Si Bijak & Si Pandir

Gambar Ilustrasi: Internet

Gambar Ilustrasi: Internet

Pada suatu hari, tepatnya petang hari selepas orang-orang pulang kantor. Kami dan beberapa orang kawan duduk-duduk bersama, berbincang-bincang mengenai berbagai perkara. Bercakap, maota-ota kesana-kemari. Kawan-kawan kami itu ialah Syaiful, Alamsyah, Malik, dan Irsyad yang merupakan anak muda yang dalam segi usia  dapat kita katakan sedang berada dalam masa kritis.

“Kata orang dalam kehidupan ini setiap insan akan berhadapan dengan berbagai persoalan dan permasalahan yang akan menguras kemampuan dirinya, bahkan hingga ke titik dimana dia akan mengalami goncangan dalam jiwanya. Hal tersebut akan berpengruh kepada pembentukan watak dan perilaku kita dalam menjalani kehidupan ini. Kata orang, segala permasalahan yang dihadapi tersebut akan membuat sesosok insan akan lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.” Kata Syaiful bak filsuf yang sedang berpetuah.

“Namun benarkah demikian? Kalau memang demikian, tentulah dunia akan jadi lebih baik dan terasa lebih nyaman..?” tanya tanya Malik.

Kamipun termenung, pertanyaan Malik tersebut ada benarnya. Alamsyah akhirnya menjawab tanya Malik. “Tentunya semuanya itu berpulang kepada diri masing-masing insan, bagaimana cara dia menanggapi dan menghadapi suatu persoalan? Serta seperti apapula pengaruh yang telah terbangun dalam dirinya selama ini? apakah dia seorang yang mengutamakan pertimbangan akalkah, hatikah, nilai-nilai yang terdapat dalam agama dan adatkah, atau yang lain. Berdasarkan pengaruh atau dasar yang telah terbangun dan melekat dalam diri dan jiwa seseoranglah maka kemudian hasil yang didapat dari berbagai persoalan yang ditemuinya akan berbeda-beda, tidak akan sama..”

Kamipun faham, rupanya inipulalah yang menyebabkan kenapa seseorang begitu keras pendiriannya akan suatu persoalan dan keras pula penentangannya terhadap persoalan yang lain.

“Pada saat sekarang ini, aku sedang menghadapi orang-orang yang sangat keras pendirian mereka dalam suatu persoalan. Merasa dirinya yang benar, keras serta kasar watak dan perilakunya. Kalau diperhatikan, tidak ada bekas-bekas pendidikan dalam dirinya.” Terang Irsyad kepada kami.

Rupanya dia sedang berada dalam kesusahan. Tanpa disuruh akhirnya dengan wajah murung, dia melanjutkan aduannya “Padahal kabarnya, mereka merupakan anak kuliahan. Merasa dirinya paling benar dan orang lain salah, suka mengumpat dan berkata-kata kasar, sudah beberapa kali terjadi pertikaian dengan salah seorang kawan. Dan tampaknya tidak ada tanda-tanda akan berubah pada dirinya..”.

Gambar: Ilustrasi: Internet

Gambar: Ilustrasi: Internet

Syaiful tersenyum kecil, Malik memberikan senyuman simpatinya kepada Irsyad. Akhirnya Almsyah, setelah menengok kepada kami semua, akhirnya dia mulai berpetuah “Sayyidina Ali pernah berkata bahwa kita belajar dari pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain. Kalau memang begitu adanya, maka orang tersebut merupakan ciri-ciri dari orang yang tidak pernah belajar dalam hidupnya. Belajar tidak hanya di bangku sekolah atau kuliah. Akan tetapi belajar maksudnya ialah menyimak, memperhatikan, dan memahami setiap kejadian (fenomena) yang terjadi di dalam Alam Kehidupan ini. Serupa dengan falsafah orang Minangkabau; Alam Takambang Jadi Guru. Dari setiap kejadian (fenomena) tersebut orang-orang yang bijak dan arif (bahasa Al Qur’an; orang-orang yang berfikir) akan dapat menarik hikmah bagi dirinya dan orang lain. Akan terjadi perubahan dalam cara dia bersikap dan bertutur kata. Namun bagi orang pandir yang dalam pandangannya hidup itu ialah untuk makan, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Berfikir bagi orang-orang semacam ini ialah suatu perbuatan yang sia-sia dan tidak mendatangkan faedah..

“Lalu bagaimana cara kita menghadapi orang-orang pandir ini..?” tanya kami kepada Alamsyah.

“Memanglah dalam menjalani kehidupan, orang-orang semacam ini selalu mendatangkan kesusahan bagi kita. Badan terasa penat dan hati terasa sedih, Imam Al Ghazali pernah menyebutkan bahwa berterimakasihlah aku kepada orang-orang yang tidak pernah aku temui dalam kehidupan ini. Karena bergaul dengan manusia selalu mendatangkan kesusahan bagi ku. Hal itu menggambarkan betapa kejadian serupa itu selalu terulang dalam setiap zaman. Semalang-malangnya orang ialah orang pandir yang tidak tahu dan sadar dengan kepandirannya. Jenis orang serupa ini ialah jenis yang paling banyak kita temui pada masa sekarang. Orang tua zaman dahulu di kampung-kampung pernah berpetuah; urang indak baraka jan ang lawan juo, kalau ang lawan, samo lo ang jo urang tu, samo-samo ndak baraka (orang yang tidak berakal janganlah kamu lawan, kalau tetap kamu lawan, maka itu artinya kamu dan dia sama-sama tidak berakal). Atau orang Jakarta bilang, yang waras ngalah..

Ya.. tampaknya rumus yang diberikan oleh Alamsyah ini sama dengan yang telah kami dapatkan sebelumnya. Namun masalah sekarang ialah, kalau dibiarkan maka orang-orang semacam ini akan semakin menjadi-jadi wataknya.

Alamsyah bilang “Bersabar sajalah engku, karena bersabar itu tanda orang beriman dan bertaqwa. Tenang saja engku, suatu masa kelak, akan ada orang yang akan memberikan pelajaran kepada orang-orang dengan watak semacam ini. Oleh karena itu, bersabarlah engku..”

 

Sumber Gambar:

http://balqisinsyirah.blogspot.com/2012/06/kawan-ada-di-mana-mana.html

2 thoughts on “Si Bijak & Si Pandir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s