Istiqamah..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Ananda, marilah abie kisahkan suatu kisah. Kisah ini menceritakan perihal seekor kerbau, tahukan ananda kerbau? Binatang yang malas mandi sehingga baunya sungguh tak sedap. Namun dagingnya sangat lezat sekali apabila digulai. Di kampung kita, apabila ada orang yang baralek, maka gulai daging kerbau merupakan salah satu hidangan yang sangat diminati oleh para tetamu.

Kisah yang akan abie tuturkan ini perihal kehidupan seekor kerbau muda, beberapa bulan yang lalu dia diambil oleh anak tuannya. Dipisahkan kandangnya dengan kerbau-kerbau yang lain, dirawat, dimandikan (walau sebenarnya pada mulanya dia sangat takut sekali tatkala akan disiram dengan air), dan diperlakukan layaknya binatang peliharaan kesayangan.

Anak tuannya ialah seorang anak gadis belia, suka sekali dengan yang bersih-bersih. Tatkala menengok seekor kerbau kecil nan lucu. Maka hatinya tergerak untuk memelihara sang anak kerbau. Maka dibujuk dan dirayunyalah ayahnya, supaya dapat memelihara seekor saja dari sekian banyak kerbau kepunyaan ayahnya.

Ayahnya serupa dengan abie ananda, tak tahan jika melihat anak gadisnya merajuk. Maka dipenuhinyalah keinginan anak gadisnya. Selang beberapa masa kemudian, si anak pergi sebab masa liburnya telah habis. Sang Ayahpun bingung sebab tak tahu hendak diapakan kerbau kecil ini. Apa hal nanda?

Karena anak kerbau ini terlihat lebih gemuk, bulu-bulunya lebih bersih, dan baunya lebih sedap. Berbeda dengan kerbau-kerbau lain miliknya. Sang ayah yang sedang kebingungan apakah akan memutuskan untuk mengembalikan kerbau ini ke kelompoknya. Sebab dalam pandangan sang ayah, tentulah kerbau ini lebih suka apabila dikumpulkan bersama kawan-kawannya.

Nan.. nanda, marilah abie kisahkan bagaimana kehidupan sang kerbau ini selanjutnya. Supaya nanda tidak bingung, ayah beritahu nama kerbau ini “Si Balang” namanya. Sang anaklah yang memberikan nama itu, apa sebab sampai diberikan nama Si Balang? Sebab dia memiliki bulu belang nanda.

Tatkala pertama sampai ke kandang lamanya, Si Balang hanya mendapat tatapan dingin dari kawan-kawannya. Mereka menjaga jarak dari Si Balang, sesekali mereka merebut rumput yang hendak dimakan Si Balang. Sedih hatinya, namun apalah daya, dia hanya seorang diri, masih kecil pula. Dia bersabar dan diam “tak guna melawan, awak pastilah kalah nanti..” begitulah kata hatinya.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Si Balang memiliki kebiasaan yakni pergi mandi di sungai dekat kebun millik tuannya. Disaat kerbau-kerbau lain takut dengan air, Si Balang justeru dengan tenang berendam di dalam air. Bulu-bulunya yang awalnya kotor karena debu dan lumpur menjadi bersih serupa sedia kala. Sangat berbeda dengan bulu milik kawan-kawannya.

Kebiasaan Si Balang sungguh mengganggu dan membuat kawan-kawannya tak senang. Maka tindakan jahat kepada Si Balangpun semakin menjadi-jadi. Dia diseruduk dari arah belakang tatkala petang hari mereka berlari kembali ke dalam kandang. Rumput-rumput miliknya dibabat habis oleh kawan-kawannya. Dia dijauhi, tak ada yang mau bercakap-cakap dengannya. Bahkan tempat dimana biasa dia tidurpun telah diambil alih oleh kerbau lain.

Sedih nian hatinya, kemana hendak pergi? Kepada siapa hendak mengadu? Induknya telah dijual oleh tuannya, kata orang hendak dijadikan orang untuk randang karena beberapa masa lagi akan ada kenduri besar di kampung tuannya.

Pada suatu ketika, tatkala perutnya lapar sangat karena hanya mendapat rumput sedikit (ingat nanda, kawan-kawannya telah memakan sebagian besar rumput jatah si Balang). Maka dengan sangat terpaksa Si Balang pergi menemui salah seorang pemimpin kelompoknya “Engku Bendahara, tolong berilah saya rumput agak sedikit. Sungguh tak sanggup kaki ini dibawa berjalan, badan inipun sudah terasa sangat letih sekali karena makan hanya sedikit..” ujarnya sedih.

