Taklid atau Ittibaa

kartun-dialog-ngaji-dakwahApa itu taklid? Banyak orang pada masa sekarang yang menyalah artikan pengertian dari taklid. Menurut pamahaman masyarakat sekarang, taklid itu ialah suatu perbuatan yang mengikuti-ikuti ajaran ulama terdahulu (mengunyah-ngucahnya) secara membabi-buta. Tanpa melalui usul perksa terlebih dahulu, memaksakan konsep masa lalu terhadap masa sekarang. Singkat kata, hidup seperti manusia gua di masa moderen sat ini.

Namun apakah demikian pengertian dari taklid sebenarnya?

Para ulama masih memiliki penafsiran yang beragam perihal taklid. Kami akan mencoba memberikan pengertian yang sederhana yaitu taklid merupakan suatu perbuatan yang mengikuti pendapat atau ajaran seseorang. Dimana pendapatnya tersebut tidak disertai atau dilandasi oleh dalil hukum yang kuat.

Apakah yang dimaksud dengan dalil hukum itu tuan?

Ialah Al Qur’an dan Hadist. Itulah dua perkara yang menjadi pedoman utama bagi amalan setiap muslim dalam menjalani kehidupan di dunia.

Bagaimana pulakah kiranya dengan orang-orang yang selama ini dituduh taklid buta terhadap ajaran agama?

bola-pisahMenurut pemahaman kami, yang mereka lakukan bukanlah taklid. Melainkan suatu amalan yang berpijak pada petunjuk dan ajaran dari ulama tertentu. Bukankah dalam beragama kita dianjurkan sebaiknya memiliki imam, dimana imamlah tempat kita belajar, bertanya, dan mengadukan berbagai persoalan menyangkut kehidupan beragama kita?

Perkara ini merupakan hal yang wajar, dimana tingkat pemahaman beragama setiap muslim itu berbeda. Tak usah kita tengok dalam kehidupan beragama, dalam kehidupan sehari-hari saja tingkat pemahaman kita akan suatu persoalan sesungguhnya berbeda-beda. Karena masing-masing manusia memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Baik itu dalam belajar, memahami, memaknai, maupun memilah-milah suatu perkara. Manusia juga memiliki kecenderungan yang berbeda, ada yang cenderung melihat yang tersurat saja dan ada pula yang selain melihat yang tersurat, yang tersiratpun dapat terbaca juga.

Oleh karena itulah maka pada beberapa golongan umat muslim yang masih rendah (awam) tingkat pengetahuan dan pemahaman agamanya dibenarkan untuk mengikuti (Ittibaa’) ajaran seorang imam yang kita percayai dan yakini ketinggian ilmu agamanya. Namun pada masa sekarang ini hal tersebut dianggap taklid bagi sebagian orang.

Mengikuti atau ittibaa’ merupakan suatu perkara yang dianjurkan karena tingkat pemahaman setiap muslim itu berbeda perihal ajaran agamanya. Hendaknya jangan disamakan dengan taklid sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dianjurkan.

kartun-anak-laki-bawa-pensilBagi orang yang telah memahami beberapa perkara agama (mujtahid) maka kepada mereka dipersilahkan untuk mencari, menganalisa, dan melakukan serangkai musyawarah (diskusi ataupun debat) dengan para ahli agama. Semoga dengan demikian mereka dapat menemukan pemecahan dalam perkara yang mereka hadapi. Peran imam dalam hal ini ialah sebagai tempat bertanya memberi pertimbangan serta menambah pemahaman keilmuan mereka. Kalau kita andaikan (analogikan) kepada dunia keilmuan sekarang, para mujtahid ini ialah orang yang memiliki pola fikir ilmiah. Dengan pengandaian seperti ini maka para mujtahid dapat pula kita katakan dengan para sarjana. Sedangkan para imam (ulama) itu adalah para professor (Guru Besar).

Kepada mereka tidak pula dilarang untuk mengikuti suatu pendapat dari para ulama terdahulu. Sebab tidak semua pendapat ulama terdahulu itu tidak sesuai dengan keadaan zaman kita pada masa sekarang. Selain itu, kemampuan setiap mujtahid dalam berijtihad berbeda-beda. Ada yang tidak sanggup pada perkara-perkara tertentu karena belum sampai pemahamannya. Maka untuk itu diperkenankan menengok kembali ke belakang, kepada pendapat para ulama terdahulu.

i-love-sunnahTerimalah segala yang baik,

 tinggalkanlah segala kekhilafan,

tidak ada yang ma’shuum (bebas dari kesalahan)

kecuali Muhammad Rasulullah

jangan menghina ataupun mencaci

karena mereka adalah pribadi terpuji

menyerahkan segenap daya dalam diri

berijtihad demi umat muslim

pada mereka ada dua pahala jika benar

dan satu pahala jika khilaf, yakni pahala atas ijtihad mereka

Lalu bagaimana pula dengan orang-orang yang hidup dalam kekakuan dalam menjalankan ajaran agama? Dengan bersandarkan kepada pendirian ulama tertentu di masa lalu mereka beranggapan bahwa jalan yang mereka tempuh merupakan jalan yang paling baik dibandingkan yang ditempuh oleh umat muslim lainnya? Terkadang sikap demikian yang ditunjukkan oleh mereka ini menimbulkan perselisihan dengan halaqh (kelompok) lainnya dalam Islam.

jalan-lurusbHal ini karena mereka telah khilaf sebagai akibat kurangnya pemahaman mereka dalam beragama. Memang sudah menjadi fitrah sebagian manusia untuk selalu mementingkan dirinya, menganggap pendapatnya benar dan orang lain salah. Jika terdapat perbedaan antara dirinya dengan orang lain, maka dia berkeinginan agar orang lain tersebut sama atau mengikuti dirinya. Jika tidak maka akan muncullah segala macam bentuk perselisihan atau persengketaan.

