Pengalaman dengan Nyonya Bule_Bagian 2

Gambar Ilustrasi: Internet

Gambar Ilustrasi: Internet

Ini ialah lanjutan dari kisah kawan kami yang dahulu, perihal pelancong nyonya bule yang datang ke kota tempat ia bekerja. Silahkan disimak lanjutan kisahnya..

Nyonya bule yang kami pandu rupanya seorang pandeka, begitu saya menyebut kepadanya. Dia telah lebih dari 25 tahun belajar silat namun sambil merendah dia menyebut “Masih sebagai pemula..”

Kalau tak salah dia sudah sabuk hitam. Tatkala saya tanyakan kepadanya “Kenapa nyonya sampai mau belajar silat..?”

Diapun menjawab “Karena saya  lihat gerakannya begitu indah, selain itu falsafah dari silat bukanlah untuk menyerang apalagi membunuh melainkan mempertahankan diri. Sangat berbeda dengan ilmu beladiri yang lain yang bertujuan menyerang, melumpuhkan, dan bahkan membunuh..”

“Ya.. benar nyonya, ada seni dalam ilmu silat, kami menyebutnya dengan pencak, maka jadilah Pencak Silat..” balas saya.

“Namun saya sangat berkecil hati tatkala saya tengok di negeri ini sangat jarang orang mempelajari silat..” serunya sedih.

Kamipin terkesiap “Karena mereka menganggap ilmu ini tak berguna, kalah dari ilmu beladiri yang lain nyonya..”

“Kenapa..?” tanyanya

Gambar Ilustrasi: Internet

Gambar Ilustrasi: Internet

“Karena orang Timur ingin maju serupa Barat, ingin mengejar ketertinggalan. Tak hendak disebut pandir, bodoh, terkebelakang, dunia ketiga, dan lain sebagainya..” jawab kami.

“Ya.. tapi kenapa..?” tanyanya gigih.

Sayapun terkenang dengan jawaban lama tatkala masih kuliah dahulu “Karena mentalitas nyonya.. Orang Timur meanggap Barat ialah pusat dari kemajuan..” sambil menggeleng dia terus mendengarkan.

“Dan apabila hendak maju, maka tirulah Barat dan tinggalkan Timur..” kata-kata terakhir kami ucapkan bersamaan. Dia kelihatan sedih…

“Padahal tidak begitu, orang Barat tidak merasa seperti yang kamu baru ceritakan..” ujarnya lirih.

Begitulah kisah kawan kami pada petang hari itu, kamipun berujar padanya “Banyak orang Kulit Putih yang berpendapat serupa dengan nyonya bule itu engku. Namun tampaknya hati orang kita telah keras dan dibutakan akan yang baik. Budaya Lama peninggalan Ninik-ninik kita dicemooh dan ditinggalkan..”

“Benar engku, sudah buta mata zahir dan mata bathin mereka, telah pekak telinga mereka. Tengoklah nyonya bule itu datang ke negeri kita hanya hendak mencari guru minta diajarkan silat lama. Kalau orang yang tahu jo raso, tentulah akan malu dibuatnya..” putus kawan kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s