Jenggot dan Celana Senteng

 

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Ini merupakan kisah dari salah seorang kawan kami, lelaki berjenggot dan terkadang suka bercelana senteng.[1] Tidak ada yang luar biasa bagi kami namun bagi beberapa orang penampilannya sangat mengganggu, mengganggu pemandangan. Terkadang apabil terbit malasnya, maka kumis, jambang, dan jenggotnya tak dicukur. Pabila ditanya “Pasai[2] saya engku, tumbuh terus dan saya sudah malas mencukurnya setiap pagi..” jawabnya.

Pada suatu ketika, salah seorang induk semang kami datang bertandang. Setelah menyelesaikan urusannya dengan salah seorang kawan, diapun duduk-duduk di ruangan tempat kami bekerja. Maota[3] dengan salah seorang kawan kami. Tatkala itu, kawan kami yang berjenggot ini sedang ka jamban. [4] Tak berapa lama kemudian, kawan kamipun masuk kembali ke ruangan. Begitu kawan kami ini telah berhasil maonyok-an[5] ikuanya di tempat duduk diapun ditegur oleh induk semang kami “Sudahkah engku ini shalat dhuha..?”

Kawan kamipun terkejut, dengan tersenyum dan agak canggung diapun menjawab “Eh.. hari ini kami tak shalat dhuha engku..”

Dengan menambah gurauan, induk semang kamipun melanjutkan gurauannya “Hehe.. sebab saya pandangi engku ini, pastilah orang yang dalam dalam pengetahuan agamanya. Jadi maka dari itu sayapun bertanya serupa itu kepada engku.”

Kawan kamipun tersenyum mendapat pujian serupa itu. Entah memuji ataukah mancimeeh induk semang kami ini. Namun kawan kami ini pernah berujar kepada kami bawha ia bersyukur dalam hati sebab orang-orang disekeliling kami beranggapan bahwa ia ialah seorang yang alim lagi baik agamanya.

Kawan kamipun akhirnya menjawab “ah.. biasa saja engku, saya masihlah belajar perihal agama. Pengetahuanpun masihlah sedikit..” jawabnya merendah.

Induk semang kamipun membalas, tak hendak kalah ia rupanya “Dari penampilan engkupun kami sudah faham bahwa engku ini sangat bagus agamanya. Tengoklah, celana engku saja engku lipat..”

Kawan kamipun terbahak “Haha.. engku, sayakan baru balik dari jamban. Jadi wajarlah pabila celana ini saya lipat” jawabnya sambil menurunkan lipatan celananya.

“Tidak engku, dalam penampilan engku saja sudah dapat kami menilai..” jawab induk semang kami. Jawab ini diamini oleh kawan kami yang sedari tadi dibawa maota oleh induk semang kami.

Kemudian induk semang kamipun menambahi “Jadi engku, sebenarnya engku ini mengaji dimana?” tanyanya kepada kawan kami.

“Tidak dimana-mana engku, saya biasa saja engku. Hanya shalat ke surau berjama’ah..” jawab kawan kami.

“Dimanakah itu engku?” selidik induk semang kami.

“Di masjid di pasar engku..” jawab kawan kami.

“Oh.. engku ikut jama’ah TAB**** kah..” selidiknya lagi.

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Dengan sabar kawan kamipun menjawab “Tidak engku, sampai saat ini saya masih mempelajari seluruh pelbagai aliran dan pemahaman dalam agama kita..”

Teranglah bagi kami, sedari tadi kami diam dan tersenyum-senyum simpul saja mendengar percakapan mereka. Rupanya induk semang kami ini curiga dengan aliran pemahaman dalam beragama dari kawan kami ini. Memanglah bagi mata kebanyakan masyarakat awam, jika dipandangi dari segi penampilan serupa berjenggot dan bercelana senteng. Maka bagi mereka, semua orang-orang ini sama alirannya. Berbagai macam nama yang bereka berikan, seperti Islam Murni, Islam ini, ataupun Islam itu. Dan akan halnya masyarakat awam, mereka tak hendak mempelajari dan memahami agama serta berbagai macam cabang aliran pemahamannya.