Sikap seperti ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang rendah pengetahuannya karena masih dalam tahap belajar. Tahap belajar ini tidak dapat kita ukur lamanya, sebab dapat saja berlangsung lama. Kita hanya dapat menengok pada sikap dan kepribadian dirinya dalam keseharian. Semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang, maka akan semakin teduh jiwanya, tenang sikapnya, dan teduh pembawaan dirinya.

Imam Malik pendiri Mazhab Maliki pernah berkata ketika seorang penguasa hendak menjadikan mazhab yang didirikannya menjadi mazhab resmi kerajaan. Beliau beralasan bahwa Allah telah membedakan ilmu pada suatu negeri dengan membedaka paran ulama di dalamnya. Oleh karena itu beliau tidak sepakat untuk memaksa manusia untuk berbeda.

Begitulah pendapat yang diutarakan oleh seorang yang berilmu pengetahuan. Pendapat Imam Malik ini sangat bersesuaian dengan pepatah Minangkabau:

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya.

Adat Salingka Nagari, Undang Salingka Alam.

Mereka yang memandang mazhab ataupun pemahamannyalah yang benar dalam beragama tidaklah patut untuk kita musuhi. Mereka ialah saudara kita juga. Do’akan saja mereka agar pintu ilmu terbuka lebar untuk mereka. Amiin..

madzhabLalu bagaimana pula dengan orang-orang yang berpendirian bahwa khazanah pemikiran ulama terdahulu tidak lagi patut untuk kita ikuti karena berasal dari zaman yang berbeda dengan kita?

Salah satu ciri orang yang berilmu ialah orang yang selalu merasa berkekurangan akan ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan kepadanya oleh Allah Ta’ala. Semakin banyak mereka tahu maka mereka semakin merasa kurang akan pengetahuan yang telah didapat. Mereka juga tidak suka meremehkan pendapat orang lain, selalu menghormatinya walaupun berbeda pandangan dengan mereka. Jika berdebat, mereka tak pernah berniat menjatuhkan apalagi mempermalukan. Sangat terpantang bagi orang berilmu untuk  menunjukkan kepandaian di hadapan orang lain. Karena mereka merasa belumlah pandai betul. Masih banyak yang lebih pandai.

Orang berilmu juga orang yang menghormati siapa saja, terkadang bagi orang awam, orang semacam ini terlihat seperti orang bodoh. Bagi orang awam, orang yang berilmu itu ialah yang paling banyak gelar di hadapan dan belakang namanya, memegang berbagai jabatan penting, yang makmur hidupnya, bagus-bagus pakaiannya, indah dan mewah rumahnya, sering berpergian ke berbagai daerah bahkan luar negeri, memiliki kawan sejawat orang penting dan berkuasa, dicari oleh orang sebagai tempat bertanya dan mengadu, memiliki banyak pengikut, sering memberikan ceramah, selalu sibuk dan jarang di rumah karena memiliki berbagai kegiatan yang sangat penting, dan lain sebagainya.

Namun tuan, tidaklah selalu demikian. Banyak orang berilmu hidup di antara kita. Sederhana tanpa pakaian bagus, mobil, kawan-kawan berkuasa, pengikut, tak memiliki jabatan, jarang berpergian karena tak ada uang dan tak ada yang mengundang, dan tinggal di rumah kecil yang bukan kepunyaannya.

Pandanga tentang orang berilmu tersebut sangat keliru tuan, karena telah banyak menipu kita, terutama masyarakat awam. Orang berilmu ialah orang yang telah menguasai hakekat hidup, tidak lagi tergoda dengan dunia, dan tunduk pandangannya. Tidak pernah menganggap remeh suatu pendapat, walaupun berasal berabad-abad lampau. Karena dalam pandangan mereka, suatu pendapat muncul pastilah berasal dari proses berfikir ilmiah yang sangat meletihkan. Mencari berbagai referensi, bertanya kepada orang-orang yang lebih mengetahui, kemudian menggali kembali ilmu-ilmu yang telah didapat, dan merenungkannya.

Kalaulah ada orang-orang yang meremehkan pendapat ulama terdahulu, memandang rendah orang-orang yang hidup dengan berpegang pada pendapat ulama terdahulu, dan menganggap bahwa merekalah kaum yang “tercerahkan”. Maka jauhilah, jangan dekati, berdo’alah kepada Allah semoga kita dan keluarga terjauhkan dari mereka, tidak termasuk kepada kaum mereka, dan terbebas dari mereka. Amiin..

2 thoughts on “Taklid atau Ittibaa

  1. mungkinkah munculnya taklid karena ignorance…. Mereka tidak berniat untuk mencari lagi dasar dan pemahaman yang benar karena masalah hidup ini jauh lebih susah daripada mencari yang benar?…

    1. iya mungkin mas, kembali lagi kita kepada tingkat pemahaman dan orientasi kita yang berbeda-beda pula. Kalau boleh kami andaikan, Ada orang yang tidak dapat mencerna suatu persoalan dengan baik (misal: sejarah, politik, sosial, budaya, agama, dll), namun jika dikemukakan persoalan lainnya dia dapat memahaminya dengan mudah (misal: otomotif, lifetyle, hiburan, sepakbola, dll). kami memiliki beberapa orang kawan yang seperti ini, dan bahkan kami sendiri juga orang yang demikian. Sama sekali susah dalam memahami sepakbola, otomotif, dan ekonomi.
      Terimakasih mas,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s