Wujud Cinta dari Rabb..

Berkah & Musibah

Keadaan di atas jambatan Batu Busuak, Pauah

Memanglah sayang sekali Allah Ta’ala kepada orang Minang, bagaimana tidak tuan. Cobalah tuan bayangkan, tatkala berbagai negeri di Pulau Jawa dilanda oleh kekeringan akibat musim kemarau panjang, maka tidak demikian halnya dengan Tanah Minangkabau. Semenjak akhir dari bulan Agustus hingga bulan September ini, hujan masih saja sering menyinggahi negeri kami. Walau beberapa orang masih saja mengeluh karena dengan turunnya hujan menghalangi segala pekerjaan yang mereka lalukan. Namun hujan tak hendak pergi, masih setia dan ta’at menjalani Sunnah Tullah.

Hujan itu rahmat, begitulah kata ustadz. Di Minangkabau, orang dapat dengan mudah menjumpai air di sumur-sumur yang mereka gali di belakang rumah. Ataupun di Batang Aia (sungai) yang terletak tak jauh dari rumah tempat tinggal mereka. Sedangkan di Pulau Jawa, orang-orang sampai berjalan berkilo-kilo hanya untuk dapat menjumpai air. Maka nikmat tuhan yang manakah yang engkau dustakan..

Namun tuan, tak semua orang Minang yang mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah ta’ala tersebut. Masih saja keengkaran yang mereka kerjakan, kekafiran semakin menjadi. Surau-surau masih lengang, sembahyang masih banyak yang orang-orang ini tinggalkan, dunialah yang mereka jadikan panduan. Perkara akhirat perkara kudian,[1] “dengan beribadah takkan mendatangkkan apa-apa yang dapat dimakan” begitulah pendapat mereka kira-kira tuan.

Cobalah tuan tengok, semakin hari semakin banyak anak gadis Minang yang batilanjang, semakin banyak pula anak bujang di Minangkabau yang berkelakuan bak kumbang. Sebentar hinggap di sana, lalu pindah lagi ke tempat lain, kemudian tak lama kemudian pindah lagi. Serupa kumbang cirik tuan, hinggap ditempat kotor, mendatangkan bau yang tak sedap, mengganggu ketenangan orang saja kerja mereka.

Oleh karena itulah rupanya Allah Ta’a memberikan teguran kepada orang Minang. Ya tuan, teguran, pengingat bahwa kita telah jauh dari perintah dan dekat dengan laranganNya. Sebuah peringatan yang hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh orang-orang yang berhati suci, berhati bersih. Sedangkan bagi orang kafir, hal tersebut merupakan bencana.

Keadaan jambatan batubusuak dar bawah

Hari Rabu tanggal 12 September kemarin telah terjadi suatu musibah yang menimpa saudara-saudara kita di daerah Limau Manis, Pauh-Padang. Banjir bandang melanda negeri mereka, dikabarkan empat orang meninggal dan pada hari Kamis tanggal 13 September baru dua orang yang didapatkan mayatnya. Sungguh kasihan tuan, sudah musibah yang tak disangka. Memanglah pada bulan puasa yang lalu yang jatuh pada bulan Agustus musibah ini pernah datang melanda. Akan tetapi tak ada korban jiwa tuan, hanya rumah yang hanyut, sawah dan ladang yang rusak, serta jalan ataupun jembatan yang putus.

Peringatan pertama telah datang, dan sekarang datanglah peringatan kedua, akankah kita masih tetap engkar tuan? Menurut kabar sementara yang kami dapat, penyebab banjir bandang tersebut ialah karena derasnya hujan yang turun di sekitar daerah tersebut. Hujan tuan ternyata penyebabnya. Alangkah sangat menggenaskan, rahmat yang semula kemudian menjadi petaka. Telah nyata kerusakan di darat dan di laut sebagai akibat ulah tangan manusia.

Baiknya musibah ini menjadi sarana untuk menghisab diri kita. Bukankah semua ada penyebabnya, tak mungkin musibah ataupun peringatan Allah ini datang tiba-tiba. Tidak ada yang kebetulan tuan, semua telah tertulis dalam Lauh Mahfudz.

Cobaan bagi yang beriman, peringatan bagi yang engkar, dan siksaan bagi yang kafir. Itulah makna dari musibah yang diturunkan oleh Allah kepada kita umat manusia tuan. Sekarang mulailah kita menghisab diri, termasuk jenis yang manakah kita diantara ketiga makna di atas.

Bukankah semasa kita kanak-kanak dahulu orangtua kita sering memperingati, menasehati, ataupun memarahi apabila kita berbuat salah. Apatah lagi Allah Ta’ala Sang Pencipta sekalian alam ini, mana mungkin Dia akan membiarkan umatnya tenggelam dalam keengkaran. Cinta Allah lebih besar dibandingkan cinta dari orangtua ataupun orang terdekat kita tuan. Jadi tuan, janganlah berburuk sangka kepada Allah. Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, dan juga Maha Penerima Taubat.

Tuan, marilah kita kembali kepada syari’at. Memanglah yang mendapat musibah saudara kita di Kota Padang sana. Akan tetapi juga menjadi pengingat bagi kita yang jauh ini hendaknya. Janganlah dinanti sampai pula peringatan Allah kepada kita. Takkan berani kita menghadapinya tuan.

Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah..

Jangan pernah sekali-kali melepaskan Islam sebagai agama kita, jauhi laranganNya dan dekati perintahNya. Pelajari agamanya dan tunaikanlah segala kewajiban yang terdapat di dalamnya. Begitu pula dengan adat, adat di Minangkabau telah jalin menjalin dengan Hukum Syara’. Hanya orang-orang pandirlah yang berpendapat berlainan. Memanglah terdapat beberapa dari adat kebiasaan di beberapa nagari di Minangkabau yang masih bertentangan dengan hukum Syara’ akan tetapi itu hanya tinggal sedikit saja tuan. Kebanyakan dari nagari-nagari di Minangkabau telah meninggalkan adat jahiliyah yang dianut sebelum Perang Paderi.

Berbagi sangkalah kepada Islam agama kita

Dan berbaik sangka pulalah kepada Adat Resam di negeri kita

Insya Allah akan menjadi penyelamat bagi kita

Amiin ya Allah…


[1] Belakangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s