Lupa dg nan empat

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Tuan, engku, dan encik sekalian.. beberapa masa yang lalu tatkala tengah asyik memeriksa status facebook dari kawan-kawan. Tanpa sengaja perhatian kami tertuju pada sebuah pandangan yang dimuat oleh salah seorang dosen kami dahulu di Unand. Berikut kami sertakan kutipannya:

Kanak-kanak di negeri Amerika, Inggris, Australia dan lain-lain dibiasakan untuk menyatakan thank you (terima kasih), I’m Sorry (maaf), dan please (tolong). Akibatnya, mereka terbiasa dengan watak ataupun tabi’at sportivitas dan profesionalisme dalam berhubungan dengan orang-orang dalam kehidupan mereka. Sungguh sangat disayangkan, bahwa kita tak membiasakan anak-anak kita sedari fajar untuk sekedar mengucapkan “terima kasih” dalam banyak hal atas kebaikan pihak lain, meminta maaf bila berbuat salah, dan mengucapkan kata ‘tolong’ di saat butuh bantuan orang lain. Akibatnya, begitu dewasa mereka sulit mengucapkan kata “terima kasih” dalam hubungan mereka dengan masyarakat kebanyakan. Perhatikanlah! Seorang pelayan/tukang suruh di supermaket, petugas SPBU, atau teller di loket kantor-kantor pemerintahan jarang sekali mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada masyarakat (baca: konsumen) ketika membayar produk atau jasa mereka. Seorang petugas di pusat Information Center enggan meminta maaf atas keluhan masyarakat yang berhubungan dengan mutu layanan instansinya tempat bekerja atau setengah hati bekerja, seperti berbicara dengan pelanggan sambil membalas sms di telepon genggam!

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Tuan, benarlah apa yang disebutkan oleh Engku Syofyan pada status di Facebook milik dirinya. Sebab kami sendiri mengalaminya. Tidak di kota tempat kami bekerja sekarang ataupun di kampung tempat asal, namun dimana-mana di negeri kita. Kadang teriba hati ini mendapat perlakuan yang kasar serupa yang selalu kami alami di kota tempat kami mencari hidup sekarang.

Sesungguhnya banyak perbedaan tabi’at dan perilaku dari masyarakat kota ini yang sangat bertentangan dengan didikan asal kami sebagai orang Minangkabau. Namun marilah kami sertakan satu contoh yang sangat mengganggu kami selama ini. Sebab kejadian serupa ini hampir terjadi di setiap tempat di kota ini.

Apa itu tuan?

Yakni kelakuan para pemilik kedai apabila kami berbelanja ke tempat mereka. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang disini, tatkala barang yang hendak dibeli telah dicari dan didapat oleh pemilik kedai. Maka tentunya mereka akan menyerahkan kepada pembeli pesanan mereka tersebut. Memang betul tuan, tak ada yang salah?

Lalu dimanakah salahnya?

Kami tak hendak mengatakan salah tuan, mungkin ini sudah menjadi tabi’at bagi orang disini. Ketika hendak menyerahkan barang yang hendak dibeli oleh si pembeli. Maka mereka akan melemparkan barang tersebut di atas etalase ataupun meja tempat mereka melakukan transaksi. Di tempat asal kami, hal semacam itu pertanda marah atau kurang ajar. Namun tidak demkian dengan para pemilik kedai di kota ini.

Sering tersirap darah kami, sering pula amarah dan kesal datang mendera. Tapi apa hendak dikata, tidak hanya di satu kedai saja akan tetapi di setiap kedai hampir berlaku perkara yang demikian. barang-barang dilempar, begitu pula tatkala hendak mengembalikan uang yang berlebih, dilempar juga.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Hal tersebut barulah contoh kecilnya saja tuan, masih banyak contoh-contoh yang lain di lingkungan kita. Akibat didikan tak ada, akibat bergesernya pandangan mengenai batasan antara yang patut dengan yang tidak, yang sopan dan yang tidak. Maka hancurlah masyarakat di negeri kita.

Kalau kita kembalikan kepada perkara agama dan adat kita tuan. Akan teranglah bagi kita semua, asalnya ialah karena dari keluarga seorang anak tak dididik dengan baik sesuai dengan ajaran agama dan adat. Akhirnya dia akan tumbuh menjadi orang yang tak beradat, tak tahu dengan yang empat (ndak tau jo nan ampek).

Akibatnya apa tuan?

Tatkala mereka telah berumah-tangga dan memiliki anak, maka merekapun tak faham cara membesar, mendidik, dan mengajari anak. Sebab dirinya saja sudah tak faham mengenai segala aturan perihal tata kesopanan dan taratik dalam hidup bermasyarakat. Maka tuan bayangkan sajalah kerusakan yang akan bertambah dalam kehidupan kita ini.

Kalau dahulu semasa di kampung, jika kedapat seseorang yang berkelakuan sangat lain. Tidak tahu dengan adat, etika, sopan-santun, dan lain sebagainya. Maka orang-orang akan bertanya “Anak siapakah ia, siapa mamaknya, dimanakah rumahnya..?”

Kemudian apabila dijawab “O.. dia anak si anu, kamanakan si fulan, rumahnya itu di sana..”

Maka akan dijawab oleh orang-orang “O.. patutlah, orangtuanya saja *&%$%, mamaknya si fulan itukan? Yang (&%$%^, dan disanalah rumahnya..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s