Menyendiri..

 Menjadi Seorang Sufi..?

 

Tulisan ini kami buat berdasarkan curahan hati salah seorang kawan. Ibaratkan hidup seperti roda pedati, maka sekarang keadaan kawan kami  ini sedang di bawah. Kami tertarik hendak menuliskannya karena kisahnya ini mengingatkan kami akan salah satu buku yang pernah kami baca. Namun daripada itu, kamipun pernah berada pada keadaan yang dihadapi oleh kawan kami ini. Tapi syukurlah, Allah telah memberi kami kekuatan untuk menghadapinya.

Silahkan tuan simak kisahnya, boleh tuan tidak sependapat. Bukankah dalam hidup ini kita memiliki masing-masing pendirian dan pandangan. Asalkan masih sesuai dengan ajaran agama tak masalah. Yang menjadi masalah ialah apabila sudah keluar jauh dari ajaran agama.

 

Imam Al Ghazali dalam salah satu bukunya pernah berujar: Bersyukurlah aku dengan orang-orang yang tidak pernah aku jumpai sebab mereka sama sekali tidak mendatangkan kerusuhan pada hati ku. Sedangkan alangkah sedihnya hati berkenalan dengan orang-orang, karena sebagian besar manusia mendatangkan kesusahan pada hati ku.

Kami tidak tahu dengan persis apakah serupa itu bunyi kata-kata dalam buku beliau tersebut. Namun kami yakin itulah kira-kira makna dari tulisan dari Imam al Ghazali. Dalam buku beliau tersebut, Imam al Ghazali mengajarkan kepada kita bahwa lebih baik hidup menyendiri dari pada hidup di tengah-tengah masyarakat. Sebab manusia lebih banyak memiliki pengaruh buruk kepada diri kita dan menyebabkan kita lalai dari beribadah pada Nya.

Kami yakin bahwa banyak dari tuan tidak sependapat dengan kami karena telah tertanam dalam diri kita pada masa sekarang bahwa manusia ialah makhluk sosial. Makhluk sosial maknanya ialah bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa adanya bantuan dari manusia lain. Jadi akan sangat susahlah bagi seseorang jika dia hidup sendiri, jauh dari sekumpulan orang atau masyarakat. Benar tuan, kami setuju dengan pandangan semacam itu.

Namun tuan, lingkungan sangatlah berperan dan berpengaruh terhadap hati dan jiwa kita. Jika kita tinggal dilingkungan yang tidak baik atau bertentangan dengan keadaan bathin kita maka hal tersebut akan mendatangkan kesengsaraan bagi diri. Cobalah tuan tengok, betapa banyak orang yang sakit karena tertekan bathinnya dalam pergaulan hidup sehari-hari.

Sebagian besar manusia juga penuh dengan kebencian dan prasangka. Sangat suka sekali mempergunjingkan keburukan orang lain. Mereka tahu suatu perkara terlarang dalam agama namun tetap juga dilakukan. Bermaksud buruk kepada orang lain, menikam dari belakang, dan saling menyerang apabila kawan lengah. Tampaknya hal semacam itu sudah menjadi biasa pada masa sekarang.

Lisan manusia sekarang juga tak terpelihara. Telah terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat kita. Tutur kata lemah lembut dan terpelihara segala yang diucapkan sudah tak ada pada masa sekarang. Kebanyakan orang dalam berucap tidak memikirkan dahulu apa yang hendak diucapkan. Petuah orang tua dahulu: fikirkan apa yang hendak kamu ucapkan dan jangan ucapkan apa yang sedang kami fikirkan tidak lagi diamalkan. Atau tuan, mungkin manusia-manusia sekarang tidak pernah mendapat pengajaran dari orang tua atau keluarga mereka mengenai perkara ini dahulunya.

Dalam bersikappun orang-orang pada masa sekarang sudah tidak terkendali. Tidak ada aturan dalam sikap dan perilaku mereka, kebanyakan orang sekarang lebih banyak menggunakan kata mendatar atau menurun dalam keseharian. Jiwa mereka kasar dan hati mereka keras, kebenaran selalu milik mereka dan orang lain selalu salah. Yang kuatlah yang menang, yang berkuasalah yang memerintah, yang cerdik mengendalikan, yang licik dapat mengelak, dan lain sebagainya.

Katakan tuan, apakah orang-orang  semacam ini dapat mendatangkan ketenangan pada hati kita. Kalau tuan memiliki pembawaan untuk dihormati ataupun didengar segala perkataan dan ucapan tuan maka perkara semacam ini bukanlah masalah. Namun bagi kami yang tidak memiliki pembawaan semacam itu, justeru sebaliknya, kami memiliki pembawaan untuk diperintah, dikendalikan, diabaikan, dan dianggap kecil.

Begitulah tuan, manakah akan tahan hati ini. Namun keadaan jualah yang memaksa, hendak pergi menghindar ketepat sunyi seperti seorang sufi? Bagaimanakan hidup, mau bekerja apa? Kita harus realistis, bukankah begitu tuan?

Kami yakin bahwa ada beberapa dari tuan yang beranggapan bahwa kami ialah seorang pecundang, orang kalah. Itu semua tergantung dari sudut pandang (perspektif) tuan. Bagi orang yang suka dengan pertikaian (konfrontasi) maka sikap saya ini mungkin merupakan sikap seorang pengecut. Akan tetapi bagi orang yang lebih memilih mendahulukan ketenangan hati..?

 

 

 

sumber gambar: internet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s