galodo th.58

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Dahulu sekali, tatkala kami masih duduk di bangku perguruan tinggi. Tatkala fikiran kami dan kawan-kawan dirasuki dengan berbagai pemahaman. Tatkala jiwa ini masih menggelegak, nafsu (emosi) tak dapat dikendalikan. Dahulu sekali tuan..

Pada suatu ketika di masa dahulu, kami dan beberapa orang kawan bercakap-cakap bertukar fikiran. Banyak perkara yang kami perbincangkan, bak para pandeka yang sedang bermain pencak di gelanggang permainan. Kami bersilat lidah, beradu pendapat, saling menyalahkan lawan bicara, dan membenarkan pendapat sendiri. Sungguh suatu masa-masa indah nan jenaka, tak patut untuk dilupakan, lebih patut lagi untuk dikenang dan diambil pelajaran darinya.

Kami berkumpul di rumah sewaan (kos) di Bandar Padang, menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi negeri di bandar ini. Sebuah perguruan yang sangat harum namanya di Minangkabau dan Pulau Andalas. Pada menjelang tengah malam, dimana seharusnya sebagai manusia kami sepatutnya berangkat keperaduan guna merehatkan diri guna menghadapi esok hari yang penuh akan pertarungan. Namun justeru tidak, hati dan jiwa anak muda selalu hidup, sangat payah untuk diistirahatkan, walau terkadang badan telah mengeluh.

Setelah memperbincangkan berbagai macam perkara kekinian, menyangkut kehidupan masyarakat di republik ini. Maka selanjutnya, secara perlahan percakapan kamipun mulai beralih kepada suatu peristiwa sejarah yang menimpa negeri ini, Minangkabau. Penyulutnya ialah perkara ideologi politik; liberal, sosialis, komunis, dan Islam.

David Syarif merupakan kawan kami yang belajar di jurusan sastra, beliau tiba-tiba berujar agak keras tatkala ideologinya disenggung. Bak tersengat kalo dia berujar “Orang Minang sungguh pandir sekali, apa hal? Karena membiarkan nama seorang jendral yang memimpin penumpasan pemberontakan PRRI dijadikan nama jalan..!

Kami tercenung, memang benar. Tapi..

Sebelum kami menjawab, Nazir Akmal salah seorang kawan kami berasal dari jurusan sejarahlah yang menjawab “Ah.. tak tahukah engku bagaimana sejarah pemberontakan tersebut. Engku tampaknya tak mendalami betul sejarah kelu yang menimpa Alam Minangkabau..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Nazirpun berkisah “Ya.. betul, Sang Jendral tersebut memang diserahi tugas pertama kali oleh “Yang Mulia Pemimpin Revolusi” untuk memberikan pelajaran kepada orang Minang yang keras kepala ini. Prajuritnyalah yang membuka jalan kepada serdadu “kejam” yang datang belakangan. Dalam salah satu tulisan dari seorang saksi sejarah yang ketika itu masih kanak-kanak, beliau menceritakan bahwa pasukan jendral tersebut terlihat sangat santun. Mereka tak hendak menyakiti rakyat, apalagi sembarang tuduh. Mereka justeru melindungi dan mengarahkan rakyat untuk pergi ke tempat yang aman.”

“Dalam sebuah buku yang ditulis perihal Gubernur Pertama Sumatera Barat yakni Kaharudin Dt. Rangkayo Basa. Kalau saya tak salah, pada buku tersebut dikisahkan bahwa pada suatu ketika Kaharudin Dt. Rangkayo Basa yang ketika itu masih menjabat sebagai Kepala Polisi Sumatera Tengah yang menolak untuk bergabung dengan Kol. Ahmad Husein dan Kol. Dahlan Djambek tengah sibuk hijrah dari hutan ke hutan. Beliau kemudian berhasil ditemukan oleh utusan yang dikirim oleh Sang Jendral dan dibawa kehadapan Sang Jendral. Mereka bersua di Kayu Tanam, tepatnya di INS Kayu Tanam dimana Sang Jendral dan pasukannya membuat kemah di sana.”

“Sang Jendral mengingatkan kepada Dt. Rangkayo Basa bahwa yang sepatutnya menjadi perhatinnya bukanlah pasukan PRRI yang tengah bergerilya di hutan-hutan. Melainkan “buaya” yang akan datang selepas ini mengiringi Sang Jendral.”

“Siapakah “buaya” itu tuan?” tanya engku Nazir lagi.

“Yakni pasukan Komunis dari pusat. Pasukan ini sangat buruk laku dan tabiatnya, sungguh tak terperi sakitnya sampai sekarang. kalaulah engku cari kisah-kisah perihal PRRI, niscaya engku akan bersua dengan kisah-kisah memilukan yang dialami oleh perempuan Minang dimasa ini.

