Pandai Sikek: Bagian.2

Pakaian kebesaran Raja ditenun dengan benang emas bernama Sangsatakala

Ditenun sendiri..

Salah satu alat tenun yang dipakai penenun di Nagari Pandai sikek.Gambar: Milik Sendiri

Salah satu alat tenun yang dipakai penenun di Nagari Pandai sikek.
Gambar: Milik Sendiri

Ditenun oleh anak bidadari.. (Dipetik dari: Tambo Alam Minangkabau curaian Dt. Batuah)

Kutipan di atas merupakan petikan dari isi Tambo Alam Minangkabau. Mengisahkan perihal keagungan Raja Minangkabau. Memang begitulah adat raja-raja, penuh keagungan dan makna. Baik secara tersurat maupun tersirat.

Salah satu lambang dari kebesaran orang dahulu ialah pakaian yang dikenakannya, setiap jenis pakaian melambangkan posisi para pembesar dalam adat. Pakaian yang dikenakan bukanlah sembarang pakaian, melainkan pakaian yang dibuat sendiri oleh anak nagari di Alam Minangkabau. Belum ada pakaian impor tuan, sama sekali belum ada. Segala kebutuhan dicukupkan sendiri oleh anak nagari. Sedangkan mengenai kepandaian yang dimiliki serupa kepandaian menenun, bermacam-macam cerita orang perihal asalnya. Ada yang menyebut berasal dari Cina, Siam (Thailand), ataupun India. Masing-masing dengan ceritanya sendiri.

Sesungguhnya nagari-nagari penenun kain songket sangat banyak di Alam Minangkabau ini. Sebut saja Padang Magek, Silungkang, Sungayang, Koto Gadang, Solok, Pandai Sikek, Muaro Labuah, Payokumbuah, Halaban, dan lain sebagainya. Namun yang tersisa hingga masa sekarang tidaklah banyak, namun yang paling terkenal ialah dua nagari di Alam Minangkabau ini yaitu Silungkang dan Pandai Sikek.

Masing-masing nagari memiliki kekhasannya sendiri-sendiri dalam membuat kain songket. Sangatlah susah bagi orang awam untuk mengenali kekhasan dari masing-masing kain songket ini. Kesemuanya tentunya dengan nilai dan maknanya tersendiri. Namun pada masa sekarang, pengetahuan perihal makna filosofis dari setiap motif yang terdapat pada kain Songket sudah sangat sulit. Sehingga kami kehilangan akan bertanya kepada siapa perihal perkara ini.

Salah sudut Nagari Pandai Sikek dilihat dari ketinggian.Gambar: Milik Sendiri

Salah sudut Nagari Pandai Sikek dilihat dari ketinggian.
Gambar: Milik Sendiri

Kepandaian menenun di Nagari Pandai Sikek merupakan kepadaian turun temurun yang hampir sepenuhnya dikuasai oleh kaum perempuan. Hanya sebagian kecil kaum lelaki Pandai Sikek pada saat sekarang ini yang menguasai kepandaian menenun ini. Kepandaian diturunkan dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak. Salah satu yang menari hati kami ialah tatkala melihat beras bersama siriah langkok yang diletakkan dalam sebuah panci di bawah peralatan menenun. Setelah kami tanyakan, rupanya itu merupakan syarat bagi seseorang yang hendak belajar menenun.

Syart ini tentunya hanyalah makna simbolis saja, tidak ada maksud apa-apa, terutama syirik. Seperti syart yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak belajar silat. Dimana dia harus menyerahkan uang logam lama dan pisau tak berasah.[1] Maknanya ialah kalau uang yaitu kalau ilmu tak dapat dibeli, tak dapat ditakar harganya. Apabila diberi dia tak berkurang. Sedangkan makna dari pisau tak berasah ialah yang namanya ilmu apabila tak diasah alamat dia akan tumpul bahkan hilang. Serupa kata pepatah; pasa jalan dek batampuah, apa kaji dek baulang.

Salah satu "Rumah Tenun" dimana di sini dijual songket dengan berbagai kualitas.Gambar: Milik Sendiri

Salah satu “Rumah Tenun” dimana di sini dijual songket dengan berbagai kualitas.
Gambar: Milik Sendiri

Menenun merupakan industri rumahan di Pandai Sikek, tidak ada pabrik khusus untuk tenun, ataupun kawasan khusus untuk menenun. Setiap kaum perempuan memiliki peralatan tenun di rumah mereka. Menenun dikerjakan sambil membesarkan anak, melayani suami, dan mengurus keluarga. Oleh karena itulah maka apabila mereka menenun kain akan memerlukan waktu yang cukup lama karena pekerjaan tersebut diselingi dengan pekerjaan lainnya.

Saat kami pergi ke rumah salah seorang penenun, rupanya dia sedang berhenti bekerja. Apa hal, waktu zuhur telah masuk dan suaminya telah pulang ke rumah, hendak shalat dan makan tengah hari. Begitu pula tatkala kami pergi ke surau hendak Shalat Zuhur, tampak oleh kami dari halaman, salah seorang ibu sedang menenun sambil mengasuh anaknya.

Konon kabarnya pada masa dahulu tuan, pekerjaan menenun ini dikerjakan di dalam barumah atau “kolong” bahasa orang sekarang. Disana banyak terdapat peralatan tenun dan ramai oleh suara canda tawa kaum perempuan. Pada masa sekarang dimana Rumah Gadang semakin mahal pembuatannya, maka dalam barumah sudah tidak ada lagi. Dan bahkan kata-kata dalam barumah sudah tak dikenal oleh orang sekarang. Kata-kata ini sampai kepada kami karena dahulu kami pernah memiliki Rumah Gadang yang terbuat dari kayu.

Inilah yang kami dapati di Pandai Sikek..


[1] Pisau ini memiliki nama, namun kami lupa namanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s