Nafsu & Emosi

Kelaziman dalam Kehidupan Masa Sekarang

Nafsu dan amarah merupakan dua hal yang sering diidentikkan oleh orang-orang. Walau sebenarnya berbeda namun kedua hal tersebut memiliki makna yang sama yakni sesuatu yang tidak baik. Nafsu adalah segala dorongan yang ada pada diri kita untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, nilai-nilai (norma) agama dan berbagai aturan lainnya yang terdapat dalam kehidupan. Segala yang berkaitan dengan nafsu selalu berlawanan dengan iman, hati nurani, dan akal sehat. Nafsu selalu mengajak kepada keburukan, namun daripada itu dia adalah kekuatan tersembunyi yang terdapat dalam diri setiap insan. Tidak harus dihilangkan, melainkan dikendalikan. Nafsu ialah hasrat hewani yang sengaja ditanam oleh Sang Khalik dalam diri setiap insan, oleh karena itulah manusia merupakan makhluk paling mulia dan utama di hadapan Allah.

Malaikat tidak memiliki nafsu, hanya iman yang dimilikinya. Oleh karena itu manusia lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah Ta’ala. Sedangkan iblis hanya memiliki nafsu, tidak demikian dengan iman, mereka tak memilikinya. Oleh karena itu iblis menjadi makhluk terkutuk di hadapan Allah. Hewanpun demikian, ia hanya memiliki insting yang menggerakkan badannya. Segala perilaku dan kebiasaan yang terdapat pada diri mereka telah ditanamkan kepada diri mereka sehingga hewan memiliki sifat-sifat yang khas.

Banyak manusia yang tidak dapat mengendalikan nafsu mereka akhirnya memiliki perilaku hewani. Hal yang utama tampak pada bentuk “amarah” . Hewan memiliki sifat pemarah, jika diganggu dia akan marah, tengoklah beberapa hewan berkelahi bahkan saling bunuh hanya karena memperebutkan makanan, memperebutkan pasangan untuk dikawini, bersinggungan sesama mereka, dan lain sebagainya. Manusia yang tak memiliki iman dan akal sehatpun demikian. Telah banyak nyawa melayang hanya karena perkara-perkara sepele seperti yang demikian.

Tentulah sangat mengherankan melihat manusia yang dianugerahi dengan akal fikiran dapat berkelakukan seperti hewan. Mereka memiliki hati nurani yang didalamnya bersemayam iman yang menjadi pembeda antara baik dan buruk. Namun tetap saja dalam keseharian dalam hidup bermasyarakat, mereka kehilangan kendali diri. Menjadi hewan berkaki dua, dengan baju dan celana, bahkan dengan gelar yang bermacam-macam sebagai tanda dia seorang yang berpendidikan. Dimanakah salahnya gerangan tuan?

Kami pernah mendengar orang-orang bercakap perihal kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ). Kecerdasan intelektual ialah kecerdasan fikiran, yang menjadi modal utama seseorang dalam menuntut ilmu. Kecerdasan inilah yang diasah di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Sedangkan kecerdasan emosional ialah kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri, dalam memecahkan suatu persoalan, dalam menghadapi orang lain, ataupun dalam pergaulan di masyarakat.

Kalaulah boleh kami menyamakan emosi dengan nafsu, maka kecerdasan emosi ialah suatu kepandaian yang diasah terus menerus dalam menghadapi berbagai macam rupa persoalan dalam hidup ini. Baik itu yang berkaitan dengan diri sendiri, dengan orang lain, maupun dengan sang pecipta. Dalam kecerdasan emosi ini diajarkan mengendalikan diri (mengendalikan nafsu) sehingga dalam pergaulan hidup dengan orang lain tercipta kemesraan (keselarasan, keharmonisan). Disinilah peran iman (spiritual) sebagai pengendali emosi (nafsu). Maka terkadang orang-orang selalu mengaitkan kecerdasan emosi dengan kecerdasan spiritual, sebab kedua hal tersebut saling kait-mengait.

Untuk mengendalikan nafsu ini, umat Islam telah dilatih setiap tahun selama 30 hari (terkadang 29 hari) untuk mengendalikan nafsu. Yakni pada bulan Ramadhan, namun sayangnya hampir sebagian besar dari umat Islam gagal dalam latihan ini. Allah Ta’ala telah berfirman “sesungguhnya sebagian besar orang-orang yang berpuasa hanya mendapatkan haus dan lapar..

Boleh dikatakan pada saat sekarang ini kebanyak umat Islam lebih cenderung memperturutkan nafsu. Tengoklah tuan, kebanyakan negara-negara Islam merupakan negara miskin yang mengalami kemunduran dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan terutama sekali agama. Tidak ada negara Islam ataupun negara yang memiliki penduduk muslim yang menerapkan hukum-hukum syari’at dalam kehidupan bernegara. Kebanyakan negara Islam menjadikan Barat sebagai kiblat dalam mengatur negara mereka. Maka jadilah Islam diabaikan sebagai sebuah sistim tata negara, dan akhirnya kebanyakan dari rakyatnyapun menjauhkan diri dari agama mereka. Ujungnya ialah, Islam sebagai sebuah bentuk keimanan, sebagai pembeda antara baik dan buruk, pembeda antara yang haq dengan yang bathil menjadi serupa barang tak berguna. Keimanan telah dihilangkan perlahan-lahan dari hati setiap muslim, sehingga nafsu akhirnya mengambil-alih kendali diri mereka.

Jadi tidaklah mengherankan pada masa sekarang ini banyak orang-orang yang mengaku Islam, akan tetapi dia pezinah, pencuri, maling, pembunuh, perampok, pemerkosa, tukang membuat gaduh, menimbulkan malapetaka dimanapun dia berada, merusak ketenangan yang telah ada, menebar keburukan, kedengkian, kemusyrikan, menjadi penyebab perpecahan, dan lain sebagainya.

Orang bijak pernah berucap,

Iman tanpa ilmu ialah timpang, dapat menjadi kehancuran dari agama itu sendiri.

Ilmu tanpa iman merupakan malapetaka, sebab dapat menjadi bencana bagi sekalian manusia.

 

 

 

 

 

 

sumber gambar: internet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s