The Game of Shadow

 

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Berbagai fenomena politik yang terjadi di republik ini menjelang tahun 2014 sangatlah membuat hati kita gelisah. Bagaimana tidak, berbagai tingkah pola yang tak patut dipertontonkan. Mungkin bagi kebanyakan mata hal tersebut biasa, pertanda para politikus di negeri ini ialah orang yang mengutamakan harta, tahta, dan wanita. Namun tidak bagi sebagian yang lain, pastilah yang tampak bukanlah yang sebenarnya, masih gelap rahasia yang terdapat di dalamnya. Permainan para petinggi memanglah sangat kejam dan tak kenal belas kasihan. Entah tangan kepunyaan siapa yang sedang bermain di balik ini semua. Hanya Allah Ta’alalah yang tahu..

Beberapa masa yang lalu kami bersua kembali dengan beberapa orang kawan, terkenang akan masa dahulu tatkala masih keras hati. Masa dimana kami masih menuntut ilmu di bangku kuliah, masa dimana kami saling bertukar fikiran, saling mempengaruhi, dan bersitegang perihal perkara remeh-temeh yang berkaitan dengan ideologi. Kalau sudah berkaitan dengan ideologi, tentulah ada kaitannya pula dengan politik. Bukankah begitu tuan..?

Perbincangan dimulai oleh seorang kawan yang mengemukakan betapa pandirnya orang banyak (awam), dapat terberdaya begitu saja oleh permainan media. Hal ini karena ketidak fahaman kami, kenapa orang banyak yang telah semenjak masa reformasi ini bergulir masih tetap saja percaya begitu saja dengan apa yang sampai kepada mereka, tanpa mempertanyakan perkara tersebut terlebih dahulu. Menelan bulat-bulat. Hal ini menjadi perdebatan yang tak berkesudahan di antara kami, ada yang berpendapat karena memang masyarakat awam telah memiliki fitrah untuk selalu bersikap pandir. Karena buktinya setiap kali pemilihan umum, selalu dengan mudah dibodohi. Padahal mereka telah tahu bahwa selepas orang tersebut menjabat, mereka pasti lupa dengan segala janji-janji mereka.

Perdebatanpun mulai bakisa[1] ke masalah pemilihan kepala daerah yang sedang marak di republik ini. Salah seorang kawan kami memberikan kami sebuah tulisan yang dimuat pada salah satu situs berita yang tampaknya milik salah satu partai. Kami tersenyum, tulisan itu memuat kisah kemenangan kepala daerah yang diusung oleh partai yang sama. Dan partai tersebut sedang bermasalah dengan salah seorang pemimpinnya. Ditangkap karena disangka maling tuan, memaling uang negara. Namun partai mereka tetap dapat memenangkan pemilihan kepala daerah.

Kawan kami yang lain berujar “Dahulu semasa reformasi bertama kali bergulir, salah satu partai yang katanya partai yang dizhlimi berhasil memenangkan pemilihan umum. Dimana anggota parlemen dari partai mereka ialah yang terbanyak. Mereka kemudian lupa daratan karena berhasil menolak pertanggung jawaban dari presiden sebelumnya. Dengan pongahnya mereka maju mencalonkan calon presiden dari partai mereka. Sendirian tanpa berkoalisi dengan partai lainnya. Apa yang terjadi engku? Mereka akhirnya kalah, dipecundangi..”

Kawan kami yang lainpun menimpali “Haha.. faham saya maksud engku. Partai inipun sekarang terlalu pongah dan merasa dengan kemenangan mereka di ibukota republik dapat menular ke daerah-daerah. Benar, itulah tabi’at khas orang pusat, menganggap daerah sama dengan mereka. Jika telah menang di pusat maka akan menang pula di daerah. Terlalu pongah mereka, kita di daerah dipandang remeh oleh mereka..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Ya.. lagipula mereka berpandangan bahwa jika seorang tokoh telah dielu-elukan di pusat maka akan demikian pula halnya di daerah. Sungguh dangkal fikiran mereka dan angkuhnya tabi’at mereka. Mereka lupa kalau hidup ini ibaratkan roda pedati, tengoklah pemimpin negara kita saat ini. Bukankah pada masa dahulu dia juga dielu-elukan oleh sekalian rakyat, tapi sekarang orang-orang malah sering memperolok dirinya..” kata kami.

