Pada suatu malam

 

 

CIMG0019Pada suatu malam yang dingin, angin berhembus dengan kencang, hujan gerimispun telah datang, sebagi penghantar bagi yang lebih besar. Terdengar oleh ku, pintu rumah buruk ku diketuk dengan pelan. Hampir-hampir tak terdengar ditengah keriuhan dedaunan yang diterpa angin yang kencang.

“Assalamu’alaikum..” seru sang pemilik suara dari luar. Lembut dan pelan sekali suaranya, hampir-hampir tak terdengar di tengah tingkah papan yang berderik-derik ketika ku injak. Rumah buruk ku berlantai papan, angin yang nakal berebut naik dari bawah kolong rumah. Aku telah terbiasa walau tak jarang demam mendatangi ku dengan setia.

“Wa’alaikumussalam..” jawab ku dari dalam rumah. Pintu berderik pelan tatkala ku buka, angin menerjang masuk, meniup kertas di atas meja, memain-mainkan tirai pintu bilik yang telah kusam, serta meniup wajah ku yang berminyak sambil mempermain-mainkan rambut ku yang agak panjang.

Aku terkejut, seorang kawan rupanya. Apa gerangan yang menghantarkannya malam-malam begini ke rumah ku yang buruk ini. Jauh dari labuh[1] besar, tersuruk di tengah ladang, dikelilingi oleh lumpur pabila hujan.

Dia tersenyum, sebuah senyum yang penuh kesedihan, matanya memancarkan kedukaan, wajahnya menyiratkan penderitaan. Aku tak sampai hati untuk bertanya perihal maksud kedatangannya. Pastilah jiwanya sedang gundah, ditekan berbagai kemalangan. Dia diam tak bergerak di atas jenjang di muka pintu rumah ku. Akupun terdiam sejenak..

“Masuklah engku..” seru ku. Tapi dia menggeleng, masih dengan senyum sedihnya.

“Tidak engku, terimakasih..” jawabnya pelan, suaranya parau dan pelan, bersaing dengan desauan angin dan gemersik dedaunan.

“Ayolah masuk engku, dingin di luar, nanti engku masuk angin..” desak ku sambil tersenyum. Dia tetap tak bergerak, masih dengan senyum sedihnya.

images“Tidak engku, terimakasih. Maafkan kedatangan ku malam-malam begini. Mengganggu engku sebenarnya maksud kedatangan ku ini. Berkenankah engku jika saya titipkan ini..” tanyanya sambil menyorongkan benda yang sedari tadi dirongohnya dari dalam saku celananya.

Aku heran, sebuah telpon genggam. Aku terdiam menatap benda itu “Ada apa gerangan? kenapa dia menitipkan telpon genggamnya pada ku? Bukankah zaman sekarang setiap orang membutuhkan benda ini? Malam-malam begini dia datang menantang angin dan hujan hanya untuk ini, ada apa?” begitulah isi pertanyaan ku dalam hati.

Dengan heran akupun bertanya “Engku, ada apa gerangan? Kenapa pula telpon genggam engku hendak dititipkan kepada saya? Tak perlukah engku dengan benda ini? atau engku telah beli telpon genggam yang lebihbaru?”

Gemuruh mulai bersahutan, tampaknya semalaman hujan akan melanda negeri kami. Suatu berkah dari Yang Kuasa tentunya. Bukankah hujan itu berkah? Nun dikejauhan di ufuk sana, ku lihat sambaran petir berganti-ganti serupa bola lampu plasma[2] pabila disentuh. Kawan ku dengan wajah sedihnya, dan sambaran petir dari kejauhan di belakang kepalanya, sungguh suatu pemandangan yang takkan dapat ku lupakan. Suatu malam perpisahan bagi seorang kawan, suatu malam yang tak biasa dan membuat ku sedih, suatu malam yang telah menularkan kedukaan dari satu hati ke hati yang lain.

300_234773Tangannya masih tetap tertatah di hadapan ku, dia bertahan, kemudian dengan senyum sedihnya dia menjawab “Aku hendak pergi engku, makanya aku titipkan ini kepada engku. Janganlah engku bertanya kenapa tak ku bawa, sebab aku yakin tak ku jawabpun engkupun akan tahu juga akhirnya”

Aku diterpa rasa bimbang, segala pertanyaan ku belumlah terjawab namun kawan ku ini sudah mengisyaratkan untuk tidak menjawabnya. Dengan berat hati ku ambil telpon genggam dari tangannya, terasa dingin telapak tangannya tatkala ujung jari ku menyentuhnya ketika mengambil telpon genggam ini.

Selepas benda ini berada di tangan ku, diapun berbalik hendak pergi. Aku coba untuk menahannya “Engku, kenapa? Ada apa?..” tanya ku dengan nada gelisah.

“Aku titipkan benda itu kepada engku, jawablah setiap panggilan yang masuk dan balaslah setiap pesan yang datang. Aku beri keleluasaan kepada engku untuk menjawab dan membalasnya” jawabnya masih dengan senyum sedihnya. Rambutnya yang agak ikal menari-nari diterpa angin. Dia telah berdiri di tengah halaman rumah ku yang berlumpur.

