Bergaduh perkara politik

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Salah seorang kawan kami pernah bercakap kepada kami “Ah.. mudah bagi engku mengucapkannya. Namun cobalah engku jalani, akan berlainan mungkin pendapat engku..!”

Kami hanya memberikan senyuman tertahan kepada kawan kami ini. Memanglah demikian adanya, mudah bagi kita untuk berucap namun seribu sekali lebih berat untuk mengerjakannya. Mudah berpendapat, namun sangatlah payah mewujudkan apa yang dikata untuk menjadi kenyataan.

Tatkala kami melihat kawan-kawan beradu pendapat perihal perkara syari’ah dan politik. Maka sering kali kami mendapati pada akhirnya mereka akan menjadi saling mendiamkan untuk beberapa lama. Perkara pendirian merupakan perakara yang sangat bertuah (sakral) sekali sehingga kita harus berhati-hati apabila memasuki ranah tersebut.

Kami sangat terkejut tatkala mendengar salah seorang kawan menanggapi pernyataan dari kawan kami yang lain perihal politik. Di berujar “Kalau demikian pendapat engku, maka teranglah bagi saya, rupanya engku ialah seorang Khawarij..”

Kawan kami yang didakwa (dituduh) tersenyum diam, sebab kawan kami yang mengeluarkan pernyataan yang sangat menohok tersebut tengah terpancing amarahnya. Khawarij ialah salah satu golongan dalam Islam yang dicirikan sebagai ahli ibadah namun memiliki pandangan berlainan perihal beberapa perkara dalam Islam. Mereka ialah golongan yang selalu membenci para ulil amri (pemimpin) dan berkeinginan untuk melakukan pemberontakan. Tabi’at mereka keras dan tak jarang bersikap sampai hati kepada sesama muslim. Mengkafirkan golongan di laur golongan mereka dan lain sebagainya.

Kami yang sedari tadi mengikuti percakapan di antara mereka berduapun terpana. Namun segera kami faham sebab kami sangat maklum sekali dengan watak kawan kami ini. Kawan kami ini ialah seorang aktivis politik, berdua kami dan kawan kami yang satunya lagi sering menyerang dia sambil bergurau. Menyerang keyakinan politiknya tuan?

Beberapa kali pula kawan kami ini terpojokkan dan akhirnya terpancing emosinya. Dia selalu berdalih “Engku-engku tak tahu bagaimana keadaan di dalam partai kami. Jadi usahlah berpendapat sebab sangat dangkal sekali pendapat dari engku-engku..”

Ilustrasi gambar: Internet

Ilustrasi gambar: Internet

Dan kamipun tertawa terkekeh mendengar pembelaan dari kawan kami tersebut. Tak ada maksud bagi kami menyerang keyakinan politiknya. Ada sebab tentunya. Dahulu kami termasuk pemilih dari partai kawan kami ini, bertiga kami beranggapan bahwa partai ini ialah perwujudan dari Masyumi. [1] Namun apa hendak dikata pada beberapa tahun yang lalu partai ini telah berubah haluan. Banyak pendapat yang beredar, namun kesan yang didapat ialah keadilan telah kalah oleh kesejahteraan.

Banyak para pemilih dari partai ini yang memilih menjatuhkan talak dan berpindah ke partai lain ataupun memilih untuk golput.[2] Namun tidak demikian halnya bagi beberapa orang yang telah kuat keyakinannya serupa dengan kawan kami ini.

Pada suatu ketika kami pernah berujar kepadanya “Kenapa engku begitu benci akan kami yang memutuskan menjauhi politik setelah apa yang terjadi pada partai kita? Dalam perkara beragama saja kita kita disuruh untuk saling mengharagai penafsiran masing-masing. Asalkan tidak keluar dari masalah akidah melainkan hanya furu’iyah saja..?”

Dia hanya diam dan tak memberikan tanggapan, kami faham kalau kawan kami ini masih merajuk. Membalas serangan dengan memberikan cap “khawarij..” ialah pertanda kalau dia sudah tak dapat menahan amarah.

Kawan kami yang tangkarpun[3] mencoba pula untuk merayu “Hei engku.. sudahlah jangan dibawa ke dalam hati. Menurut pandangan saya, engku ini sudah jatuh kepada fanatik kepada seorang tokoh. Ingat engku, janganlah menggantungkan harapan kepada manusia (makhluk) akan tetapi gantungkanlah harapan engku itu kepada Allah Ta’ala semata. Jika engku menggantungkan harapan kepada makhluk, maka tunggu sajalah nanti, Insya Allah engku akan mendapat kecewa..”

“Hah.. macam-macam saja kawan kami ini, kenapa pula dia kata Insya Allah engku akan mendapat kecewa..” seru kami dalam hati.

Begitulah kisah kami dengan salah seorang kawan kami yang tengah kesal minta ampun karena selalu tidak mendapat tanggapan baik dari kami kalau sudah bercakap perkara politik. Bagaimanakah dengan engku kiranya..?


[1] Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) merupakan salah satu partai politik yang berasaskan Islam di masa awal kemerdekaan republik ini. Sangat teguh sekali dalam memperjuangkan hukum syari’at sebagai dasar negera. Namun semenjak berkuasanya Orba, partai ini dilarang.

[2] Golongan Putih, istilah yang dipakai untuk disandangkan kepada orang-orang yang tidak memilih pada pemilihan umum.

[3] Keras kepala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s