Ghibah

Nafsu,  Prasangka, Kebencian, & Kenyataan

 

Adalah sudah menjadi tabi’at kebanyakan manusia zaman sekarang yang suka sekali bergunjing (ghibah), memperbincangkan keburukan orang lain, dan kemudian membesar-besarkannya. Permasalah yang semulanya hanyalah perkara kecil yang tak patut menjadi bahan perbincangan kemudian menjadi besar dikarenakan m enjadi bahan utama dalam bergunjing. Apalagi jika nafsu, amarah, dan kebencian telah bersatu padu mengalahkan kearifan dan akal sehat.

Memanglah sebenarnya bergunjing bukanlah akhlak terpuji dan telah dilarang oleh agama kita, sebab sama dengan memakan daging dari saudar sendiri. Namun pada masa sekarang hal semacam itu telah menjadi adat kebiasaan orang dan sangat sukar sekali untuk dihilangkan. Perkara semacam ini yang biasanya hanya dilakukan oleh kaum perempuan namun pada kenyataannya pada masa sekarang banyak juga dilakukan oleh kaum lelaki.

Sebagai akhlak tercela, bergunjing dilarang dalam agama kita karena padanya ikut terbawa nafsu amarah, kebencian, hasat, dengki, iri, prasangka buruk, dan berbagai macam lainnya sifat tercela. Pada saat bergunjing akal sehat hilang, segala kebaikan menjadi sirna yang tampak hanyalah keburukan. Kalaupun ada tampak suatu kebaikan pada diri orang yang dipergunjingkan maka hal tersebut akan cepat sirna bagai debu ditiup angin. Suatu keburukan disambung dengan keburukan lainnya, suatu kebohongan ditambah pula dengan kebohongan lainnya. Sehingga akhirnya antara kenyataan dan kebohongan menjadi kabur.

Kabar bohong memanglah cepat beredar, kabar dusta dan tipu muslihat lebih mudah diterima oleh orang zaman sekarang. Cobalah tuan tengok di berbagai media di Indonesia, suatu kebohongan ditambah dan ditutupi dengan kebohongan lainnya. Dan apabila kebenaran sudah tersingkap maka penyesalan jualah yang datang mendera. Apalah guna penyesalan sebab tak akan dapat mengubah kebathilan yang telah terlanjur diperbuat.

Suatu kabar bohong yang disebarkan melalui pergunjingan akan cepat beredar apalagi jika orang yang menyampaikan memiliki pembawaan pandai bercerita (provokatif). Hal ini telah banyak kami saksikan dimana suatu kebar dusta diterima dengan prasangka buruk yang telah ada sebelumnya terhadap diri seseorang sehingga tidak ada kebaikan yang tampak dari orang tersebut. Atau suatu kebenaran yang disampaikan oleh seseorang yang provokatif dan telah memiliki prasangka buruk sebelumnya kepada orang yang dihadapinya. Kemudian kabar yang benar tersebut disampaikan dengan nada bicara yang menghasut atau penuh prasangkan buruk dan diterima pula dengan prasangka buruk oleh orang lain. Maka hal tersebut akan menjadi suatu kezhaliman terhadap diri seseorang.

Kebanyakan orang menyukai dan menikmati kabar bohong ini. Kemudian mereka akan mempergunjingkannya, menutupinya dengan prasangka buruk dan kemudian menyebarkannya lagi. Syetan telah menjadikan lidah mereka sangat lihai dalam perkara ini. Akibatnya kebencian dan kehinaan dalam memandang seseorang dapat sangat dengan mudah ditimpakan. Maka suatu kazhaliman telah tercipta.

Penyebar kabar bohong ini tentulah tidak dapat disalahkan sepenuhnya, sebab orang yang menerima juga ikut bersalah. Kenapa mereka langsung mempercayai kabar tersebut tanpa melalui usul periksa terlebih dahulu? Bukankah Allah Ta’ala telah memperingatkan kita “apabila sampai kepada mu suatu kabar, maka periksalah kabar tersebut terlebih dahulu. Apabila kabar tersebut datang dari orang fasik, maka janganlah kamu terima..

Sangatlah jarang kami temui orang-orang yang mau memeriksa (cross check) perihal datangnya suatu kabar. Kebanyakan dari mereka langsung mempercayai tanpa menaruh prasangka. Apalagi jika kabar tersebut datang perihal orang yang telah lama mereka benci.

Memanglah hati manusia itu sangat lemah, mudah terjerumus ke dalam prasangka buruk. Itulah yang membuat hidup kita pada saat ini berada dalam keadaan bahaya. Kita tidak pernah tahu entah apa yang dipergunjingkan orang lain perihal diri kita. Namun yang pasti, kebencian tengah beredar di sekeliling kita, siap menerkam kapan saja, tanpa kita duga. Sedikit kesilapan yang kita perbuat, akan menjadi malapetaka yang siap menghantam diri kita.

Cobalah tuan perhatikan di sekeliling tuan, sungguh sangat nyata dampaknya. Oleh karena itulah agama kita melarang perkara gunjing-menggunjing ini. Kami sendiri telah mengalaminya, telah menjadi korban dari kebencian dan kebohongan. Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada kami dalam menghadapi cobaan ini, Amiin..

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s