Rahasia Kehidupan..

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Sudah lama juga kami tak pulang kampung, sekali pulang tampaklah beberapa perubahan pada kampung kami. Ada lepau baru dibuat oleh orang pada sebuah simpang. Namun sayangnya lepau tersebut menghalangi penglihatan pengendara dari arah lawannya. Begitulah orang sekarang, suka berbuat sekehendak hatinya tanpa memikirkan keadaan orang lain.

Ah.. bukan itu yang hendak kami kisahkan tuan. Tatkala pulang kampung kali ini, kami bersua dengan seorang kawan yang telah lama tak bersua sebab kami sama-sama jarang pulang. Sudah pula hampir dua tahun masanya ia menjadi pegawai. Dahulu ia direndahkan orang “Tak bermasa depan..!” begitulah kira-kira pandangan orang kepada dirinya. Tatkala tersiar di kampung kami dia diterima menjadi pegawai, maka heranlah orang “Bisa jua dia menjadi pegawai..!” kata orang-orang.

Kami sebaya dan sama-sama belum menikah hingga kini. Nasib kamipun hampir serupa, walau telah bekerja, hingga kini ada-ada saja orang yang melecehkan kami. Entah apa sebab, kami tak pernah tahu..

Pagi ini kami bersua di sebuah pasawangan[1] di tepi sawah. Telah lama tak bersua, senang hati ini kiranya bersua dengan kawan lama. Kami sama-sama turun dari onda[2] yang kami kendarai. Bertukar sapa dan berjabat tangan, begitulah tuan.

Dari atas onda kami berdua maota[3] perihal diri, pekerjaan, untung-perasaian, dan tentu saja perempuan atau pernikahan. Rupanya hatinya sedang gundah, apa sebab? Sebab bingung dan takut hendak menikah. “Iri timbul di hati ini pabila mendengar ada kawan seumuran kita telah menikah, ngilu pula terasa di hati ini apabila mendengar mereka telah beranak. Namun tatkala disuruh hendak kawin, maka berat nian rasanya diri ini untuk mengiyakan. Menurut pandangan engku bagaimana kiranya ini..?” tanyanya kepada kami.

Kami terdiam, hanya tersenyum simpul mendapat pertanyaan serupa itu. Apa bedanya kawan kami ini dengan diri kami? Hanya saja dia lebih dahulu mengajukan pertanyaan tersebut.

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Keadaan diri engku serupa kiranya dengan kami. Kamipun saat ini sedang dirundung duka, disuruh kawin pula, kata ibu sudah ada tiga orang yang meminang..” jawab kami.

“Lalu apa keputusan engku..?” tanyanya penasaran.

Masih dengan tersenyum simpul kami jawab “Tidak ketiga-tiganya, tak ada yang berkenan…” jawab kami singkat.

“Alamak.. bagaimana engku ini. Ada yang mau, tapi awak yang tak hendak. Benar-benar tak tahu diuntung itu namanya engku..” jawabnya keras.

Kami terdiam, memang benar tapi kami keberatan apabil dikatakan tak tahu diuntung “Manalah boleh kita putuskan untuk menikah begitu saja. Kalau memang belum ada yang berkenan, kenapa harus dipaksakan. Pertimbangan orang-orang hanya dari segi zahirnya saja. Cantik dan elok rupanya serta beruang dan telah bekerja. Sedangkan dari sisi akhlak, agama, dan garis keturunan, itulah yang sangat perlu dipertimbangkan..”

“Benar demikian engku, kalau memang serupa itu sudah adakah yang berkenan bagi engku..?” tanyanya lagi.

“Sudah..” jawab kami.

“Lalu kenapa belum dipinang engku..?” tanyanya lagi.

“Ah.. itulah sulitnya. Keluarga di rumah memanglah kurang arif, mereka sudah faham seperti apa yang saya pinta. Dan merekapun telah dapat orangnya, telah pula satu pendapat antara ayah-bunda dengan salah seorang mamak. Berkenan di hati mereka perempuan ini, hanya saja mereka tidak gigiah[4] kepada saya..” terang kami.

Kamipun melanjutkan keterangan kami “Ibaratkan orang berniaga, si saudagar hanya menyodorkan barang dagangannya kepada orang lalu. Tidak pandai dia merayu dan menarik hati orang lalu supaya datang ke kedai miliknya. Misalnya dengan mengatakan keunggulan barang dagangannya dari pada dagangan saudagar lain..”

Kawan kamipun menjawab “Alamak engku.. kan engku dapat bercakap terus terang. Kenapa harus menanti dari keluarga engku dahulu..”

