Tabah..

Sertifikat PelatihanGambar: Milik Sendiri

Sertifikat Pelatihan
Gambar: Milik Sendiri

Sudah beberapa pekan badan ini terasa penat-penat. Sudah lama berkeinginan untuk pergi ke tukang urut, siapa tahu ada yang salah dengan badan ini. Namun setiap hendak pergi, selalu datang rasa malas,lagi pula memang ada yang hendak dikerjakan. Namun pada hari Ahad pekan ini, tampaknya kami harus pergi jua, sebab badan ini sudah sangat letih sekali rasanya.

Awalnya kami hendak pergi ke tukang urut yang ada di kampung kami saja. Namun karena hari sudah beranjak siang jua maka kami khawatir kalau orang sudah ramai dan harus mengantri pula. Kami tanyakan kepada ibunda kami, beliau mengamini “Jika hari sudah tinggi,[1] maka kemungkinan orang telah banyak di sana..” jawab ibunda kami.

Lalu beliau mengusulkan agar kami pergi saja berurut ke Pulai sebuah kampung di nagari jiran kami Magek. Terletak di perbatasan antara nagari kami dengan nagari Magek, tepatnya agak ke sebelah barat. Kata ibu yang pernah ke sana bersama adik kami “Tukang urutnya tunanetra bagus juga urutnya, cobalah ang pergilah ke sana..”

Lalu kami tanya “Perempuankah atau lelaki tukang urutnya bu..?”

“Kalau laki-laki yang datang maka akan diurut oleh suaminya, sedangkan apabila perempuan yang datang maka akan diurut oleh isterinya. Mereka itu laki-bini..” jawab ibu kami.

Rupanya mereka pasangan tunanetra, kami sedikit lebih senang karena aku sama sekali kurang nyaman jika harus diurut oleh tukang urut perempuan. Walaupun perempuannya sudah berumur tua, tetap saja kami merasa kurang tenang.

Kami pergi ke sana dengan diantar oleh adik kami, sebab kami belum tahu yang mana rumahnya. Adik kami Cuma mengantar saja, selepas itu kami ditinggal di sana. Terkejut juga kami dibuatnya, walau sebelumnya telah tahu bahwa mereka pasangan suami-isteri. Mereka tinggal di sebuah bangunan yang menempel ke sebuah bangunan utama. Bangunan utama berfungsi sebagai lapau minum, lapau ini dimiliki oleh orang lain. Tampaknya mereka menyewa tempat di sini, karena lapau minum lebih luas dari ruangan yang mereka tempati.

Keadaan ruangan di dalam rumah.Gambar: Milik Sendiri

Keadaan ruangan di dalam rumah.
Gambar: Milik Sendiri

Ruangan ini kira-kira berukuran lebar 4 m dan panjang 7-10 m. Ruang ini dibagi empat, paling belakang ialah dapur dan kamar mandi, kemudian disebelahnya ada kamar merangkap ruangan tempat menyimpan segala sesuatu, kemudian terdapat ruangan diantara kamar tempat praktek mengurut mereka. Ruangan ini sepertinya tempat meletakkan piring dan peralatan makan lainnya. Selain itu juga digunakan sebagai tempat meletakkan megicom, dan lain sebagainya. Ruangan praktek mereka berukuran  2×3 m, terdapat satu dipan di dalamnya. Kemudian di sebalah ruang untuk mengurut ini terdapat dipan tempat tidur, beserta tivi.

Sungguh terkejut kami melihat keadaan “rumah” tempat tinggal mereka. Berdua mereka kehilangan penglihatan lahir mereka, tapi kami yakin tidak demikian dengan mata bathin mereka. Mata bathin mereka tentunya lebih tajam pengihatannya dari orang lain. Mereka telah memiliki seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun.

Masih kanak-kanak, sepertinya anak ini sangat bijak. Dari air muka dan cara bicaranya anak ini kelak pasti akan menjadi orang hebat. Alhamdulillah anak ini terlahir sehat, tak kurang sesuatu apapun jua. Tidak seperti anak-anak seusia yang pernah bersua dengan kami, anak ini terlihat lebih tenang, lebih tahu diri. Ahad ini dia di rumah menemani ke dua orang tuanya, sedangkan di luar sana anak-anak sedang asyik bermain-main sesama mereka. Sesekali ia menengok ke luar dari dalam rumah, memandang kawan-kawan sebaya sedang tertawa riang.

Si anak dan ruang tamu merangkap sebagai tempat tidur.Gambar: Milik Sendiri

Si anak dan ruang tamu merangkap sebagai tempat tidur.
Gambar: Milik Sendiri

Tatkala kami kisahkan cerita ini di rumah, ibunda kami berujar “Sekarang sudah lebih baik, Dahulu pernah tersua oleh ibu anaknya menangis pulang. Mungkin diolok-olok oleh kawan-kawannya di sekolah. Iba hati kita melihatnya..”

Tatkala melihat keadaan keluarga kecil ini. Kami terkenang kembali perihal kisah serupa yang pernah diangkat oleh salah satu acara talkshow pada sebuah stasiun tv swasta yang sangat terkenal untuk saat ini di republik ini. Dibandingkan mereka yang diblow up oleh media, kisah keluarga kecil inipun tak kalah menyentuh hati.


[1] Beranjak siang, tidak ada patokan resminya, dapat saja pukul 09.00 ke atas, atau dapat juga pukul 10.00 pagi ke atas. Saat kami bertanya kepada ibu kami, ketika itu jam sedang menunjukkan pukul 09.00 pagi.

One thought on “Tabah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s