Pengalaman dengan Nyonya Bule_Bagian 1

Gambar Ilustrasi: Internet

Gambar Ilustrasi: Internet

Inilah pengalaman salah seorang kawan kami tatkala dia mengantar pelancong dari negeri asing berjalan-jalan di kota tempatnya bekerja.

Ketika itu hari sedang panas terik dan saya mendapat tugas untuk menemani seorang pelancong asing yang ikut dengan salah satu rombongan dari Jakarta. Beliau ialah ibu-ibu, berusia sekitar akhir empat puluhan dan awal limapuluhan.

Karena panas yang cukup terik dan nyonya bule ini tampaknya kehausan pula. Sebab terang bagi saya betapa peluh membasahi wajah mukanya. Maka saya berikanlah air mineral dalam gelas kemasan yang terdapat satu kardus di dalam oto.[1] Tatkala air minum dalam kemasannya telah habis, nyonya bule ini terlihat mencari-cari sesuatu. Segera pandangan matanya tertumbuk pada tempat sampah yang terdapat tepat di muka sebuah lepau[2]. Dengan segera Nyonya Bule ini berjalan menuju ke sana.

Salah seorang kawan mengiringi Nyonya Bule ini “siapa tau nyonya ini perlu penerjemah untuk berbelanja di lepau..” begitulah kira-kira.

Engku pemilik lepaupun tampak sangat cemas sebab ada nyonya bule yang berjalan ke arah lepau miliknya “Ah.. bagaimana pula ini caranya bercakap dengan Nyonya Bule ini, awak tak pandai bercakap Bahasa Inggris..” mungkin begitulah seru hati engku pemilik lepau ini.

Setibanya di muka kedai, nyonya bule langsung membuang gelas minuman mineralnya ke tempat sampah. Selepas itu ia berbalik bergabung dengan rombongan kawan kami ini. Semua orang ikut memandang tingkah nyonya bule ini, dan tampak oleh saya selepas nyonya bule ini mebuang sarok[3] ke tempat sampah maka dengan segera pula muka mereka dipalingkan ke arah tempat tujuan kami berjalan. Seolah-olah apa yang mereka tengok ialah perkara biasa dan tak patut untuk diperhatikan.

Sedangkan saya yang berjalan paling belakang, berbisik kepada seorang kawan yang berjalan beriringan “Tengoklah nyonya bule itu, petapa elok lakunya. Coba kalau di orang awak, pasti sudah dibuang saja sambil lalu berjalan..”

Kawan sayapun tersenyum mendengar bisikan saya tersebut, dan perjalananpun kami teruskan. Sungguh kejadian tengah hair itu menginsyafi saya, betapa dalam perkara yang kecil saja kita sudah alpa, bagaimana pula hendak menyelesaikan perkara yang besar. Kita dinilai bukan dari perbuatan besar yang kita perbuat, akan tetapi perhatian kita pada perbuatan kecil yang sering diabaikan.

Kamipun bertanya kepada kawan kami ini “Bukankah orang semacam itu yang banyak tampil ke hadapan khalayak pada masa sekarang duhai engku..”

“Benar engku, masih gelap pada pandangan saya perihal perkara ini..” ujarnya sambil menyungginkan senyuman hambar.


[1] Mobil dalam bahasa Minangkabau, berasal dari kata auto yang telah dipergunakan semejak masa Belanda.

[2] Warung.

[3] Sampah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s