Tak Sopan duduk Mengangkang..

Berikut ini ialah sebuah tulisan dari salah seorang kawan kami yang terlihat begitu marah dan kesal dengan pemberitaan perihal Perda yang dikeluarkan oleh Pemkab Lhokseumawe di Aceh. Kami sendiri dapat memahami karena sudah lama memang Republik ini dikuasai oleh media dengan orientasi Sekuler-Liberal-Pluralis. Semua yang bernafaskan Syari’at Islam akan segera menjadi bahan olok-olokkan, diburuk-burukkan, dan dikritik (hujat) dengan tajam.

Begitulah yang terjadi dengan Perda yang mengatur perihal tata cara perempuan duduk di atas motor yang dikeluarkan oleh Pemkab Lhokseumawe. Peraturan ini sangatlah tidak asing bagi kami di Minangkabau karena sesungguhnya kami sama dengan masyarakat Aceh. Adat dan Agama di negeri kami telah berpadu. Dalam masyarakat Minangkabau telah ada norma yang mengatur perihal tata cara duduk di atas motor, peraturannya ialah “Haruslah duduk menyamping bagi perempuan”

Namun yang namanya norma ialah tidak memiliki alat untuk menegakkan wibawanya, hanya beralaskan kepada kesadaran dari masyarakat penganutnya. Oleh karena itu pada masa sekarang, banyak yang melanggar, sudah sangat mengkhawatirkan sekali kelakuan penumpang dan pengendara motor jika mereka sedang berjalan di labuh (jalan). Berpagutan seperti laki-bini, atau para perempuan berpakain tak sepatutnya.

Tulisan kawan kami ini ialah dari sudut pandang kami,

kami yang hidup dengan syari’at,

kami yang adatnya telah berpadu dengan syari’at,

kami yang merupakan puak Melayu,

kami yang tinggal di Pulau Sumatera 

kami yang berbeda dengan kalian yang ada di Jakarta

we are different, we not same, we are not you, we are we, 

Silahkan tuan baca elok-elok, maaf kalau kami khilaf dan tak dapat mengedit beberapa bahasa kawan kami yang terlalu keras (vulgar)..

Duduk mengangkang serupa ini dapat dibenarkan. karena tidak saling mengapit, penumpang dan pengemudi sejenis kelamin.

Duduk mengangkang serupa ini dapat dibenarkan. karena tidak saling mengapit, penumpang dan pengemudi sejenis kelamin.

Beberapa hari ini sebagian media sempat menyoroti perihal keputusan Pemerintah Kabupaten Lhokseumawe di Aceh yang mengeluarkan keputusan melarang perempuan duduk mengangkang di atas motor di jok penumpang. Keputusan ini diambil karena melihat keadaan yang telah dinilai sangat mengkhawatirkan dimana banyak anak muda perempuan yang duduk mengangkang di atas motor dengan celana yang sempit, serta dengan posisi yang mengapit kawan di muka.

Keputusan ini mendapat sorotan di Jakarta terutama oleh beberapa lembaga, apakah itu lembaga pemerintah ataupun swasta, lembaga penelitian ataupun  LSM, serta terutama sekali ialah Media yang Telah Dikuasai oleh Kaum Liberal. Kebanyakan dari mereka menilai kebijakan ini sebagai suatu kebijakan “yang bodoh”. Kenapa demikian?

Karena menurut penelitian yang mereka (orang-orang Jakarta yang menentang) lakukan dengan menggunakan segenap metode dan teknik yang telah mereka pelajari pada disiplin ilmu yang mereka kuasai. Di dapatlah hasil bahwa keputusan dari Pemkab Lhokseumawe merupakan keputusan yang keliru dan pandir. Kenapa demikian?

Duduk Menyamping serupa ini memang tidak boleh, sebab dilakukan oleh perempuan yang berpakaian tak sepatutnya.Ilustrasi Gambar: Internet

Duduk Menyamping serupa ini memang tidak boleh, sebab dilakukan oleh perempuan yang berpakaian tak sepatutnya.
Ilustrasi Gambar: Internet

Menurut orang-orang hebhat ini duduk mengangkang jauh lebih aman bagi penumpang sepeda motor jika dibandingkan dengan duduk menyamping. Hal ini karena pengemudi lebih mudah menjaga keseimbangan, penumpang tidak cepat lelah,  keselamatan lebih terjaga, dan lain sebagainya.  Begitulah pendapat mereka, pendapat mereka serupa itu beredar dengan luas di berbagai media di republik ini, baik cetak maupun yang elektronik.

Namun benarkah demikian?

Maaf sebelumnya kami ucapkan, telah lama berlaku di masyarakat kami, terutama di masyarakat yang Hukum Adat dan Hukum Agamanya telah berpadu dengan Syari’at Islam. Telah berlaku semenjak dahulu di negeri kami ini bahwa ada norma atau aturan tak tertulis yang selalu dipatuhi bahwa jika seorang perempuan dibonceng di atas motor, maka dia harus duduk menyamping. Tidak peduli apakah dia dibonceng oleh lelaki atau perempuan, namun dia wajib duduk menyamping.