“Benar, tak belajar dari pengalaman orang lain mereka rupanya..” aminan kawan kami yang lain.

Kamipun menimpali “Dan tampaknya salah satu partai politik yang katanya berasaskan Islam dan telah memenangkan dua pemilihan umum di daerah. Sekarang juga tengah hampir memasuki ranah kepongahan, kesombongan, dan lupa daratan. Tengok saja tulisan-tulisan mereka di media seperti yang beberapa telah engku perlihatkan kepada kami. Padahal mereka mengaku berasaskan Islam, telah lupakah mereka dengan salah satu pantangan dalam agama kita..?!”

Kawan kami yang lainpun menimpali “Benar engku, tapi serupa yang telah kita perbincangkan dahulu. Partai ini diragukan keislamannya, tengok saja diantara pemimpin mereka kurang mengamalkan sikap hidup warisan para ulama..”

“Apa gerangan itu engku?” tanya kami

“Zuhud terhadap dunia” jawabnya.

“Benar engku-engku sekalian, semoga Allah memberikan kelapangan hati, mata, dan fikiran kepada kita umat Islam. Janganlah kita menjadi bahan olok-olokan orang kafir dan orang fasik jua hendaknya..” seru kawan kami yang lain.

“Amiin..Ya Allah..” seru kami semua beriringan.


[1] Beralih.

Advertisements

8 thoughts on “The Game of Shadow

  1. Nasehat yang baik.. 🙂
    mudah2an juga tidak terlalu cepat menilai antara kepongahan dan menunjukan eksistensi..

  2. SUATU hari Abdullah bin Abbas memakai pakaian paling indah dan mahal, berharga 10.000 dirham. Beliau bermaksud mengadakan dialog dengan kaum Khawarij yang memberontak. Orang Khawarij adalah golongan yang kuat beribadah tetapi meminggirkan ilmu dan tidak mau mempelajari al-Quran, fiqih dan hadits Rasulullah SAW. Mereka terkenal sebagai kaum yang picik, fanatik, puritan dan membenci siapa saja yang berseberangan paham dengan mereka.

    Abdullah bin Abbas mandi dan memakai parfum paling harum, menyikat rambutnya serta mengenakan pakaian indah dan bersih. Beliau akan berhadapan dengan orang-orang picik yang memakai baju tebal dan tambalan, muka yang berdebu serta kusut masai.

    Mereka berkata, “Kamu adalah anak bapak saudara Rasulullah SAW. Mengapa kamu memakai pakaian seperti ini? Abdullah bin Abbas menjawab, “Apakah kalian lebih tahu mengenai Rasulullah SAW dibanding saya? Mereka berkata, “Tentulah kamu yang lebih tahu.” Abdullah berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah SAW berpakaian dengan mengenakan perhiasan berwarna merah dan itu adalah sebaik-baik perhiasan.”

    Aisyah pada suatu ketika melihat sekumpulan pemuda berjalan dalam keadaan lemah, pucat dan kelihatan malas. Beliau bertanya, “Siapakah mereka itu?” Sahabat menjawab, “Mereka itu adalah kumpulan ahli ibadat.” Kemudian Aisyah berkata, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain-Nya. Sesungguhnya Umar bin al-Khattab adalah orang yang lebih bertaqwa dan lebih takut kepada Allah dibanding mereka itu. Kalau beliau berjalan, beliau berjalan dengan cepat dan tangkas. Apabila bercakap, beliau dalam keadaan berwibawa, jelas kedengaran percakapannya dan apabila beliau memukul, pukulannya terasa sakit.”

  3. Pemahaman picik kaum khawarij adalah akibat memahami Islam secara tidak kaaffah (menyeluruh), memberatkan masalah ibadat yang sebenarnya mudah, sampai ke tahap berlebih-lebihan dan menyusahkan diri.

    Begitulah keadaan sebahagian umat Islam yang lupa kepada wasiat Rasulullah SAW yang disampaikan kepada sahabatnya, Muaz bin Jabal ketika beliau dikirim menjadi Duta dakwah ke negeri Yaman. Kata Nabi saw: “Wahai Muaz, mudahkanlah setiap urusan, jangan memberat-beratkannya.”

