Memandang ke Bawah

Bersyukur..

Menyimak setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan, apakah itu yang menimpa diri kita ataupun orang lain akan menjadi pelajaran tersendiri bagi kita. Itulah salah satu makna falsafah Alam takambang jadi guru, sebuah ajaran kuno dari Minangkabau. Ajaran yang pada saat ini banyak dicemooh dan ditinggalkan oleh orang Minang sekarang. Sayidina Ali sendiri pernah berpetuah, belajarlah dari pengalaman hidup mu dan pengalaman hidup orang lain.

Untuk dapat melakukan itu semua, kita terlebih dahulu harus mempunyai hati. Bagi orang-orang yang hatinya sudah mati, maka tak ada guna. Mereka bermata tapi tak melihat, memiliki indera perasa tetapi sesungguhnya mereka tidak merasa. Dengan memperhatikan orang lain, akan mendatangkan keinsyafan pada diri kita, untuk berubah dan menjadi manusia yang lebih baik.

Orang bijak pernah berujar, janganlah selalu melihat ke atas, akan tetapi sesekali melihat jugalah ke bawah. Maknanya ialah kira-kira, bahwa kita hendaknya janganlah selalu memandang bahwa diri kita selalu berkekurangan, terutama sekali kurang harta, kurang jabatan ataupun pangkat. Kurang ilmu boleh, kurang iman boleh, kurang bersyukurpun boleh, setidaknya hal tersebut menjadi motivasi bagi kita untuk berubah.

Memandang ke bawah maknanya ialah agar kita juga melihat orang-orang yang tidak seberuntung diri kita. Dengan segala kekuaranga yang ada pada dirinya, mereka tetap terus berjuang dan bertahan dari kerasnya kehidupan. Tak kenal kata menyerah demi mencapai kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik. Terkadang kita sudah mengeluh dengan tekanan hidup yang ada sekarang, pada hal banyak orang lain yang tidak seberuntung diri kita menghadapi tekanan hidup yang jauh lebih berat. Dan mereka masih dapat bertahan dan menghadapi itu semua dengan jantan.

Beberapa waktu yang lalu kami mendapat sebuah artikel pada salah satu blog yang membahas perihal salah satu program acara pada salah satu stasiun tv di Eropa. BBC nama stasiun tvnya yang berpusat di London, Inggris. Judulnya ialah “Toughest Place to be a Binman”*, tayang pada bulan Januari 2012 di Inggris.

Mengisahkan seorang tukang sampah Inggris yang bernama Wilbur Ramirez, dengan segala fasilitas yang ada pada negara maju, membuat pekerjaannya menjadi mudah. Namun berbeda keadaannya dengan Jakarta, ibu kota salah satu negara berkembang di dunia. Di Jakarta ada sosok Imam Syafi’i, salah seorang tukang sampah pada salah satu daerah di Jakarta Utara. Selama sepuluh hari, Wilbur akan menghabiskan hari melakoni pekerjaan yang selama ini dijalani oleh Imam. Sungguh sangat menarik melihat tanggapan, pendapat, pandangan, kesan yang dibawa pulang oleh Wilbur.

Filem ini mendatangkan keinsyafan pada kami, bahwa:

  1. Sekecil apapun pekerjaan seseorang, kita harus menghormatinya.
  2. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, akan mendatangkan permasalahan bagi orang lain. Coba tuan bayangkan ketika tuan buang sampah sembarangan, memang hanya satu sampah kecil, tapi cobalah tuan bayangkan jika ribuan orang melakukan hal yang sama dengan yang tuan lakukan itu setiap hari.
  3. Kekurangan yang kita dapati dalam filem tersebut ialah kekuarangan kita semua. Usahlah menyalahkan, usahlah menghujat, usahlah mencaci maki. Sebab hal tersebut tidak akan mendatangkan penyelesaian. Mulailah dari diri kita sendiri, buanglah sampah pada tempatnya. Pisahkanlah sampah organik dan non organik. Hargai orang lain, dan perbanyaklah bersyukur.
  4. Korupsi merupakan suatu tindakan biadab. Tidak hanya perkara mencuri uang rakyat ataupun menerima sesuatu yang bukan hak kita. Akan tetapi jauh lebih dalam daripada itu, sebab dampaknya tidak hanya kerugian uang akan tetapi hilangnya rasa keadilan, matinya hati.
  5. Bersyukurlah atas anugerah yang telah kita terima, karena di luar sana sangat banyak orang yang tidak seberuntung diri kita. Hidup banting tulang setiap hari demi menghidupi keluarga, tak kenal waktu ataupun hari. Disaat orang masih tertidur, mereka sudah bangun. Ketika orang sedang liburan, mereka masih bekerja. Dan ketika orang-orang sudah kembali tidur melepas lelah, mereka masih tetap bekerja. Tinggal dilingkungan yang apa adanya, tidak terfikirkan perkara gizi, kesehatan, ataupun yang lainnya. Yang penting ada tempat untuk berlindung, dan ada makanan untuk dimakan.

Begitulah tuan, sungguh menarik dan menyentuh hati melihat salah satu sisi lain kehidupan pada kota besar, kota kebanggaan orang Indonesia, JAKARTA. Semoga mendatangkan keinsyafan pada diri kita semua.

klik tautan untuk melihat filemnya di youtube.

gambar: internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s