Serupa inikah yang diinginkan oleh orang Jakarta? Memang nikmat mata memandang. Neraka memang dipenuhi oleh kenikmatan dunia.Ilustrasi Gambar: Internet

Serupa inikah yang diinginkan oleh orang Jakarta? Memang nikmat mata memandang. Neraka memang dipenuhi oleh kenikmatan dunia.
Ilustrasi Gambar: Internet

Perempuan-perempuan yang duduk mengangkang biasanya kalau tidak anak-anak yang masih kecil dan belum pandai menjaga keseimbangan atau mereka ialah perempuan lacur, lonte, sudal, atau apapun itu mereka disebut. Begitulah yang tersirat dalam Norma Adat kami.

Tidak pernah selama ini terjadi kecelakaan karena penumpang duduk menyamping. Suatu keadaan (teori) yang kalian buat-buat untuk membenarkan pendapat kalian guna menghancurkan moral masyarakat kami. Telah lama berlangsung, kami sendiripun kalau membonceng perempuan, mereka selalu duduk menyamping, tak ada masalah dengan itu. Masalah bagi kalian “Masalah buat lo..” itu semua hanya karena pengaruh sugesti  yang kalian tebarkan kepada seluruh rakyat, sugesti menyesatkan. Memang pintar kalian..

Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka norma-norma tersebut mulai bergeser. Yang tak patut menjadi patut, yang haram  menjadi halal, dan lain sebagainya. Zaman sekarang mulai banyak perempuan yang berani duduk mengangkang. Yang paling membuat kami sedih dan kesal ialah tatkala melihat seorang perempuan duduk dibonceng oleh seorang lelaki, mereka berdempetan seperti orang sedang berpelukan. Dilakukan di jalan raya, dihadapan orang banyak, menjadi tontonan orang banyak, dan mereka sadar tapi entah karena urat malu yang telah putus, mereka tetap berlalu.

Kami yang memandang hanya dapat mengurut dada, menahan hati, bukan makan hati lagi namanya tapi sudah makan jantung. Norma Adat dan Agama kami diinjak-injak oleh anak-kamanakan kami sendiri. Di atas labuh (jalan) kami, di dalam nagari kami sendiri. Dan menurut orang Jakarta hal itu biasa dan aman. Mamang hebat kalian orang Jakarta, kalianlah yang paling hebat, paling pintar, dan paling benar di Republik ini.

Memang kami dengar dari para perantau kami yang telah bersekolah ataupun tinggal agak beberapa lama di Pulau Jawa, keadaan di sana sudah lama berlangsung demikian. Dimana sudah menjadi biasa di jalan-jalan di negeri-negeri di pulau itu jika terdapat sepasang anak muda bujang dan gadis berboncengan maka mereka akan saling berpagutan seperti laki-bini di dalam  bilik. Merekapun tak merasa malu karena sudah biasa, “ah.. biasa itu zaman sekarang..” kata kalian.

Atau duduk mengangkang serupa inikah yang mereka inginkan berlaku di aceh. Sungguh suatu ide yang cemerlang...Ilustrasi Gambar: Internet

Atau duduk mengangkang serupa inikah yang mereka inginkan berlaku di Aceh. Sungguh suatu ide yang cemerlang…
Ilustrasi Gambar: Internet

Namun tuan, Indonesia tidak hanya Jakarta dan tidak hanya Pulau Jawa. Negara ini terdiri atas orang dan bangsa yang beragam adat kebaisaannya. Lazim bagi tuan, belum tentu lazim pula bagi kami. Dan tuan harus dapat menerima itu, jangan kami seja hendaknya yang menerima kekurangan diri tuan, itu namanya egois tuan. Tuan-tuan para penganut aliran Pluralisme lebih patut jika dipanggil dengan Kaum Abdullah bin Ubay. Jika kalian yang berbeda dengan kami, maka kalian menuntut kami untuk menerima diri kalian apa adanya “karena ini hidup ini penuh dengan perbedaa, bukankah bunga akan terlihat indah di taman apabila mereka terdiri atas beragam warna” kata kalian “kita tidak dapat menyeragam seluruh orang, pemikiran, dll” lanjut kalian lagi.

Namun apabila kami yang berbeda dengan kalian maka kalian tak hendak menerima. Menuntut kami untuk sama dengan kalian, kalau kami menolak maka dengan segera “hujatan” sebagai fanatik, fundamentalis, radikalis, & teroris segera kalian sematkan kepada kami. Kalian menang beberapa langkah dari kami, karena kalian memeliki media yang selalu mendukung gerak kalian. Seperti yang terlihat kali ini, dimana seluruh media besar mendukung kalian dalam mengolok-ngolok saudara kami di Aceh.

Seperti inilah yang kami maksudkan tuan.Ilustrasi Gambar: Internet

Seperti inilah yang kami maksudkan tuan.
Ilustrasi Gambar: Internet

Tuan, apa yang kalian tanam sekarang akan kalian tuai dimasa depan kelak. Selama ini yang kalian tebarkan ialah kebencian, tuan-tuan tengok saja hasilnya serupa apa di masa depan kelak. Kami tak pernah mencari lawan, Kami orang Melayu memiliki falsafah “Musuh Pantang Dicari, Kalau Bersua Pantang Mengelak.. Tuan Pinta..Kami Beri..”

4 thoughts on “Tak Sopan duduk Mengangkang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s