    Apakah Islam mengajarkan untuk membenci dunia? Kalau begitu, mengapa Abu Bakar al-Siddiq berbangga dengan harta kekayaannya untuk membela agama Allah? Begitu juga dengan Abdul Rahman bin Auf dan Utsman bin ‘Affan yang mengeluarkan hartanya untuk membiayai jihad di jalan Allah dengan dana dari kantong mereka sendiri.

    Adakah Rasulullah SAW melarang mereka bekerja sungguh-sungguh untuk meraih keuntungan duniawi?

    Bahkan di dalam al-Quran, Allah menegaskan bahwa jihad dalam menegakkan agama Allah wajib memiliki bekal persiapan. Firman-Nya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan apa saja dari segala jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dari pasukan berkuda yang lengkap untuk menggetarkan musuh Allah dan musuh-musuhmu.” (Surah al-Anfal, ayat 60)

    Bagaimanakah Islam akan menang jika umatnya adalah mereka yang berada dalam skala Negara Dunia Ketiga? Negara miskin dan terbelakang serta dikuasai oleh musuhnya. Apabila mereka hendak membeli makanan, mereka terpaksa meminta belas kasih orang lain.

    Apakah zuhud itu berarti membiarkan dunia dimiliki dan dikuasai oleh musuh Allah? Sedangkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Apabila emas seberat gunung diamanahkan kepadaku, aku tidak akan tidur selagi ia tidak habis dimanfaatkan untuk umat Islam.”

    Sebagai panduan bersama, ingatlah pandangan Shaikhul Islam al-Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata: “Zuhud itu adalah kamu meninggalkan perbuatan yang tidak berfaedah untuk akhiratmu.”

    Harta yang halal hendaklah dipastikan dikeluarkan juga pada tempat yang halal. Jangan mencari pada sumber yang halal’ tetapi membelanjakannya pada jalan maksiat. Atau kebalikannya, mengambil dari sarang penyamun dan membelanjakannya untuk ibadat.

    Itu semua bertentangan dengan perintah Allah. Orang beriman percaya harta adalah titipan dan amanah Allah, pinjaman sementara dan apabila Allah menghendaki akan lenyaplah harta itu dari tangan kita. Cukuplah harta itu ada dalam genggaman, tetapi tidak menguasai hati kita.

    Al-Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya mengenai seorang lelaki yang memiliki harta kekayaan sebanyak 100.000 dinar uang emas. Dapatkah dia dikatakan sebagai seorang yang zahid? Beliau menjawab: “Lelaki itu dikatakan zuhud apabila ada dua sifat: Tidak terlalu bergembira ketika hartanya bertambah; Tidak terlalu berduka-cita apabila hartanya berkurang.“

    Nikmatilah dunia dan segala kesenangannya tetapi pastikan harta yang dimiliki tidak menahan langkah di akhirat kelak dan melambatkan perjalanan ke pintu surga. Karena semakin banyak harta, maka dapat dipastikan semakin rumit pula hisab perhitungan yang dilakukan, kecuali harta yang halal yang dibelanjakan untuk keridhaan Allah.

    Boleh jadi para koruptor dapat menutupi hasil kejahatan dari pandangan manusia. Maka bagaimana dengan pengadilan Allah di akhirat kelak? Dapatkah mereka menyembunyikan hasil kejahatan mereka?

    Islam menggalakkan umatnya bekerja sungguh-sungguh untuk meraih keuntungan duniawi. Semua kekayaan yang dianugerahkan Allah hendaklah dibelanjakan di jalan Allah. Rasulullah saw berpesan agar umat Islam tidak memberatkan masalah ibadat yang sebenarnya mudah dilakukan, sampai pada tahap berlebih-lebihan sehingga menyusahkan diri sendiri. Islam menghendaki umatnya kaya dengan harta benda agar tidak ditindas karena kemiskinan hanya membuat kita terus menjadi bangsa yang selalu mengemis mencari bantuan asing.

