Sabar

Kisah Uni Penjual Samba (Lauk)

 

Di kota tempat tinggal kami, kami berlangganan belanja membeli samba[1] kepada salah seorang uni-uni[2] yang berjualan samba di tepi jalan.[3] Awalnya dia berjualan menumpang pada sebuah kedai yang sebenarnya merupakan salah satu bangunan milik perusahaan terbesar di kota kami. Namun karena tak terpakai dan digunakan maka disewakanlah pada beberapa orang pedagang. Termasuk kepada uni penjual samba ini. Namun semenjak beberapa bulan yang lalu bangunan tersebut diperbaiki hendak dipergunakan kembali oleh perusahaan tersebut. Maka tergusurlah si uni dengan beberapa pedagang lainnya.

Kini uni berjualan ditepi jalan dengan menggunakan gerobak dorong. Mulai berjualan sekitar pukul sepuluh pagi. Demi menghindari razia dari petugas, maka pada pagi hari uni berjualan dulu di hadapan sebuah sekolah SD. Kemudian pada pukul sebelas kurang, uni akan mendorong gerobaknya ke sudut jalan yang lain, tepatnya di hadapan kedai tempat dulu uni berjualan. Tempat inilah yang sudah sangat dikenal orang sebagai tempat uni berjualan. Pabila uni pindah tempat, maka kemungkinan kebanyakan pelanggan akan menganggap uni tak berjualan lagi.

Dagangan uni biasanya sudah habis menjelang siang. Jika hendak berbelanja, maka kami akan memacu kereta angin[4] milik kami menuju tempat uni berjualan. Waktu yang tepat ialah sebelum pukul sebelas sampai menjelang pukul setengah dua belas. Lewat dari jam itu, maka kemungkinan besar samba yang hendak dipesan telah habis.

Saingan kami dalam berbelanja ialah ibu-ibu. Apakah itu pegawai, pedagang, ataupun ibu rumah tangga biasa. Biasanya kalau sudah bersaing dengan para ibu-ibu ini kami hanya diam mengalah. Untung uni memiliki daya ingat yang tajam sehingga tahu siapa yang lebih dahulu dan siapa yang lebih kudian.[5] Sehingga Insya Allah hingga kini kami tak pernah merasa terdzalimi. Apalagi kami telah sering berbelanja ke tempat uni, sehingga uni telah hapal dengan wajah kami. Hal tersebut sangat membantu kami dalam berbelanja.

Masakan uni merupakan masakan rumah, tak ada yang biasa. Rasa dari masakannyapun biasa-biasa saja. Kalau soal harga lebih murah sekitar seribu atau dua ribu dari harga kedai. Terkadang porsinya dilebihkan oleh uni, mungkin itulah yang membuat orang ramai.

Uni dibantu oleh amaknya dalam berjualan. Namun kebanyakan amak uni ini lebih banyak duduk saja menerima pembayaran dari pembeli. Mungkin karena sudah tua dan sakit-sakitan. Selain ramah kepada pembeli seperti anaknya, amak ini juga nyinyir kepada anaknya. Apalagi jika sudah menyangkut para pembeli, sering si amak berujar kepada uni “Ta, labiahan lah kuah untuak uni/kakak/abang/bapak tu agak sakaciak[6] atau “Ta, abang itu belum diambilkan lagi pesanannya” dan lain-lain perintah amak kepada uni.

Terkadang si uni menjawab dengan sabar “Ya, sebentar mak sedang diambilkan..” atau kalau para pembeli sedang nyinyir pula, suka mendesak mintak pesanannya lebih dahulu diambilkan maka si unipun terkadang kehabisan kesabaran. Maka uni akan menjawab “Ya..ya.. ini sedang diambilkan ini ha..” jawab si uni. Walaupun terkesan kesal namun nada bicaranya tetap sopan. Tak terasa kalau dia melawan pada amaknya.

Sudah beberapa kali kami amati, sungguh sabar sekali uni dalam menghadapi amaknya. Selain itu para pembeli yang kebanyakan ibu-ibu, yang kita sama-sama tahu sajalah engku bagaimana tabi’at dari para ibu-ibu ini. `Pemilih, nyinyir, suka mendesak padahal datang belakangan, minta ini dan itu, serta lain sebagainya. Ditambah lagi dari perilaku si amak yang nyinyir. Namun uni masih tetap sabar menghadapi itu semua.

Kami seringkali merasa bersalah. Sebab sikap kami belumlah sebaik dari sikap uni, apakah itu kepada orang tua maupun kepada orang-orang sekitar. Sesungguhnya kami merupakan jenis orang yang pendendam. Seperti apa orang memperlakukan kami maka seperti itu pulalah kami akan memperlakukannya. Sungguh merupakan suatu pendirian yang tidaklah elok. Kalau orang memperlakukan kita dengan buruk apakah kita juga akan memperlakukan orang dengan buruk pula? Tak baikkan engku? Bukan begitulah pengajaran dari nabi kita.

Hingga kini kami masih berusaha menjadi muslim yang baik. Semoga saja engku, do’akan saja kami ini. Akan halnya dengan uni, semoga bertambah rezekinya dan dilapangkan Allah Ta’ala jalan hidupnya. Kesabarannya baik sekali untuk dijadikan contoh.

 

 


[1] Samba merupakan sebutam kami orang Minangkabau bagi lauk-pauk yang biasa dipakai untuk memakan nasi. Mulai dari sayuran, gulai, rendang, beraneka jenis masakan yang digoreng, dan lain sebagainya. Terkadang orang Minangkabau sering membahasa Indonesiakan dengan menyebut sambal. Pada hal keduanya merupakan jenis yang berbeda.

[2] Kakak..

[3] Kakin Lima.

[4] Orang Minangkabau menyebut sepeda dengan sebutan kereta atau kareta. Ada juga yang menyebut dengan kareta angin, namun sebutan itu telah berangsur hilang. Sebab yang menggunakan hanyalah generasi tua yang hidup pada masa lampau.

[5] Akhir..

[6] Ta, lebihkanlah kuah untuk uni/kakak/abang/bapak itu agak sedikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s