Kisah Salah Satu Keluarga Cina

Gaek Cina

 

Beberapa hari yang lalu, kawan kami mendapat tugas dari kantornya untuk mewawancarai salah seorang tokoh nasional keturunan Cina bersama beberapa orang kawan-kawannya. Senang bukan main hatinya, sebab orang yang hendak diwawancarai merupakan salah seorang yang sangat dikagumi dikalangan orang-orang Cina dan nasionalis Indonesia. Selain senang, tugas ini sekaligus menuntaskan rasa ingin tahunya perihal orang-orang Cina di Indonesia. Sebab dalam hati kawan kami ini masih memendam rasa ingin tahu perihal peri kehidupan orang Cina. Orang-orang yang kebanyakan dipandang asing penuh curiga, dan bahkan benci oleh sebagian orang Indonesia.

Mereka bertemu janji di salah satu hotel yang menurut kawan kami hotel ini merupakan hotel baru dan tampaknya hanya menunggu peresmiannya saja. Mereka telah membuat janji temu pukul lima petang hari, namun sayangnya mereka terlambat sekitar sepuluh menit. Kamipun bertanya “ Tidak kena marahkah kalian, seorang saudagar (pengusaha) sukses sama sekali tak suka orang yang tak tepat waktu. Tak peduli apakah dia orang Cina atau pribumi..?”

“ Benar engku” jawabnya “ Namun beliau tidak marah, namun hanya kesal sebab ketika wawancara kami sedang berjalan, dalam salah satu pokok perbincangan kami, beliau memberikan salah satu contoh kasus yakni “misalnya kalau berjanji harus tepat waktu, kalau macet maka akalilah bagaimana caranya supaya tetap tepat waktu. Dengan berangkat lebih awal misalnya atau yang lain..” begitu ujar beliau engku. Saya terkejut dan terdiam, tapi tampaknya kawan yang lain dapat menguasai keadaan..”

Ya.. memang begitulah tuan, tidak Cina atau pribumi sama saja tuan. Itulah contoh yang tak mau diikuti oleh sebagian orang-orang, tepat waktu.

Ketika tatkala pertama kali bersua dengan tokog gaek ini, kawan kami merasa heran dan takjub. Sebab Gaek Cina yang satu ini, tokoh nasional, terkenal dimana-mana (terutama dalam dunia usaha) rupanya fasih berbahasa Minang. Padahal beliau selepas SMA sudah pindah ke Jakarta. Fasih tentunya untuk ukuran orang rantau, orang yang jarang pulang, dan jarang pula bergaul dengan orang Minang. Sedangkan banyak dari orang Minangkabau yang baru beberapa tahun pergi merantau sudah tak fasih bahasa Minangnya dan bahkan ada yang menggunakan Bahasa Indonesia sansai atau Bahasa Gaul apabila bercakap dengan orang-orang di kampung. Mungkin untuk menunjukkan kalau dia sudah moderen dan maju daripada orang-orang kampung. Entahlah tuan.. wallahu’alam.

Tidak hanya beliau yang fasih berbahasa Minang, ibundanya yang sudah berusia kurang lebih 93 tahun dan adik lelakinyapun fasih bercakap berbahasa Minang. Ibunda beliau bahkan tak faham sedikitpun bahasa Cina (mandarin). Menurut pengakuan beliau, tatkala masih gadis dahulu beliau bersekolah di sekolah Belanda yang menggunakan Bahasa Belanda dan Cina sebagai pengantar. Akan tetapi beliau meminta juga diperkenankan menggunakan Bahasa Melayu, namun tidak diizinkan. Akhirnya beliau diberi dua pilihan, ingin bersekolah di sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda dan Cina sebagai bahasa pengantar atau bersekolah di sekolah yang menggunakan Bahasa Belanda dan Melayu sebagai bahasa pengantar. Akhirnya beliau memilih sekolah yang kedua.

Sungguh kagum kami mendengarnya tuan, kalau di masa sekarang ada pilihan semacam itu tentunya orang-orang Melayu di negeri ini akan memilih pilihan pertama. Ibunda atau Oma begitu beliau dipanggil, dikeseharian semasa gadispun lebih banyak bergaul dengan orang-orang Melayu. Sungguh tak terbayangkan harmonisnya kehidupan orang pada masa dahulu, sangat berbeda dengan gambaran yang selama ini kami dapat. Memanglah sejarah selalu memiliki sisi lain, suatu sisi yang tak diungkapkan, disembunyikan dengan berbagai alasan. Apakah itu atas dasar alasan kebaikan atau kelicikan.