    Allah telah mewajibkan jihad secara tegas kepada setiap Muslim. Tidak ada alasan bagi orang Islam untuk meninggalkan kewajiban ini. Islam mendorong umatnya untuk berjihad dan melipat gandakan pahala orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya apalagi yang mati syahid.

    Jihad pun dapat dilakukan dengan harta benda (amwaal). Yaitu dengan zakat, infak, shadaqah, mengorbankan harta untuk membangun sarana pendidikan, sarana ekonomi, sarana kesehatan, dan lain-lain yang bertujuan untuk membangun kekuatan umat. Hal ini ditegaskan pada dalam surat Al Anfal ayat 60:

    وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

    “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

    Dalam ayat tersebut Allah menegaskan agar kaum muslimin senantiasa melakukan berbagai persiapan (baca: tidak asal-asalan) untuk menghadapi setiap upaya konspirasi kebatilan yang dijalankan oleh musuh-musuh Allah. Persiapan-persiapan tersebut hendaklah bersifat menyeluruh dengan mencakup semua lini kekuatan dan aspek kehidupan umat.

    Sudah saatnya Islam melaksanakan jihad secara terencana dan terorganisasi, dan bukan semata-mata mengandalkan emosi. Jihad yang terorganisasilah yang akan dapat menggentarkan musuh-musuh Allah.

    Kita semua paham bahwa ada 5 (lima) kekuatan yang harus dimiliki kembali oleh umat Islam kalau kita mau maju. Kekuatan tersebut adalah kekuatan iman, kekuatan ilmu, kekuatan persaudaraan, kekuatan harta dan kekuatan angkatan perang. Seluruh kekuatan ini ternyata memang ada dalam masyarakat Rasulullah. Kita akan membahas satu kekuatan yang dapat kita jadikan pelajaran dalam pembinaan umat ini, yaitu kekuatan harta (Quwwatul Maal).

    1. Ya.. Allah, terlalu mudah rupanya tuan kena pancing. Macam mana pula politikus kita ini..:-)

      Tuan bukankah zuhud itu bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan terhadap dunia. Bukannya meninggalkan dunia seperti yang tuan sangkakan.

      Contoh yang tuan terangkan tersebut, kalau menurut pandangan kami ialah meninggalkan dunia.

      Soal khawarij.. tampaknya kita umat Islam harus berhati-hati. Sebab kalau dalam internal kita sudah bergaduh, maka alamat kemanangan masih jauh. Tak elok langsung mencap (judge) seseorang atau suatu kaum yang berbeda pandangan dengan kita.

      Tuan, pernahkah membaca novel atau menonton filem Sherlock Holmes “The Hound of Baskerville”. Dalam filem tersebut Sherlock sengaja menyuruh Dr. Watson untuk menemani klien mereka sendirian. Sedangkan Sherlock diam-diam mengamati dari jauh. Ketika ketahuan, Dr. Watson sangat marah, katanya Sherlock tak percaya kepadanya karena telah mengawasi pekerjaannya diam-diam.

      Tapi apa pembelaan sherlock “Tidak kawan ku yang baik, aku sangat percaya kepada engkau. Tujuan ku kenapa aku suruh hanya engkau saja yang disini ialah karena selama ini jika kita selalu bersama. Maka sudut pandang (perspektif) yang terbentuk oleh kita terhadap setiap kasus yang kita hadapi ialah sama. Namun jika kita berpisah, maka kita akan memiliki sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut justeru lebih baik karena pengetahuan kita terhadap kasus menjadi bertambah. Dan akan menjadi lebih mudah untuk memecahkannya.”
      Persisnya tidak begitu tuan, hanya saripatinya saja yang kami ingat.

      Fahamkah tuan dengan maksudnya? Kalau tuan menutup mata dan telinga atas semua masukan. Maka percayalah, keadaan akan bertambah buruk. Seperti yang telah kami sebutkan dalam tulisan kami, Mata Orang Awam memang paling mudah untuk ditipu. Tapi tidak dengan mata “Orang-orang yang Berfikir..”

      Ingat tuan, cara orang banyak (Awam) berfikir tidak sama dengan kita. Cara orang dalam berfikirpun berbeda dengan cara orang luar. Itulah yang terbaca, itulah sangkaan orang, dan itulah yang diperlihatkan. kami tak faham apakah memang itulah adanya. tuan-tuan yang di dalamlah yang tahu.

