Pandai Sikek: Bagian. 1

Salah satu perkampungan di Nagari Pandai Sikek. Gambar ini diambil selepas Shalat Zuhur, dimana perlahan-lahan kabut datang dan kemudian menyelimuti nagari ini.Gambar: Milik Sendiri

Salah satu perkampungan di Nagari Pandai Sikek. Gambar ini diambil selepas Shalat Zuhur, dimana perlahan-lahan kabut datang dan kemudian menyelimuti nagari ini.
Gambar: Milik Sendiri

Pandai Sikek, apa yang terkenang oleh tuan pabila kami sebutkan kata itu?

“Ah.. nama sebuah nagari, sebuah kampung” kata tuan. Atau “suatu kampung dimana penduduknya sangat pandai sekali membuat kain tenun yang indah dan cantik..” kata tuan lagi.

Benar tuan, nagari ini memang terkenal akan kepandaian anak nagarinya dalam membuat kain tenun yang sangat indah. Songket namannya. Banyak dicari oleh orang, baik orang Minang sendiri, yang tinggal di kampung ataupun di rantau. Maupun oleh orang-orang non Minangkabau yang tertarik dan berkeinginan untuk membelinya.

Kampung ini terletak di Luhak Agam, namun entah kenapa kebijaksanaan orang-orang dahulu sehingga dalam administrasi pemerintahan moderen Nagari Pandai Sikek di tempatkan ke dalam Pemerintahan Kabupaten Tanah Data. Nagari ini berdekatan dengan Nagari Koto Baru yang sangat terkenal akan hasil pertaniannya berupa sayur-sayuran segar dan berkualitas. Keadaan nagari ini sendiri ialah berbukit-bukit, terlatak di kaki Gunung Singgalang. Berhawa sejuk dan memiliki pemandangan alam yang elok. Sangat bagus sekali bagi tuan apabila hendak memanjakan mata untuk datang ke sini. Kami sendiri meresa kurang puas dengan kedatangan kami yang pertama ini.

Selain itu, bagi tuan peminat sejarah. Maka tentunya nama Pandai Sikek tidak akan pernah tuan lupakan. Ya..tuan, nagari ini ialah kampung asal salah seorang dari Tiga Orang Haji pencetus Gerakan Paderi. Perlukah kami sebutkan nama Tuanku Haji itu ialah Haji Miskin, bersama dua orang kawannya yakni Haji Sumanik dari Luhak Tanah Data dan Haji Piobang dari Luhak Limo Puluah Koto.

Marilah tuan, kami kisahkan mengenai kesan kami mengenai nagari ini tatkala kedatangan pertama kami ke alamnya nan elok.

Alam nan elok

Salah satu jalan di Nagari Pandai Sikek.Gambar: Milik Sendiri

Salah satu jalan di Nagari Pandai Sikek.
Gambar: Milik Sendiri

Nagari ini terletak di ketinggian, kedatangan kami ke nagari ini ialah pada saat menjelang tengah hari tepatnya pada pukul sebelas. Kami masuk ke nagari ini melalui simpang tiga yang terletak tepat sebelum Pasa Koto Baru. Di suatu simpang dimana terdapat papan nama bertuliskan “Stasiun Transmisi RCTI” dan tepat di tepi jalan besar tersebut terdapat sebuah sekolah SD yang telah dipindahkan agak ke dalam. Pada saat sekarang, sekolah itu berupa gedung tak terpakai.

Jalan ke sana tidak begitu lebar, apabila dua kendaraan oto (mobil) berpapasan maka salah satunya harus berhenti atau berjalan pelan. Jalannya tidak datar namun tidak pula terlalu menurun, hanya berupa lurah yang landai. Di kanan-kiri akan salalu tuan temui pemandangan menakjubkan berupa lahan pertanian beragam sayuran mulai dari sawi, bawang perai, cabe, dan lain sebagainya. Atau terkadang diselingi oleh rumah penduduk. Di satu sisi terdapat tebing yang tidak terlalu tinggi dimana terdapat perkebunan penduduk di atasnya. Dan di sisi lainnya terdapat lurah yang juga terdapat perkebunan penduduk di bawahnya.

Sangatlah memikat hati tatkala melihat beberapa rumah penduduk yang tidak begitu besar dan tidak pula begitu kecil dihiasi oleh kolam ikan di hadapan rumah mereka. Sangat menyenangkan apalagi apabila di atas kolam itu tumbuh beberapa bunga teratai yang sudah sangat jarang sekali kita dapati pada masa sekarang.

