Qurban di Kampung Kami..

Jalannya Qurban di Kampung Kami

Bagaimana perayaan Idul Adha di tempat tuan? Idul Adha pada tahun ini bertepatan datangnya dengan hari yang dimuliakan oleh kita umat Islam yaitu hari Jum’at. Oleh karena itu kebanyakan orang memutuskan untuk memotong hewan qurban pada hari Sabtu yakni hari ini. Awalnya kami kira hanya di kampung kami dan sekitarnya saja. Namun rupanya di beberapa daerah juga demikian, kami tengok di berita di tivi, hari inilah kebanyakan daerah di Pulau Jawa memotong hewan qurban.

Syukur Alhamdulillah hari ini tidak ada hujan yang turun, bahkan sempat cerah beberapa saat. Sedangkan kemarin semenjak subuh hingga petang hujan tiada henti. Pada hari ini orang-orang terlihat sibuk, di kampung kami sekolah bahkan di liburkan sebab hampir di setiap surau di kampung kami orang membantai.

Tatkala kami menengok berita pada tengah hari di televisi, kami dapati berita yang mengabarkan bahwa di beberapa tempat di Pulau Jawa orang-orang berdesak-desakan untuk mengambil daging qurban. Bahkan sampai timbul kerusuhan kecil. Namun yang paling membuat kami prihatin ialah adanya beberapa orang yang menjual kembali daging qurban yang telah mereka dapatkan. Alasan mereka ialah karena tidak ada kompor untuk memasak, tidak ada uang untuk membeli bumbunya, atau karena lebih membutuhkan uang daripada daging qurban, dan lain sebagainya.

Entah apa yang terjadi terhadap umat muslim di Indonesia pada saat ini tuan? Kami tidak faham mengenai perkara ini. Apakah mereka tak memahami makna dari Idul Adha itu sendiri? Atau karena hati sebagian besar umat muslim di negara ini telah ditawan oleh dunia?

Antan[1] kami yang ikut menengok berita tersebut dengan kami berujar “Untung perkara demikian terjadi di Jawa. Belum pernah saya dapati perkara demikian di negeri kita. Mudah-mudahan saja Insya Allah tidak akan pernah..”

Tatkala kami tanya lebih lanjut, beliau menerangkan “Kan sudah kamu tengok sendiri, bagaimana perayaan Idul Adha di kampung kita. Membantai dilakukan di surau atau di lapangan, yang melakukan ialah orang kampung secara bergotong royong. Kemudian daging tersebut dibagikan, pertama ialah diberikan kepada peserta qurban sebanyak lima kilogram, selepas itu diberikan kepada para pekerja, dan setelah itu baru dibagikan kepada orang kampung sebanyak 2,5 kilogram..”

“Kalau dahulu daging tersebut dibagikan sendiri oleh peserta qurban kepada keluarga dan orang kampung. Sekarang sudah mudah yakni dibantu oleh panitia qurban, panitia hanya tinggal membagikan kupon dan menanti orang-orang kampung datang mengambil. Walaupun dibagikan dengan kupon, sama seperti yang terjadi di tivi itu, namun tidak pernah ada antri apalagi kekisruhan disaat mengambil daging qurban..”

Ya.. tuan, bahkan kami heran, sebab tatkala daging untuk orang kampung telah dibagikan, panitia qurban di surau masih berteriak-teriak meminta orang kampung untuk mengambil daging jatah mereka. Rupanya masih ada yang belum mengambil. Sangat berlainan kejadiannya dengan yang di tivi. Kami sungguh bersyukur dengan keadaan di kampung kami. Beruntung kami tinggal di kampung, beruntung jauh dari kota besar. Kalau tidak tentulah segala macam telah diuangkan pula, jangankan daging qurban, manusiapun ada yang diuangkan. Na’uzubillah..

Begitulah perayaan qurban di kampung kami tuan, bagaimana pula cerita dari kampung tuan? Kami berkeinginan pula mendengarnya.

sumber foto: internet


[1] Kakek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s