“Asalkan engku tahu, dijajah Belanda tidak sesakit ini, justeru dijajah oleh orang-orang yang mengaku “Saudara Sebangsa”, itulah yang tak terperi sakitnya. Belum pernah Perempua Minang diperlakukan sehina itu, belum pernah engku, belum pernah..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“ Perempuan di negeri kita ini dimuliakan dan dihormati. Pada merekalah garis keturunan keluarga dilanjutkan. Pada merekalah harta pusaka dititipkan. Pada merekalah marwah keluarga disandangkan. Pada merekalah engku. Dan pada masa itu, mereka diperlakukan bak perempuan sundal seperti di bandar-bandar besar..”

David terdiam, dia mengalihkan pandangan ke jalanan yang terletak tak jauh dari rumah sewaan kami. Wajar dia tidak begitu senang dangan PRRI dan wajar pula dia tidak pula begitu suka dengan Sang Jendral yang merupakan salah satu dari tujuh orang Pahlawan Revolusi.

Kamipun mencoba untuk memperjelas “Tidak hanya sekarang engku-engku, pada masa dahulupun anak-anak nagari di Minangkabau telah terpecah kepada beberapa ideologi. Namun tetaplah Ideologi Islam yang paling kuat. Komunis sama sekali tidak mendapat tempat. Kaum komunis yang terkenal keras, kejam, dan culas selalu berusaha mengendalikan dan menguasai kehidupan di setiap negeri yang dihinggapinya. Dan para pemimpin kita pada masa itu sangat sadar akan bahayanya, Pemegang Kekuasaan Tertinggi di republik ini tengah memadu kasih dengan Komunis. Apabila yang dipucuk telah terkena, alamat akan kena sampai ke pangkalnya engku..

Inyiak-inyiak kita sangatlah insyaf akan hal ini. Pemimpin negara ini bukanlah jenis orang yang mau diingatkan dan mendengarkan pendapat. Terbukti, wakilnya yang merupakan orang kampung kita tidak dapat menasehatinya dan terpaksa mengundurkan diri. Sedangkan kedudukannya tidaklah mungkin untuk digoyahkan dengan cara baik-baik, dia sedang terlena dan larut dengan kekuasaan..

Satu-satunya cara ialah dengan memberikan sentuhan yang agak keras supaya dia sadar. Namun sayang, inyiak-inyiak kita kurang perhitungan. Yang dihadapi bukanlah pandeka baru belajar, melainkan yang telah lihai. Dia tahu kalau kita Orang Minang ialah Gadang Garetak. Maka dikirimnyalah para serdadu hitam yang tak mengenal kasih..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

David tak hendak menerima begitu saja agaknya, diapun membalas “Ah.. kalau begitu kenapa kalian meminta bantuan kepada Kapitalis Amerika..? Jangan mengelak..! Ahmad Husein menemui agen mereka di Singapura guna mendapat bantuan senjata..!!”

Kamipun menjawab “Benar engku, Kolonel Ahmad Husein berusaha mencari bantuan senjata ke Amerika, namun bukan berarti mereka antek-antek Amerika. Engku fahamilah keadaan masa itu, tak adil jika menilai masa lalu dengan sudut pandang masa sekarang. Lagipula, orang Minang yang lain tak pula tahu perkara itu, walau mereka juga merasa heran akan persenjataan baru mereka ini. Kebanyakan orang Minang ketika itu tidak sadar kalau sedang dibantu oleh Amerika. Sebab yang ada dalam fikiran kami ketika itu ialah bagaimana caranya melenyapkan Kaum Anti Tuhan ini dari muka bumi..

Nazir menambahkan “Kita orang Minang ialah umat Muhammad yang beragama Islam. Adat di negeri kita telah berpadu dengan syara’, dengan agama. Sangatlah ganjil jika ada orang Minang yang menolak Hukum Syari’at. Dan orang semacam itu tak patut lagi kita sebut sebagai orang Minang. Mereka bukan lagi bagian dari Alam Minangkabau. Telah murtad, kafir..!!!

Nazir hanya tesenyum saja kepada kami berdua, diambilnya tembakau David agak sebatang. David yang kesal karena dipaduo-I tatkala melihat asap tembakau telah mengepul keluar dari mulut Nazirpun ikut terpancing. Malam yang penuh gejolak, tepat pula di bulan ini kejadiannya. Petaka itu terjadi tahun 1958. Peperangan antara Liberalis-Islamis-Komunis masih terus berlanjut hingga kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s