warisan bijak para ulama

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Ternyata tuan, agama kita yakni Islam apabila dipelajari dan didalami hingga Allah memberikan rahmat kepada kita berupa dibukakannya pintu ilmu maka akan terasa manis dan lapanglah hati ini. apa sebab tuan? Karena agama kita ternyata kaya akan perbedaan.

Namun tuan dan encik[1] jangan salah pengertian atau salah faham dahulu. Walau kami mengakui dan menghormati perbedaan namun kami bukanlah seorang pluralis. Kami mengakui dan memaklumi perbedaan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan agama kita saja. Sebab sudah menjadi pandangan bagi kita umat Islam di republik ini. Bahwa orang yang mengakui dan menerima perbedaan ialah orang pluralis, SEPILIS. Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang munafik telah memperbodoh kita umat Islam. Mereka sengaja membiarkan kebencian itu menguasai hati kita sehingga jika kita mendapat adanya ajaran dari agama kita yang rupanya bersesuaian dengan yang mereka ucapkan maka kita umat Islam akan segerak menafikan dan kemudian meninggalkannya.

Tuan, marilah kami bacakan sebuah kisah dari Kitab Memahami Khazanah Klasik, , Mazhab, & Ikhtilaf yang ditulis oleh Syech Yususf Al Qaradhawi:

Diriwayatkan dari Imam Syafi’I bahwa ia meninggalkan qunut tatkala shalat subuh ketika beliau shalat berjama’ah bersama jama’ah yang bermazhabkan Hanafi di masjid Imam mereka, di Kota Bagdhad. Beliau melakukan hal yang demikian dikarenakan bersopan-santun (tenggang rasa) terhadap Imam Abu Hanifah, atau dikarenakan niat hendak menjinakkan hati pengikut beliau. Dan keduanya ialah masuk sikap yang mulia. (Hal.263)

Tengoklah tuan, betapa tinggi raso yang dimiliki oleh Imam Syafi’I, padahal beliau biasanya selalu membaca do’a qunut tatkala shalat subuh. Namun demi menghormati kawan baiknya beserta para pengikut beliau. Imam Syafi’I tak hendak menunjukkan kekerasan hati dimana merasa diri paling benar dengan membaca do’a qunut yang tak lazim bagi imam dan jama’ah dimana beliau ikut serta shalat.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Eloklah kiranya kami sertakan kisah lainnya dari kitab yang sama:

Imam Ahmad meninggalkan shalat sunnah dua raka’at sebelum dilaksanakannya shalat magrib dikarenakan orang-orang pada masa itu tidak menyetujuinya. Ibnu ‘Ugail menuturkan dalam Kitab al Fushuul perihal dua rak’aat sebelum shalat magrib. Bahwa Imam Ahmad biasa melakukan shalat sunnah dua raka’at sebelum shalat magrib. Namun kemudian beliau meninggalkannya dan mengemukakan dalih “Aku melihat orang-orang tidak mengetahuinya..” (Hal. 265-266)

Bagaimana tuan, betapa tinggi toleransi yang dicontohkan oleh salah seorang imam besar dalam agama kita. Padahal beliau ialah orang yang tinggi ilmu dan kaya pemahamannya perihal agama kita. Kalau tuan beri pertanyaan “Kalau demikian kenapa beliau tidak menyeru dan memberikan pemahaman kepada orang-orang perihal shalat sunnah dua raka’at sebelum shalat magrib itu?”

Tuan, kamipun pernah mendapat pertanyaan demikian dari seorang kawan. Tatkala itu sedang rapat kami membahas beberapa perkara. Sesudah rapat, kami bertukar fikiran dengan salah seorang kawan yang merupakan induk semang kami di kantor. Kemudian dia berseru dengan kesal “Kalau demikian halnya, lalu kenapa engku tidak sampaikan pendapat engku yang demikian tatkala rapat. Bukankah pendapat engku itu baik adanya..?!”

Kamipun menjawab “Benar encik, namun kita harus menengok dan memahami terlebih dahulu keadaan kawan-kawan kita ini. Dalam hal ini keadaan fikiran mereka, watak, dan pemahaman akan suatu perkara. Apabil saya sampaikan pendapat tersebut tatkala rapat, maka besar kemungkinan pemahaman mereka takkan sampai kepada yang kami maksudkan. Dan kami cemas, akan berubah menjadi persengketaan dan perselisihan faham (mis komunikasi). Sebab, sejauh yang kami fahami, perselisihan tersebut bersumber dari ketidak tahuan salah satu fihak akan fihak lain. Apakah itu maksud ataupun tujuan dari pembicaraan yang diadakan..”

kartun-fim-pada-taubat

Ilustrasi Gambar: Internet

“Eloklah kita tengok dahulu, pada rapat yang akan datang baru kita kemukakan pendapat yang demikian. Semoga saja apabila masa itu telah datang Allah telah membukakan mata hati dan fikiran mereka. Insya Allah..”

“Amiin..” seru kami beriringan.

Begitulah engku, sebagai penutup eloklah kami sertakan kisah lainnya yang takkalah kaya akan makna. Kisah ini antara Imam Malik dengan dua orang khalifah termasyhur. Yakni Khalifah Harun Al Rasyid dan Khalifah Al Manshur.

Kisah pertama dengan Khalifah Harun Al Rasyid:

Khalifah Harun Al Rasyid pernah bermufakat dengan ku yang berkaitan dengan maksud hatinya perihal Kitab al Muwaththa’  yang telah aku susun untuk diletakkan di atas Ka’bah. Dengan maksud agar manusia dapat mengambil apa yang ada di dalamnya. Maka akupun berkata kepada beliau “Janganlah Tuanku menunaikan hal tersebut. Sebab para Sahabat Nabi S.A.W berlainan pendapat perihal perkara-perkara furuu, berbeda pula negeri asal mereka, dan setiap yang ada padanya tetap dibenarkan..”

Mendengar jawapan serupa itu khalifahpun berkata “Semoga Allah Ta’ala memberikan taufikNya kepada engkau, wahai Abu Abdullah..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Kisah kedua ialah dengan Khalifah Al Manshur:

Tatkala Khalifah Al Manshur menunaikan ibadah haji, beliau berkata kepada Malik bin Anas “Aku telah berniat (‘azm) akan memerintahkan agar engkau menyalin kembali kitab yang telah engkau tulis. Kemudian akan aku sebarkan ke setiap negeri dari negeri kaum muslimin satu mushaf. Dan kemudian memerintahkan kepada para penduduk untuk mengerjakan apa yang ada di dalamnya. Serta tak perlu bersandar kepada yang lain”

Kemudian Malik bin Anas menjawab “Wahai Amirul Mukminin, janganlah Tuanku sampai menunaikan perkara tersebut. Karena pada manusia terdapat beragam pendapat. Mereka telah mendengar bermacam-macam hadist, merekapun telah meriwayatkan hadist, dan setiap kaum mengambil sesuai dengan kecenderungan mereka. Dengan demikian hal tersebut menjadikan perbedaan pada manusia. Maka Tuanku, biarkanlah manusia dengan apa yang telah dipilih oleh orang-orang dari setiap negeri untuk masing-masing dari mereka..”

Kedua kisah ini pada halaman 268-269.


[1] Encik ialah panggilan penghormatan khas kita orang Minangkabau kepada perempuan pada masa dahulunya. Juga digunakan panggilan “Urang Kayo”, panggilan ini biasa digunakan untuk ibu-ibu pejabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s