Induk semang kami inipun melanjutkan ucapannya “ Saya bertanya kepada engku demikian karena saya heran melihat orang-orang yang bercelana senteng. Kenapa harus demikian pula..?” dakwaan induk semang kami dengan curiga.

Dengan sabar kawan kami inipun mencoba untuk menjawab “Itu sebenarnya berangkat dari kearifan akan pemahaman kehidupan dari sebagian ulama engku. Jika celana itu panjang sampai melampaui mata kaki maka alamat akan mudah dan cepat kotornya pada bagian ujung kaki celana itu engku. Maka sebagian ulama berijtihad, bahwa sebaiknya celana itu sebatas mata kaki saja. Demi menjaga kebersihan pakaian kita yang mungkin akan kita gunakan untuk shalat nanti. Bukankah dalam agama kita disunnahkan tatkala hendak menghadap Allah Ta’ala kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian kita yang terindah dan terbersih. Dan lagipula, kebersihan dalam melaksanakan shalat sangatlah dipentingkan dalam agama kita. Karena kebersihan itu sebagian dari iman engku..”

Rupanya induk semang kami tak hendak kalah, diapun membalas “Benar pendapat engku itu, tapikan dapat saja kita bercelana panjang lalu tatkala hendak shalat celana itu kita gulung sampai sebatas mata kaki..?”

Kami dan kawan kami inipun berpandangan sekilas, kami tersenyum dan diapun tersenyum. Tampaknya induk semang kami tak memahami jawaban dari kawan kami tersebut. Tak ada gunanya membantah atau memperjelas, sebab tak ada guna. Kami hanya dapat berdo’a agar suatu masa kelak hidayah Allah sampai juga hendaknya kepada induk semang kami ini. Pertanyaan dari induk semang kami tersebut hanya dijawab dengan jawab singkat “Iya dapat saja engku..”

Karena merasa mendapat angin, induk semang kamipun melanjutkan dakwaannya “Lalu kenapa engku sampai bercelana senteng..?”

Kami hanya dapat menahan senyum, kawan kami ini tampaknya lebih lapang hatinya. Dilanjutkannya pengajaran kepada induk semang kami ini “Benar engku, kenapa saya mesti bercelana senteng? Alasannya ialah hendak memberikan contoh kepada orang banyak. Sebab selama ini orang hanya pandai mengaji di surau saja. Tidak hanya kaji yang dibutuhkan oleh orang-orang melainkan juga contoh yang dapat diikuti. Lagipula engku, kenapa pula perkara celana senteng saya ini yang menjadi masalah. Banyak orang-orang yang berpakaian tidak sesuai dengan syari’at dan ajaran adat kita tapi mereka malah mendapat pembiaran. Lalu kenapakah kiranya saya yang berpakaian yang sesuai dengan ajaran agama dan adat justeru mendapat dakwaan dan penentangan..?”

Induk semang kamipun terbahak mendengar jawaban yang disertai pertanyaan oleh kawan kami ini “Haha.. itulah yang saya nantikan dari tadi dari engku. Kalau memang itu jawab engku, maka engku saya dukung.”

Kami tak tahu, apakah jawaban itu merupakan sebenar jawaban atau hanya sekedar untuk menutupi rasa malu karena habis kata untuk mendakwa kawan kami ini. Namun yang pasti perbincangan masih terus berjalan perihal agama dan pelbagai aliran pemahaman dalam beragama. Kami sudah tak begitu mengikuti perbincangan mereka selanjutnya. Tapi tampaknya, induk semang kami tak hendak kalah. Ya.. sudah lah..


[1] Senteng memiliki beragam arti, dapat berarti pendek atau dapat juga berarti kurang panjang.

[2] Kesal.

[3] Bercakap-cakap, ngobrol

[4] Jamban ialah sebuah tempat buang hajat, dibuat dari bambu dan dipasang di atas sebuah kolam. Dalam kehidupan masyarakat sekarang, jamban tidak lagi dipakai, sebab sudah ada wc di rumah masing-masing. Namun istilah jamban tidak jua hilang dalam perbendaharaan kata-kata orang Minangkabau. Terutama yang lahir tahun 80-an ke atas. Jika hendak pergi ke wc maka mereka akan mengatakan “hendak pergi ke jamban”.

[5] Meletakkan, mendudukkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s