“Itulah orang sekarang, suka bercakap terus terang sehingga kehilangan kehalusan budi bahasa.kita tengoklah nanti engku. Kalau engku bagaimana..?” tanya kami kepadanya.

“Hah..” dia mendesah “Keluarga berkehendak agar aku menikah dengan orang kampung kita jua engku. Tapi risau hati ini sebab tak ada yang boneh[5] yang tampak..” jawabnya.

Kami tertawa mendengar jawaban kawan kami ini “Manalah engku, cukup banyak perempuan di kampung kita yang patut untuk engku jadikan isteri..”

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

“Hah.. tidakkah engku tengok sendiri. Kita yang laki-laki ini dilarang oleh ninik mamak untuk menikah dengan orang di luar kampung kita. Namun para perempuan dibolehkan. Engku tengok sajalah sendiri, semua perempuan nan cantik molek dan berpendidikan sudah menikah dengan orang luar. Yang tinggal ialah ampo bareh[6] saja lagi. Kita yang disuruh mengemasinya. Tak hendak engku.. tak hendak.. cari mati itu namanya. Perempuan yang suka bersolek, bercelana dan berbaju ketat, bahkan ada yang sudah coba-coba memakai celana lonte[7] di kampung kita. Perempuan serupa itu yang hendak dijadikan isteri..? Na’uzubillah..!” jawabnya keras.

Kami tertawa mendengar luapan perasaannya, sedang benci dia rupanya “Haha.. apa hal engku, apa yang tengah berlaku pada diri engku ini..?” tanya kami.

“Semalam saya baru balik dari rumah bako,[8] saya dipaksa supaya kawin jua dengan orang kampung kita. Sebab keadaan saya sama kiranya dengan engku, sudah dipinang pula oleh tiga keluarga. Tapi sayangnya tak ada yang berkenan, tampaknya kami sependapat dengan ibunda. Namun pertimbangan bako kami ini berlainan. Dia sudah ketakutan kami akan hanyuk[9] di rantau orang. Kawin dengan orang sana dan tak balik-balik lagi. Dimata bako kami ini, semua perempuan kampung kita terlihat cantik dan pantas untuk kami nikahi. Tak dikajinya perihal akhlak, keluarga, dan lain sebagainya. Setiap ada anak gadis orang yang tampak selalu berkata “hah.. patut kiranya dinikahkan dengan anak saya..”. Bagaimana takkan panas hati ini, semua orang disangka pantas, tak jelas ukurannya. Manalah kami mau pabila dinikahkan dengan sembarang perempuan saja. Sengsara badan awak nanti engku…” jelasnya.

 

Ilustrasi Gambar: Internet

Ilustrasi Gambar: Internet

Ketika hendak kami coba menyela, diapun menukas, sambil memandang nun jauh di kaki bukit barisan sana “Dahulu tatkala awak tak berpunya, tak bekerja, hanya memadati labuah di kampung saja kerja kami. Tak ada seorangpun yang berkenan akan kami, tak ada satu keluargapun berkeinginan meminang kami hendak menjadi menantu. Setelah mendapat surat sakti dari pemerintah (pegawai), maka barulah berdatangan berbagai pinangan dari keluarga kampung kita. Astagfirullah engku, kenapa uang menjadi patokan bagi orang-orang dalam memandang orang lain..?” serunya penuh amarah.

Fahamlah kami “Benar engku, begitulah keadaannya. Kata orang mencari jodoh itu dikatakan susah tidak, mudahpun tidak. Kita suka, dia tak hendak. Dia suka, kita pula yang enggan. Namun harus dijalani jua, bersabar sajalah kita engku, sama-sama berdo’a kita semoga mendapat yang terbaik jualah dari Allah hendaknya..”

“Amiin..” jawabnya.

Hari telah beranjak siang, embun yang semula pekat telah merenggang. Orang-orangpun telah banyak yang berlalu-lalang. Akhirnya kami putuskan untuk menyudahi ota[10] kami. Setelah saling berjanji untuk saling mengabari, kamipun berpisah. Dia hendak ke hilir, kami hendak ke mudik.


[1] Sebuah jalan panjang dimana kanan dan kirinya ialah kawasan persawahan ataupun ladang.

[2] Motor

[3] Ngobrol, bercakap-cakap.

[4] Ngotot..

[5] Secara harfiah berarti matang atau indah.

[6] Ampo bareh ialah beras yang sudah tidak utuk lagi, sudah terpotong kecil-kecil tatkala menumbuk (menggiling).

[7] Celana pendek yang memperlihatkan pangkal paha, sangat lazim bagi anak gadis remaja saat ini.

[8] Keluarga ayah..

[9] Hanyut.

[10] Obrolan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s