      Regards From Justice to Welfare
      Keep learning and dont stop.
      Learning and practice

      1. he..he..sepertinyo sutan yang salah dalam menanggapi komentar ambo..batuah kato sutan kalau berbicara tanpa melihat raut wajah dan intonasi suara maka akan mudah salah tafsir..
        maaf sutan ambo ndak tapanciang sutan he..he…cuma geli sajo beberapa poin yang sutan sampaikan. dan sepertinyo paralu ambo jalehan stek mukasuik komentar ambo

        1. komentar ambo di ateh ambo copy dari salah satu blog sebagai pembanding analisis yang sutan lakukan jadi dak ado mukasuik hati ambo menjudge sutan dengan macam2..

        2.kalau sutan menganggap ambo telah menjudge sutan yang macam2 maka, sudahkah sutan menanyokan ka ambo apo mukasuik hati ambo nan sabanonyo?

        3. sebelum sutan menganggap ambo alah menjudge sutan yang macam2 sabananyo sutan terlebih dahulu alah melakukannyo tapi bukan ke ambo tapi ke saudara2 kito…
        berikut kutipan tulisan sutan :
        “Kamipun menimpali “Dan tampaknya salah satu partai politik yang katanya berasaskan Islam dan telah memenangkan dua pemilihan umum di daerah. Sekarang juga tengah hampir memasuki ranah kepongahan, kesombongan, dan lupa daratan. Tengok saja tulisan-tulisan mereka di media seperti yang beberapa telah engku perlihatkan kepada kami. Padahal mereka mengaku berasaskan Islam, telah lupakah mereka dengan salah satu pantangan dalam agama kita..?!”

        Kawan kami yang lainpun menimpali “Benar engku, tapi serupa yang telah kita perbincangkan dahulu. Partai ini diragukan keislamannya, tengok saja diantara pemimpin mereka kurang mengamalkan sikap hidup warisan para ulama..”

        memasuki ranah kepongahan (sudah kah sutan tanyakan), diragukan keislamannyo…nauzubillah sutan…siapa yang berani meragukan keislaman seseorang yang mereka sendiri tidak pernah meninggalkan syariat..apakah karena tidak zuhud langsung di anggap diragukan keislamannya..astagfirullah sutan…

        4.sepertinyo makna zuhud alah jaleh dari komentar yang ambo copikan sutan..kalau sutan mengganggap zuhud cuma sederhana…terlalu sederhana makna zuhud sutan…

        ambo kutipkan baliak apo makna zuhud dari komentar di ateh :

        “Sebagai panduan bersama, ingatlah pandangan Shaikhul Islam al-Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berkata: “Zuhud itu adalah kamu meninggalkan perbuatan yang tidak berfaedah untuk akhiratmu.”

        Harta yang halal hendaklah dipastikan dikeluarkan juga pada tempat yang halal. Jangan mencari pada sumber yang halal’ tetapi membelanjakannya pada jalan maksiat. Atau kebalikannya, mengambil dari sarang penyamun dan membelanjakannya untuk ibadat.

        Itu semua bertentangan dengan perintah Allah. Orang beriman percaya harta adalah titipan dan amanah Allah, pinjaman sementara dan apabila Allah menghendaki akan lenyaplah harta itu dari tangan kita. Cukuplah harta itu ada dalam genggaman, tetapi tidak menguasai hati kita.

        Al-Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya mengenai seorang lelaki yang memiliki harta kekayaan sebanyak 100.000 dinar uang emas. Dapatkah dia dikatakan sebagai seorang yang zahid? Beliau menjawab: “Lelaki itu dikatakan zuhud apabila ada dua sifat: Tidak terlalu bergembira ketika hartanya bertambah; Tidak terlalu berduka-cita apabila hartanya berkurang.“

        apakah sutan sudah menanyakan dari manakah harta yang mereka dapatkan, kemana harta itu mereka belanjakan, apaka mereka terlalu bergembira ketika hartanya bertambah;terlalu berduka-cita apabila hartanya berkurang.“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s