Tokoh Gaek ini walau telah lama tidak ke Minang, ataupun hanya sesekali datang ke negeri ini, rupanya tidak melupakan asal dirinya. Beliau masih menganggap dirinya orang Padang, atas dasar itulah makanya beliau sebagai saudagar (pengusaha) tidak mau menanamkan uang atau modalnya (investasi) di Sumatera Barat. Alasan beliau ialah tidak mau nantinya gara-gara modal yang ditanamkannya tersebut kehidupan perniagaan orang Minang menjadi terhalang.

Beliaupun merasa sedih dengan kehidupan perdagangan orang Minang saat ini yang masih kalah dari daerah lain, walau tidak dapat pula dikatakan masih rendah. Selain itu, minimnya orang-orang Minang menjadi tokoh di tingkat nasional juga membuat beliau sedih. Beliau memandingkan keadaan masa dahulu dengan sekarang. Dahulu, pada setiap kabinet pasti ditemui orang Minang menjadi menteri, tapi lain pada saat sekarang ini. Beliau menerangkan kepada kawan kami ini, bahwa semenjak PRRI kehidupan orang Minang jauh menurun. Tertinggal di segala bidang, atau sengaja ditinggalkan? Entahlah tuan..

Pak Gaek ini juga mencela orang-orang Minang yang telah berjaya di Jakarta, terutama sekali yang menjadi pejabat. Beliau membandingkan dengan sosok Jusuf Kalla, putera Mengkasar. Di masa Jusuf Kalla menjadi Wapres, banyak pembangunan dan kemajuan dicapai oleh orang-orang Mengkasar. Hal ini karena putera daerah mereka yang telah menjabat memberikan perhatian kepada daerahnya. Hal ini sangat berlainan dengan orang Minang. Lupa mereka dengan tanah kelahiran mereka, serupa kacang yang lupa akan kulitnya.

Selama bercakap-cakap dengan beliau, beliau berusaha memanasi-manasi (provokasi) kawan kami ini sebagai orang muda. Kata beliau orang mudalah yang saat ini seharusnya bertindak, sebab sudah habis masanya bagi generasi tua seperti beliau. Orang muda itu kuat, cepat, dan berani mengambil resiko. Berfikir terbukalah dan jangan serupa katak di bawah tempurung.

Menurut beliau, permasalahan yang terdapat di Sumbar ini karena orang Minang setengah-setengah dalam segala hal. Dan sama dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya lebih suka mengkritik atau menyoroti pribadi seseorang dibandingkan bersikap profesional. Salah seorang kawan meminta salah satu rumus jitu beliau dalam menjalani kehidupan. Beliaupun memberikan salah satunya yakni:

  1. Raihlah kesempatan itu apabila datang dan jangan hanya menanti datangnya kesempatan akan tetapi juga dicari.
  2. Katakanlah yang baik itu baik dan buruk itu buruk.
  3. Berbuat baiklah kepada setiap orang dan perlakukan juga mereka dengan baik. Sebab setiap perbuatan akan dikembalikan kepada kita.

Tercengang kami mendengarnya tuan, sedangkan kawan kami ini hanya tersenyum-senyum saja. Coba tuan tengok pada bagian kedua dan ketiga, bukankah itu sama dengan ajaran agama kita? Hah.. malu kami tuan, malu kita. Kita yang umat Islam ini telah mendapat pengajaran lebih dari 14 abad silam dari nabi kita Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam namun hanya masuk telinga kanan dan ke luar lagi ke telinga kiri. Sedangkan Pak Gaek ini yang Cina Katolik malah telah lebih dahulu mengamalkannya dari pada kita.

Begitulah tuan kisah kawan kami dengan salah seorang tokoh Cina di negeri kita. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan mendatangkan keinsyafan kepada diri kita. Tentunya sebagai muslim kita dapat memilah-milah, mana yang patut untuk ditiru dan mana yang tidak. Semoga saja semakin banyak kita temukan tokoh-tokoh Cina seperti ini, orang Indonesia.

 

 

 

 

gambar: internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s