Contoh salah satu dari beberapa "Rumah Lama" yang ada di Nagari Pandai Sikek.Gambar: Milik Sendiri

Contoh salah satu dari beberapa “Rumah Lama” yang ada di Nagari Pandai Sikek.
Gambar: Milik Sendiri

Rumah-rumah penduduk beragam bentuknya, ada yang masih berupa Rumah Gadang namun lebih banyak lagi berupa rumah biasa yang tak memiliki gonjong. Namun kebanyakan dari rumah-rumah tersebut masih berupa rumah panggung peninggalan dari masa dahulu. Rumah-rumah dengan bentuk dan ragam bangunan serupa ini merupakan ciri khas dari rumah-rumah yang berasal dari masa lalu. Ada yang terbuat dari kayu dan adapula yang terbuat dari batu bata. Bahkan hiasan berupa bunga fleur de elis lambang resmi dari Kerajaan Prancis masih ada yang tersisa.

Tabek atau Kolam yang berada di atas tebing.Gambar: Milik Sendiri

Tabek atau Kolam yang berada di atas tebing.
Gambar: Milik Sendiri

Jalanan di nagari ini sudah bangus karena telah di aspal beton. Di sisi jalan terdapat selokan tempat lalu air. Keadaan perkampungan di nagari ini sungguh sangat cantik dan rapi. Jalan yang kami dapati ialah melerang dan kemudian nun jauh di sana di kaki Gunung Singgalang yang sedang malu-malu berselimutkan awan dengan leluasa dapat kami nikmati kemolakan nageri ini. Di bawahnya berserakan rumah-rumah penduduk yang atap sengnya telah mulai memerah, tanda telah lama di pakai. Bukannya membuat buruk atau tak sedap dipandang mata, justeru sebaliknya, betambah cantiklah ia.

Masih dapat tertangkap oleh pandangan kami ini beberapa kolam yang terdapat di hadapan dan di belakang rumah penduduk. Dipergunakan sebagai tempat mencuci kain, peralatan memasak, dan keperluan lainnya. Bahkan ada pula beberapa kolam yang terletak di atas tebing, sungguh sangat indah sekali tuan.

Selepas kami menunaikan Shalat Zuhur, tiba-tiba arak-arakan kabut perlahan-lahan menyelimuti nagari ini. Nagari inipun segara diselimuti kabut embun. Suhu udara yang semula telah dingin menjadi bertambah dingin, bintik-bintik air sampai terasa di tangan dan muka wajah kami. Bukannya membuat suram suasana, bagi justeru semakin memikat hati. Sebab di kampung kami, embun hanya turun dikala pagi dan akan segera pergi meninggalkan kami apabila hari telah beranjak siang.

nun jauh di sana, Gunung Singalang tengah malu-malu berselimutkan awan. tak tampak rupanya. dan perlahan-lahanpun awan nan membawa hawa dinginpun menghampiri Pandai Sikek. "marilah ku selimuti dengan kesejukan syurgawi" ujar sang awan.Gambar: Milik Sendiri

nun jauh di sana, Gunung Singalang tengah malu-malu berselimutkan awan. tak tampak rupanya. dan perlahan-lahanpun awan nan membawa hawa dinginpun menghampiri Pandai Sikek. “marilah ku selimuti dengan kesejukan syurgawi” ujar sang awan.
Gambar: Milik Sendiri

Kamipun sempat meminta kepada salah seorang kawan untuk mengambilkan gambar kami dengan latar kabut embun ini. Namun dia berseru “Tak menarik engku, tengoklah ada kabut..”

“Justeru karena ada kabut itulah menariknya puan..” kata kami lagi.

Bagi anak nagari disini tentulah hal ini merupakan perkara biasa, namun bagi kami hal ini merupakan perkara langka, patut untuk diabadikan ke dalam bentuk gambar. Sungguh sangat indah sekali apabila disaat tengah hari serupa ini, kampung kami diselimuti oleh kabut embun. Pastilah sangat sejuk dan nikmat sekali.

Itulah kesan kami perihal keadaan Nagari Pandai Sikek tuan. Namun masih ada lanjutannya, akan coba kami terangkan perihal kepandaian khas dari anak nagari sini yang telah sangat terkenal kemana-mana. Yakni kepandaian menenun kain songket. Silahkan tuan simak di tulisan kami berikutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s