“Heh.. pandai juga engkau bercakap rupanya. Aku fikir engkau ini makhluk dari mana. Sombong dan berlagak! Beberapa masa tinggal dengan manusia telah membuat diri mu menjadi sombong..!” balas si Bendahara jahat.

Si Balang hanya diam, dia menunduk “Apalah salah ku ya Allah.. hamba hanya mengikuti jalan Mu. Lalu kenapa kawan-kawan hamba justeru tidak suka dan membenci hamba..?” keluhnya sedih.

Dia memang jarang bercakap dan bergaul dengan kawan-kawannya yang lain. Apa pasal nanda? Bukan karena dia sombong atau tinggi hati, namun karena semenjak permulaan dia telah dijauhi dan dipandang dengan tatapan benci. Di tahu, seharusnya dialah yang mendekat untuk pertama kali, namun dia terlalu takut untuk mendekat. Hatinya terlalu lemah, karena jarang bergaul dengan kawan-kawannya sesama kerbau, membuat dia canggung dan cenderung pemalu serta salah tingkah pabila bersua dengan kerbau-kerbau lainnya. Begitulah nanda..

Tahukah nanda? Dikala susah ataupun sedih, kepada Allahlah sebaik-sebaik tempat mengadu dan berkeluh kesah. Apabila kita lakukan itu kepada manusia, maka kita takkan pernah tahu apakah hati mereka benar-benar tulus dan bersih. Sebab di hadapan kita dapat saja mereka bermanis muka, sedangkan di belakang kita mereka dapat saja memburuk-burukkan dan mempergunjingkan kita.

Dan tahu pulakah nanda kenapa Si Balang bersedih lagi? Karena dia mengamalkan ajaran kebersihan ialah sebagian dari iman. Namun sayang, perkara baru yang dijalaninya berlainan dengan kebiasaan banyak kerbau, kerbau sangat suka sekali pergi ke kubangan. Itulah tabi’at asli dari makhluk ini. Sudah menjadi sifat dasar makhluk rupanya bahwa membenci hal-hal yang diluar kebiasaan mereka. Termasuk itu perkara-perkara yang diajarkan oleh agama. Nanda tengok sajalah pada masa sekarang, dengan mudahnya seseorang dengan ciri khas tertentu difitnah sebagai radikalis.

Kita kembali kepada kisah si Balang. Dia hanya bisa menyendiri, sendiri tak ada kawan. Dalam hati dia tak hendak merubah kebiasaan baru yang dijalaninya, karena memang terasa bagi dirinya perbedaannya. Manusia, terutama anak-anak sangat suka membelai-belai bulunya yang halus dan bersih. Sangat suka sekali memeluk kerbau muda ini serta membawanya bermain-main bersama mereka.

Kerbau-kerbau yang lain menjadi dengki dibuatnya. Kenapa harus si Balang? Kenapa bukan mereka?

sabar

Ilustrasi Gambar: Internet

Jawabannya telah mereka ketahui sendiri, namun mereka tak hendak berubah dan mengikuti kebiasaan si Balang. Bagi mereka perkara mandi-mandi setiap pagi dan petang ialah perkara di luar kebiasaan dan pantang bagi mereka untuk mengerjakannya “Kita tunggu sajalah, bair tuan kita yang memandika kita..” begitulah pendapat mereka. Namun di satu sisi mereka ingin disukai oleh banyak manusia.

Hal ini membuat mereka kesal, geram, dan marah. Akibatnya si Balang jua yang menanggungnya. Sebab si Balang menjadi tempat pelampiasan amarah. Mereka tahu yang baik tapi hati mereka telah ditutupi oleh Allah untuk menuju ke arah sana (kebaikan). Hati mereka hitam-legam, dikuasai nafsu dan syetan, syetan telah membuat hati mereka memandang baik perbuatan dan kebiasaan buruk mereka. Itulah tipu daya syetan nanda.

Marilah kita berdo’a kepada Allah semoga terhindar dari perkara-perkara yang demikian. Dan marilah kita berdo’a supaya si Balang dilapangkan jalannya oleh Allah dan diberi kemudahan dalam setiap harinya. Amiin..

Advertisements

4 thoughts on “Istiqamah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s