“Begitu beratkah masalah yang sedang menimpa engku sehingga engku putuskan untuk pergi? Bukankah kita tidak boleh menghindari masalah, melainkan menghadapinya. Kemanapun engku pergi, masalah itu akan tetap mendatangi engku jua” balas ku padanya.

penantianDia diam sejenak, menatap ke langit yang tak tampak karena ditutupi awan pekat. Kemudian dia berujar “Benar engku, tapi aku hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Hanya engku sajalah yang aku percayai, tapi itu belumlah cukup. Bergaul dengan manusia memanglah lebih banyak mendatangkan kedukaan. Engkukan tau keterbatasan ku, sangatlah susah bagi ku untuk bergaul dengan manusia. Terutama masa sekarang dimana dunia sudah dipenuhi oleh kebencian, kedengkian, prasangka, hasutan, dan berbagai macam bentuk keburukan lainnya. Apapun yang ku perbuat adalah suatu kesalahan di mata mereka. Tajamnya ucapan mereka sungguh pedih tak terperi, dingginnya perlakuan yang aku terima sungguh tak terkira. Apalah daya karena diri ini masihlah seorang hamba, bukan siapa-siapa”

“Benar engku, memanglah begitu keadaannya sekarang ini. Tetapi, bukankah kita orang beragama, kepada Allahlah kita pulangkan semuanya. Meminta dan memohon pertolongan dariNya. Sebagai muslim yang beriman tak sepatutnyalah kita menyerah kepada tantangan kehidupan, bukankah hidup ini hanya senda gurau belaka?” balas ku untuk melunakkan hatinya.

“Oleh karena itulah aku putuskan untuk hanya berdua denganNya engku..” jawabnya. Senyum sedihnya masih tersungging. Kemudian dia berpaling dari ku, memalingkan badan dan perlahan melangkahkan kakinya, menyusuri jalan kecil berlumpur dari rumah ku menuju  ke labuh besar. Perlahan-lahan tubuhnyapun ditelan oleh kegelapan.

Aku terdiam “Apakah dia berniat hendak menyendiri serupa seorang sufi..?” seru ku dalam hati. Disaat aku termenung, hujanpun turun dengan lebatnya, gemuruh semakin garang bersahutan. Aku teringat kawan ku tadi, dibahkan tak membawa payung, tak kehujanankah dia?. Ah.. suatu malam yang penuh dengan kesedihan, perlahan-lahan kesedihan itupun merayu-rayu di hadapan ku, hendak masuk ke sanubari ku.

nor3Perihal kawan ku, memanglah sepengetahuan ku, kawan ku yang seorang ini sedang berada dalam suatu permasalahan yang pelik. Persoalan utama ialah perihal pergaulan hidup dengan orang-orang di sekitar, dia memang tak pandai membawakan diri dihadapan orang banyak. Perasa dan peiba hati, setiap ucapan yang diterima dan perlakuan yang didapat selalu mendatangkan kedukaan baginya. Terlalu memikirkan segala persoalan, kadang yang tak patut menjadi pemikiran olehnya.

Seorang penyendiri atau kata orang sekarang “anti sosial”. Dia lebih senang menghabiskan waktu sendiri, hanya sesekali menemui orang-orang bila ada perlu. Karena jarang bergaul menyebabkan dia menjadi canggung jika bersua atau berhadapan dengan orang lain. Kecuali dengan ku yang entah kenapa menjadi satu-satunya orang yang dapat diterima olehnya. Orang-orangpun akhirnya berprasangka yang macam-macam perihal dirinya “sombong, angkuh, congkak, keras kepala, dan lain sebagainya..” begitulah kira-kira.

Pernah suatu ketika dia berujar kepada ku hendak menjadi seorang sufi. “Hidup dikesunyian, sendiri tanpa ada yang menemani. Syukur-syukur jikalau ada seorang perempuan terpuji yang mau menemani, menghabiskan hari sambil berbakti, beribadah kepada yang satu. Hidup pada sebuah rumah yang sederhana, dikelilingi sawah dan ladang tempat kami mencari hidup. Hidup jauh dari keramaian dunia, menikmati apa yang ada tanpa terikat dengan manusia..” ujarnya pada suatu ketika.

sufiyAku kira hal itu hanyalah angan-angan belaka. Tak ku sangka hendak di kejar saat ini juga, tapi dimana? Seorang perempuanpun belum ada bersama dirinya, dengan siapa dia hendak hidup bersama? Sanggupkah dirinya yang lemah menanggung ini semua? Ya.. ini semua karena sebagian bathinnya masih kosong, belum terisi oleh kasih sayang seorang perempuan. Itulah yang dibutuhkannya, bukan menyendiri serupa sufi di kesunyian.

Ah.. sudahlah, sebenarnya menjadi sufi juga merupakan salah satu keinginan ku. Ya.. akupun sudah bosan hidup bergaul dengan manusia, mereka penuh akan tipu muslihat. Ingin lebih mendekatkan diri dengan Rabb Pencipta Alam, supaya hati terasa lapang. Sekarang aku hanya dapat berdo’a yang terbaik jugalah hendaknya untuk kawan ku ini. Semoga dia mendapat ketenangan yang dicarinya. Semoga Allah melindungi, melapangkan jalan, membuka lebar-lebar pintu rezki, dan memberikannya perempuna cantik dan shalehah untuk dirinya. Amiin..

 

 

 

 


[1] Jalan (dalam Bahasa Minangkabau)

[2] Sebuah bola lampu yang terbuat dari bola gas bening yang diisi dengan  campuran beberapa gas pada tekanan rendah. Digerakkan oleh arus bolak-balik frekuensi tinggi (35 Hz) yang dibangkitkan oleh transformator tegangan tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s