Do’a ku untuk Kakak..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Salah satu hikmah tinggal di sebuah rumah sewaan ialah kita dapat hidup dan bergaul dengan orang yang berbeda asal usul dengan kita. Sudah semenjak masa kuliah dahulu hidup serupa ini kami jalani. Bersua dengan orang yang beragam watak dan tabi’at, beragam asal usul, dan beragam pula kisah yang dibawa serta kami alami bersama.

Di kota tempat kami bekerja, kami tinggal pada sebuah rumah yang disewakan kamarnya (kos-kosan). Bersama kami juga ikut menyewa dua orang yang sama-sama bekerja di kota ini. Salah satu dari mereka ialah kawan satu angkatan dengan kami. Maksud kami satu angkatan ialah sama-sama diterima pada tahun yang sama. Sehingga hal ini membuat kami agak lebih dekat satu-sama lain.

Pada suatu petang hari, tatkala kami pulang kantor. Kami dapati kawan kami ini sedang bermuram durja, pandangan matanya kosong serupa orang patah hati. Ketika itu dia sedang duduk-duduk di beranda rumah sewaan kami. Rupanya dia menyadari kehadiran kami, dan tentu saja lamunannyapun dicukupkan, terganggu dengan kedatangan kami.

Kami coba juga bertanya kepadanya “Ada apa gerangan yang telah berlaku engku, rusuh hati engku tampaknya..?”

“Ah.. tidak engku biasa saja, cuaca semenjak beberapa pekan ini panas sangat terasa. Bagaimana gerangan pendapat engku..?” tanyanya balik.

Kami hanya terkekeh mendapat pertanyaan balik darinya “Hehe.. memanglah benar engku, sangat panas sekali. Apalagi di ruangan tempat kami bekerja pendingin udara tak dapat dipakai..?”

“Hah.. apa hal..?” tanyanya heran.

“Sebab salah seorang kawan yang satu ruangan dengan kami merupakan perokok sangat..” jawab kami.

“O.. macam tu..” balasnya singkat.

Kami pandangi dia sejenak, apa gerangan yang sedang dirusuhkannya? Kenapa dia enggan membagi cerita? “Kenapa engku, tak mungkin rasanya cuaca panas ini yang mebuat rusuh hati engku. Apakah karena terkenang dengan bekas tunangan engku yang sekarang telah melahirkan anak perempuan yang cantik sangat..?” pancing kami kejam.

“Ah.. tidaklah, manapula itu sampai terfikirkan oleh saya engku. Terpantanglah, biarkan saja dia dengan suami dan anaknya. Saya yakin, Allah Ta’ala sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya..” jawabnya keras.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Lalu kenapa engku sampai bermuram durja serupa itu..?” tanya kami lagi tak menghiraukan jawabannya yang keras.

“Ah..” dia menghela nafas berat “Sebenarnya ini bukan masalah saya engku, namun terfikirkan jua. Sebab saya merasa bersalah tak dapat mengurangi bebannya..” jawabnya.

Kami hanya diam memandanginya ingin tahu. Kawan kami ini rupanya faham dan menyerah untuk menutupinya. Kemudian dia mulai berkisah “Engku tahukan kalau induk semang saya di kantor merupakan seorang perempuan yang berselisih umur setahun saja di atas usia kita ini..?” tanyanya kepada kami.

“Ya.. tahulah, kata orang-orang dia cantik..” balas kami bergurau.

“Iya benar, dan sudah beranak dan kalau sudah beranak tentulah sudah bersuamikan ia..” balas kawan kami kesal.

Kami hanya tersenyum mendengarnya, tak hendak bergurau dia rupanya. Salah kami juga, padahal hatinya sedang rusuh. Tak patut dibawa bergurau.

Kawan kami inipun melanjutkan kisahnya “Sekarang tampaknya ia dalam masalah pelik. Tahulah engku perangai orang kantor, tak hendak mengalah, maunya menang sendiri. Suka mempertengkarkan perkara kecil, dan mengabaikan perkara besar. Saling bertikai, memburuk-burukkan, dan bersaing satu sama lain. Berburuk muka dan berburuk laku kepada bawahan atau kawan sekantor namun bermanis buka dan bermanis laku kepada induk semang. Orang-orang serupa itulah yang ia pimpin. Dan akhir-akhir ini telah berlaku suatu perkara yang sangat mengesalkan dan menambah beban fikirannya..”

“Kasihan..kasihan ia engku, masih muda namun sudah memikul beban sebarat itu. Kalau kami di tempat ia sekarang, tentulah kami takkan sanggup menanggungnya. Sungguh hebat ia, bertambah rasa kagum kami kepadanya. Dan sering pula rasa bersalah kami muncul..” jelasnya panjang.

“Hah.. apa hal engku..?” tanya kami.

“Sebab terkadang kami bukannya meringankan beban yang sedang ia pikul tapi malah memperberatnya dengan sikap dan tingkah pola kami yang kekanak-kanakan. Sering kami merasa menyesal selepas itu, tapi kesalnya hati tatkala tanpa sengaja untuk ke sekian kalinya perkara yang sama kembali berulang..”

“Ia merupakan seorang ibu, anaknya masih kecil. Mungkin baru genap setahun umur anaknya, suaminya jauh dan hanya sesekali berkumpul bersamanya. Coba bayangkan betapa beratnya kehidupan yang harus dijalaninya. Dan sekarang, di kantor dia harus mendapat masalah sedemikian beratnya..” terang kawan kami.

Kami terdiam, memanglah berat. Kehidupan manusia zaman sekarang memanglah piciknya, tujuan semua orang ialah memikirkan, memuaskan dan menyelamatkan diri sendiri. Tak hendak memikirkan orang lain “Buat apa memikirkan orang lain, fikirkan saja diri sendiri..!” kata kebanyakan orang zaman sekarang.

“Bagaimana gerangan menurut pendapat engku..?” tanya kawan kami ini kepada kami.

“Hm.. kamipun tak dapat berkata apa engku. Sebab kami belum ada pengalaman dalam hal ini. Namun kami memahami keadaan induk semang engku. Tapi percayalah engku, Allah tak sia-sia menempatkan ia pada posisinya sekarang. Kalau menurut Allah Ta’ala dia tak patut sebagai seorang pemimpin, maka tentulah ia takkan menjadi induk semang engku. Janganlah begitu cemas engku, sebab dibalik kelembutan seorang perempuan terdapat kekuatan yang sangat besar yang dapat menghadang segala macam masalah, menampung segala rupa persoalan, dan kemudian menyelesaikannya. Kalaupun tidak, Allah Ta’ala akan memberikan ia bantuan dari arah yang tak disangka-sangka untuknya. Berdo’a sajalah engku, do’akan induk semang engku itu biar selamat dirinya dalam menempuh segala ujian ini..” jawab kami bak seorang tua bijak bestari.

“Amiin engku.. begitu jualah hendaknya. Hanya do’a yang dapat kami berikan untuk dirinya. Sebab kalau kami tolong ia menyelesaikan masalah ini. Bukannya selesai justeru akan bertambah kusut ia..” balas kawan kami.

Kami hanya tersenyum mendengarnya. Wajahnya telah berubah agak cerah, telah tertumpahkan segala beban di fikirannya. Kami berdua hanya dapat berdo’a dan berharap kepada Allah Ta’ala yang berkuasa dari atas Arsy di langit ketujuh sana agar memudahkan segala persoalan seorang ibu, seorang isteri, dan seorang anak ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s