Keledai Dungu

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Akhir-akhir ini, sangat ramai sekali pemberitaan mengenai banjir yang melanda Jakarta. Televisi, radio, koran, ataupun majalah membahas menenai banjir ini. Berbagai macam pendapat dari beragam ahli dimuat dan diulas oleh beberapa media. Namun sayangnya, berbagai pendapat tersebut tidak berdampak apa-apa terhadap banjir yang sekarang ini sedang melanda.

Padahal kalau aku tak salah, tahun lalu pendapat para ahli juga serupa dengan yang ini..” Sergah kawan kami pada suatu ketika.

Hee.. kami hanya terdiam pandir, karena memang kami pandir, tak faham mengenai ini. Memang kami sangat merasa aneh sekali. Hampir setiap tahun banjir melanda Jakarta namun kok tak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampaknya? Namun, hal tersebut tetaplah tersimpan sebagai sebuah pertanyaan dari orang pandir semacam kami ini.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Sambil berkacak pinggang memandang ke luar jendela, kawan kami yang sudah mulai geram dengan benda hitam berbentuk kotak yang terletak di atas meja berujar “Huh.. bagaimana pendapat engku mengenai berita yang baru saja kita tengok? Hampir habis kesabaran saya, memang hebat peranan media, memang pintar orang-orang culas yang bergerak dikegelapan kehidupan kekuasaan di seberang sana, dan memang engku, memang pandir kebanyakan dari saudara-saudara kita yang mudah sekali terpedaya dengan media, dengan apa yang mereka dengar dan saksikan..?”

Astagfirullah., sudah gilakah kawan kami ini? apa gerangan yang terjadi pada dirinya? Memang berita di tv barusan memuat seputar kabar banjir di Jakarta, seperti tempat pengungsian, daerah-daerah yang dilanda banjir, tinggi air, waduk dan bendungan di sekitar Jakarta, wawancara dengan beberapa orang, serta liputan road show-nya Jokowi. Lalu dimanakah salahnya berita-berita tersebut?

images

Ilustrasi Gambar: Internet

Ya.. Allah.. karena itukah..? ya.. kami memang sempat mendiskusikan masalah tersebut beberapa waktu yang lalu. Kami sama-sama mengalami dejavu karena begitu melihat fenomena yang terjadi saat ini, kiranya sama persis dengan kejadianyang terjadi hampir sepuluh tahun lalu. Dimana sosok yang pada saat sekarang ini sedang mendapat segala kesinisan bahkan terkadang hujatan dari media dan rakyat republik ini, dahulunya merupakan sesosok pribadi yang dipuja-puja banyak orang. Namun diakhir masa kepemimpinannya, dia malah mendapat segala kesinisan dan prasangka buruk dari orang-orang yang dipimpinnya. Ya.. pasti karena itu..

Dengan sedikit agak cemas kamipun berujar “Ah.. biarkan sajalah engku, engku kan tahu bagaimana cara berfikir orang awam.[1] Pendapat mereka sangat mudah sekali untuk dipengaruhi dan dibentuk, terutama sekali oleh media. Jadi janganlah engku terlalu bersusah hati, sebab hal ini tidak akan bertahan lama. Kami kira, paling lama ialah 1-2 tahun ini. Selepas itu mereka akan bersikap sama dengan sikap mereka kepada presiden yang sekarang sudah hampir habis masa jabatannya..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Bukan itu yang aku cemaskan engku, kita tahu kalau pendapat orang-orang pandir ini sangat mudah untuk dipengaruhi. Tapi apa usaha kita untuk mejaga agar mereka tidak dimanfaatkan!? Lihatlah.. sebentar lagi orang akan Pemilu, menjelang pemilu, orang-orang pandir ini sangat gampang sekali untuk dibohongi, diberi bantuan ini dan itu, dijanjikan berbagai hal. Pada hal mereka sudah tahu selepas itu mereka takkan diingat lagi oleh orang-orang ciluah ini. kejadian tersebut terjadi terus dalam siklus lima tahun dalam sistem demokrasi di negara kita. Terjadi terus.. terjadi terus.. dan terus..” jelasnya dengan nada geram bercampur dengan putus asa.

Kemudian kawan kami ini melanjutkan kembali “Sama kiranya dengan banjir Jakarta ini, lihatlah mereka, sudah tahu keadaan bumi di negeri mereka yang rendah, serta sedikit pula daerah resapan airnya, sistim drainase mereka yang buruk, dan lain-lain lagi penyebab banjir di daerah mereka. Tetap saja mereka tak peduli, begitu banjir usai, maka mereka akan kembali menjalankan kehidupan mereka seperti biasa. Tidak ada tindakan yang mereka lakukan untuk mencegah banjir datang kembali. Selepas itu, setahun lagi mereka akan kembali menerima jatah banjir seperti tahun sebelumnya. Bagi yang “agak sedikit pandirnya” maka mereka akan bersiap-siap dalam menyambut datangnya banjir. Bagi yang sudah terlalu pandirnya, maka mereka bersikap seolah-olah banjir takkan datang. Lihatlah engku, coba engku tengok, itulah gambaran orang-orang pandir di republik ini. dan orang-orang semacam ini ada di mana-mana, termasuk di kampung kita ini..

Ya.. memang benarlah demikian. Kamipun tak habis fikir, kami kira karena mereka tidak mau belajar dan berfikir. Coba kalau mereka mau belajar, akan mereka dapatkan dalam pelajaran mereka tersebut sebuah kata-kata bijak dari orang arif masa dahulu. Begini kira-kira bunyinya “Hanya keledai dungulah yang terperosok pasa lubang yang sama untuk kedua kalinya..

Apakah makna dari ungkapan tersebut tuan? Tahukah tuan? Kalau tak faham, cobalah bertanya dan belajar..?


[1] Dalam prinsip ilmu pengetahuan terdapat 3 cara atau pola berfikir yakni commonsense (awam), saintific (ilmiah), dan philosophy (filsafat). Sebagian besar orang lebih banyak berfikir dengan cara awam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s