak engku, biasa sajalah..”

“Ah.. roman muka engku saya tengok tak seperti biasa, manalah boleh dikatakan biasa saja.?.” balas kami sambil meneruskan gurauan.

“Haha.. ada-ada saja engku ini. Ada yang saya rusuhkan engku, tetapi bukan perkara “kawin”. Hingga kini masihlah sama nasib awak, bingung hendak kawin dengan siapa..” balasnya.

Kamipun tertawa bersama-sama. Memanglah kami berdua ini merupakan dua orang kawan senasib. Kalaulah boleh meminjam pantun seperti yang dimuat oleh Engku Ahmad Fuadi dalam roman yang dikarangnya. Seperti inilah kira-kira bunyinya:

Dahulu jual mengkudu

Sekarang jual durian

Dahulu tak laku-laku

Sekarang jadi rebutan

Begitulah tuan, tatkala badan masih marasai[1] masa dahulu tak ada yang mau, tetapi sekarang setelah menjadi pegawai, beruntun lamaran yang datang.[2] Begitulah sekarang, ketika harta dan tahta menjadi ukuran dalam pergaulan hidup sehari-hari. Yang kuat dialah yang menang, yang beruang dialah yang kaya, yang bekerja dialah yang berjaya.

“Ah..janganlah bingung, kan sudah banyak yang menurut[3] engku di kampung..” balas kami.

Kawan kami inipun tersenyum, tampaknya dia tak hendak melanjutkan percakapan perihal jodoh ataupun kawin. Kamipun faham, kami coba kembali untuk menyidiki perihal perkara yang merusuhkan hatinya.

“Kalau begitu engku, apa kiranya persoalan yang mengganggu hati dan fikiran engku saat ini? Sampai tak elok muka engku dipandang orang. Saya khawatir nantinya banyak yang lari beigitu bersua dengan engku..” gurau kami kepadanya.

Diapun menjawab “Ah.. engku ini, dari tadi mencoba terus. Tapi tak apalah kepada engku akan saya terangkan. Ini hanyalah perkara hubungan kita sehari-hari saja engku. Rupanya selama ini saya telah buruk sangka kepada salah seorang kawan kita..”

Kamipun menjadi penasaran “Kepada siapa engku telah berburuk sangka..?”

“Kepada orang yang kita perbincangkan kemarin dahulu engku..” balasnya.

Kamipun mencoba menenangkannya dengan berkata “O.. macam itu rupanya, janganlah begitu rusuhnya engku. Engku kan tinggl meminta maaf saja..”

“Ah.. tak semudah itulah engku, dia kan tidak tahu perkara ini. Mengutarakan hal tersebut justeru akan dapat membuat hubungan kami menjadi semakin buruk saja…” jawabnya.

“Kalau begitu engku tenangkan saja hati dan fikiran engku. Berdo’a dan minta ampun kepada Allah, kemudian engku perbaiki saja sikap engku kepadanya..” bujuk kami.

Sambil menunduk dia berujar “Mungkin itulah satu-satunya jalan engku, itu pulalah yang ada difikiran saya saat ini. Lagi pula ini bukanlah pertama kalinya saya berburuk sangka kepada orang. Entah telah berapa kali, akan tetapi selalu saja saya mengulanginya. Sungguh bodohnya saya engku..”

“Sudahlah engku, janganlah terlalu difikirkan. Allah itu Maha Pengampun..” ujar kami pula.

Kawan kami inipun hanya tersenyum ragu, diapun kembali sibuk dengan pekerjaannya, begitu pula dengan kami. Sesungguhnya apa yang dirasakan oleh kawan kami inipun juga pernah kami rasakan. Berburuk sangka kepada orang karena menurutkan kehendak nafsu. Sudah beberapa kali perkara ini terjadi dan tersu saja berulang, padahal kami telah berusaha untuk berhati-hati.

Adalah suatu keanehan, tatkalah kami berburuk sangka kepada seseorang, maka apa yang kami rasakan tersebut hanyalah angan-angan belaka. Pada kenyataannya orang yang kami sangkakan tersebut tak seperti yang kami kira. Akan tetapi, apabila kami berbaik sangka kepada seseorang, maka yang sebaliknyalah yang terjadi. Ya tuan, rupanya orang yang kami berbaik sangka kepadanya justeru orang inilah yang menikam dari belakang. Sungguh aneh kejadian yang kami alami dalam kehidupan ini tuan..

Begitulah tuan, sebuah kisah dari kawan kami. Terkejut sebenarnya kami mendengar kisahnya sebab kisahnya tersebut juga pernah kami alami. Tidak hanya sekali, akan tetapi beberapa kali. Semoga saja dosa kita diampuni oleh Allah Ta’ala dan janganlah terulang lagi hendaknya.

 

 

 

 

sumber gambar: internet


[1] Marasai artinya susah, sengsara, miskin, dan melarat

[2] Pada adat di sebagian besar nagari di Minangkabau, kaum lelakinya di lamar. Hanya pada beberapa nagari saja perempuan yang dilamar.

[3] Sebutan untuk melamar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s