Patuh di Jalan Raya

Bersabar & Berlapang Hati

Di atas Kuda Jepang

 

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kabar dari kampung bahwa telah terjadi suatu kecelakaan yang menimpa beberapa orang anak remaja di kampung kami. Mereka masih bersekolah, masih belia. Namun yang membuat kami sedih ialah salah seorang dari mereka ternyata tidak dapat diselamatkan, meninggal juga akhirnya.

Tiga orang anak bujang yang masih sekolah ini berkendara naik motor menuju salah satu tempat fotokopi di kampung kami. Selepas dari tempat fotokopi mereka rupanya beriiringan dengan salah satu mobil, rupanya mereka hendak memotong mobil tersebut. Namun apa hendak dikata, dari arah berlawan datang pula motor. Akhirnya terjadilah tabrakan tersebut, kata orang adu kambiang, tahukan tuan mengenai istilah adu kambiang?

Bagi yang tidak akan kami coba terangkan. Dalam adu kambiang ialah dua ekor kambing aduan akan saling menyosoh lawan mereka dan kemudian kedua kening mereka beradu. Begitulah yang terjadi, kedua motor ini saling beradu dan menyebabkan kematian. Kalau kambing, karena tulang tengkorak mereka kuat, maka jarang terdengar oleh kami ada kambing yang mati. Namun karena tulang belulang manusia ini lemah dan rapuh maka penyakit yang didapat.

Memanglah berbagai kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang berujung merenggut nyawa, kebanyakan terjadi pada pengendara motor. Motor sangat banyak jumlahnya di negeri ini, namun bukan itu yang menjadi persoalannya. Yang menjadi persoalannya ialah orang yang mengendarainya ialah orang-orang yang masih muda belia (anak-anak dan remaja) padahal dalam aturan jalan raya di negeri ini disebutkan bahwa anak dibawah 17 tahun belum mendapat Izin Mengemudi.

Kemudian ialah perilaku, akhlak, watak, atau kata orang pintar ialah mentalitas. Watak orang kita ialah tidak patuh dan taat kepada aturan. Bagi mereka mematuhi peraturan di jalan raya berarti suatu pertanda kepengecutan, sering dijuluki sebagai bencong. Akibatnya orang-orang yang memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan dalam berjalan raya menjadi serba salah. Apabila dipatuhi segala aturan tersebut, maka kita yang kena pacaruik-i,[1] apabila kita ikut melanggar maka hati cemas takut terjadi kemalangan.

Itupulalah yang kamu rasai duhai tuan, cemas setiap berkendara dan terkadang terbawa-bawa tidak tertib. Telah beberapa kali kami selamat dari kemalangan, terbit rasa sesal dikemudiannya karena tidak patuh, taat, bersabar, dan berlapang hati selama di atas motor. Kami hanya dapat berdo’a semoga kami selalu diberi keselamatan, kesabaran, dan kelapangan hati selama berkendara. Amiiiin..

Bagaimana pula dengan pengalaman tuan, engku, dan encik?

 

 

 

sumber gambar: internet


[1] Umpat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s